76 Tahun Sekali

1986, di sebuah warung tegal.

Fani terlihat sibuk melayani pelanggannya. Wajar saja, waktu sudah menjelang makan siang, apalagi warteg milik keluarganya ini adalah warteg terfavorit di tepian jalan Ciputat Raya. Meski panas, tak ber-AC, warteg ini memang terkenal karena menunya yang sangat bervariasi dan harganya yang murah. Fani pun dikenal sebagai orang jujur dan pekerja keras, hal penting yang membuat semua pelanggan tetap percaya kepadanya.

Pengunjung warteg ditemani oleh suara dari televisi yang menayangkan berita siang. Pembawa berita bercerita kalau malam itu komet Halley akan kembali melintas mendekati bumi. Komet yang hanya muncul setiap 76 tahun sekali ini agak sulit dilihat oleh mata, karena posisinya kini berada di balik matahari. Namun pastinya akan menjadi studi para astronom sedunia untuk pembelajaran fenomena alam semesta.

Seorang pemuda terlihat memasuki warteg, dan langsung terpaku akan berita di televisi.

“Mas mau pakai apa?” tanya Fani mengejutkan lamunan pemuda tersebut.

“Eh maaf Mbak,” jawab si pemuda. “Aku minta nasinya setengah saja. Lalu sayur asem. Minta teri dan telor dadar juga ya.”

“Minumnya apa, Mas?” tanya Fani sambil mengisi piring dengan menu pesanan dari rak kaca di hadapannya.

“Es teh manis saja, Mbak. Soalnya udaranya panas banget.”

Pemuda itu duduk di bangku yang berada persis depan rak kaca makanan. Ia menerima es teh manis buatan Fani.

“Terima kasih, Mbak. Wuih, wartegnya ramai sekali ya?”

“Iya, Mas. Setiap siang selalu seperti ini. Mungkin karena banyak pelanggan yang sudah lama, bahkan sejak ibu saya yang dulu mengelolanya.”

Fani menjawab pertanyaan pemuda itu dengan ramah, namun tangannya tetap sigap mengambilkan menu untuk pelanggan lainnya.

“Ibunya di mana sekarang, Mbak?” tanya si pemuda sambil asyik menyuap nasi dari piringnya.

“Ibu saya sudah meninggal dua tahun lalu, Mas. Sekarang saya yang mengelola warteg ini,” jawab Fani.

“Oh, maaf Mbak, saya nggak tahu…” pemuda itu menunduk. Ia melihat Fani mengenakan leontin perak berbentuk lingkaran. Ada grafiran mirip tulisan di atasnya.

“Nggak apa-apa kok, Mas,” Fani tetap tersenyum.

“Maaf, Mbak, kalau saya terdengar mengganggu. Saya tadi memperhatikan leontin yang Mbak pakai. Apakah Mbak tahu tulisan yang tergrafir di atasnya?”

Tiba-tiba Fani menaruh piring yang sedari tadi ia pegang. Ia lalu memegang leontin yang dikalungkannya setiap hari.

“Kenapa memangnya, Mas?” Fani mulai curiga.

“Saya sempat belajar Bahasa Sumeria, Mbak. Sepertinya tulisan di leontin itu huruf Sumeria.”

Fani agak ragu dengan perkataan pemuda itu, meski di balik batinnya ia punya rasa penasaran. Leontin ini adalah peninggalan ibunya, dan neneknya lagi sebelum itu. Saat ibunya meninggal, leontin ini menjadi miliknya, seperti ibunya mendapatkan warisan leontin ini dari nenek Fani. Ibunya sendiri cuma berpesan agar Fani selalu mengenakannya setiap saat. Hingga kini Fani sendiri tidak pernah paham arti coretan grafir di leontin itu.

“Dilihat dari sini saja ya, Mas,” Fani menunjukkan leontin itu di depan wajah si pemuda.

“DAMKIANNA,” kata si pemuda.

“Kenapa, Mas?” tanya Fani.

“Damkianna. Itu tulisan di leontin Mbak. Terjemahan bebasnya ‘Putri Bumi dan Surga’. Mbak punya leontin unik, mengingat sudah tidak ada lagi bangsa di bumi ini yang menggunakan Bahasa Sumeria. Jaga baik-baik ya, Mbak.”

“Hmm, terima kasih, Mas,” Fani penasaran, apa maksud kata-kata itu bagi dirinya ya? Kenapa neneknya, lalu ibunya mewariskan leontin ini kepadanya, tanpa pernah menjelaskan artinya?

“Oh ya, jadi berapa ini semua?” si pemuda itu mengagetkan Fani dari lamunan.

“Sebentar, nasi, sayur, teri, telor dadar ya? Seribu dua ratus rupiah, Mas.”

Pemuda itu mengeluarkan uang dari dompetnya dan berjalan ke luar warteg.

“Terima kasih ya, Mbak. Sukses untuk wartegnya,” kata si pemuda sambil tersenyum senang.

“Kembali, Mas. Mampir-mampir lagi ya…” seru Fani.

Di luar warteg, pemuda itu menatap sekali lagi ke arah Fani, lalu lanjut melangkahkan kaki. Ia membuka kerah bajunya dan mengeluarkan leontin berwarna perak dari baliknya. Leontin ini persis serupa dengan yang tadi dikenakan oleh Fani. Sambil memegang erat leontin, pemuda itu berkata perlahan.

“Nia, cucu kita telah dewasa sekarang. Meski aku cuma bisa ke bumi setiap 76 tahun sekali, aku senang generasi penerus kita lahir sebagai generasi yang jujur dan pekerja keras. Bumi ternyata masih punya harapan.”

Pemuda itu melirik kembali ke arah warteg, lalu sekilas cahaya terang menyelimutinya.

“Terima kasih, Fani,” dan pemuda itu pun lenyap.

One thought on “76 Tahun Sekali”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge