Lamunan Terakhir

Perempuan itu masih saja duduk sendiri. Tangannya menggenggam secangkir kopi hangat di hadapannya. Sesekali jemarinya bergerak memutari tepian cangkir, sementara matanya menatap menjauh. Lamunan pikiran membawanya berimajinasi. Berharap lamunan itu akan membuatnya terkenang akan masa lalunya.

Perempuan itu sungguh menikmati suasana. Kafe bernuansa kecoklatan, dikelilingi oleh buku-buku, seakan-akan menciptakan ruang pribadi untuk dirinya melamun. Alunan musik lembut sayup-sayup terdengar, menambah keasyikannya menyendiri.

Perempuan itu memandang ke luar jendela. Bulan bersinar terang. Kabut tipis terlihat menerawang di batas langit, membuat warna langit terlihat mengungu. Waktu tanpa terasa berjalan bagi perempuan itu. Lamunannya terus membawa dirinya kemanapun yang ia inginkan. Tanpa batas. Hingga jam besar di kafe berdentang lima kali.

Perempuan itu pun sadar kalau ia sudah terlalu lama hanyut dalam lamunan. Warna langit mulai berubah. Ungu perlahan tegantikan oleh cahaya jingga. Diteguknya sisa kopi. Ia membuka jendela, membiarkan cahaya matahari masuk dan perlahan menghangatkan kulitnya.

“Terima kasih ya atas kenangan manis yang telah Kau berikan kepadaku selama ratusan tahun ini.”

Di dekat jendela kini teronggok kumpulan abu yang langsung terbersir oleh hembusan angin pagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge