Perbedaan

Sejak aku lahir, aku tak pernah keluar rumah. Aku juga tak pernah melihat orang tuaku membuka pintu rumah. Jendela rumah kami selalu tertutup rapat. Kami semua selalu tinggal dalam gelap. Orang tuaku tak pernah membiarkanku keluar dari rumah selama 8 tahun ini. Mereka selalu bilang, kami sekeluarga berbeda dengan orang kebanyakan. Kalau ada dari kami yang terlihat oleh warga sekitar, mereka tak akan sungkan-sungkannya memburu dan membunuh kami semua.

Aku sendiri heran, apa sih sebetulnya yang membuat orang lain bisa membenci kami? Apakah karena warna kulit kami? Memang kulit kami sungguh pucat, tapi itu karena kami tak pernah melihat sinar matahari. Kalau aku berkaca, kecuali warna kulit, aku tak melihat hal yang aneh dari diri kami. Aku rasa, aku tak berbeda dengan manusia lainnya.

Lama-lama rasa penasaran dalam diriku pun memuncak. Malam ini aku mengambil resiko. Aku putuskan untuk keluar dari rumah. Aku buka pintu perlahan-lahan, sambil memastikan kedua orang tuaku tidak terbangun. Kututup pintu, dan aku pun melangkah menjauh dari rumah. Jantungku berdegup. Rasa penasaran sungguh menutupi rasa takutku. Betapa senangnya aku kini bisa melihat cahaya rembulan.

Aku mengusap-usap mata membiasakan diri untuk bisa melihat jauh. Mataku masih tidak fokus karena terbiasa melihat dalam gelap. Aku memandang lurus ke depan dan melihat sebuah cahaya api yang tak terlalu jelas. Rasa penasaran ini mengalahkan jantungku yang berdegup kencang. Penasaran aku berjalan mendekati sumber cahaya itu. Aku berjalan sambil terus membiasakan penglihatan mataku. Tiba-tika aku langsung terkejut oleh teriakan.

“Mata Dua!! Masih ada Mata Dua di kampung kita! Serbu! Bunuh!!”

Mataku langsung terfokus pada cahaya obor yang ternyata dipegang oleh seseorang. Aku tersentak saat melihat wajahnya. Aku refleks berlari. Orang itu hanya memiliki satu mata, bundar di tengah kepala.

One thought on “Perbedaan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge