Kolam Api

Kolam api terhampar luas. Merah menyala terang. Jilatan lidah api laksana ombak di laut. Kadang meninggi menyentuh kaki-kaki manusia yang terikat di atas tiang-tiang pancang yang berdiri di atas kolam. Jeritan siksaan terdengar memilukan. Bau busuk terbakar sungguh menusuk. Jembatan sempit namun panjang bergantung di atas kolam, ujungnya tak terlihat. Ribuan manusia antri di atasnya, menunggu giliran siksaan.

“Sebelum kita menerima siksaan serupa, bolehkah aku berkenalan dengan Anda?” tanya seorang pria berusia 40-an tahun. Badannya terlihat hancur hampir tak berbentuk. Wajahnya rusak penuh memar dan bekas darah. Ia menyapa orang di hadapannya.

ARRGGGHHH…“ suara teriakan keras terdengar dari kolam, diikuti dengan bau busuk belerang terbawa angin ke arah antrian.

“Oh, hai. Nama saya Feri,” pria berkacamata itu membalikkan badannya. Bajunya terlihat rapih, berpenampilan mentereng, meski terlihat bekas bercak darah di sekitar perutnya. “Anda siapa?”

“Nama saya Alfi,” katanya sambil menjabat tangan Feri.

“Feri, tidakkah Anda takut akan siksaan yang menanti kita?” tanya Alfi. Mulut Alfi terlihat bergumam di antara bengkak memar di sekitar wajahnya.

AARRGGGHHH…” kembali teriakan keras membahana.

“Hmm. Tidak juga,” jawab Feri datar. “Apa yang terjadi dengan wajah dan badan Anda?”

“Wajah dan badan saya rusak karena ditabrak habis oleh mobil,” jawab Alfi. “Mungkin supirnya mabuk. Badan saya terseret 100 meter sebelum akhirnya mobil itu menabrak tembok dengan saya terjepit di tengahnya.”

“Wow. Mengerikan,” masih tanpa ekspresi Feri berkomentar. “Lalu perbuatan apa yang membuat Anda terbawa ke neraka?”

“Itu ironisnya. Sebelum saya tertabrak mobil, saya memang baru saja menikam perut seorang pria.” Alfi menjawab dengan nafas memburu. “Ia berselingkuh dengan istri saya. Namun saya senang saat melihat ia mati kehabisan darah.”

AARRGGGHHH… AARRGGGHHH…” kali ini tedengar beberapa orang yang berteriak kesakitan berbarengan.

“Kalau Anda, apa yang membawa Anda ke neraka?” tanya Alfi penasaran.

“Dulu saya hidup sebagai kepala mafia. Selalu tersenyum saat melihat orang lain menderita.” Feri bercerita datar. Sejenak ia memandang tiang-tiang di atas kolam api. “Namun hidup saya tiba-tiba berakhir saat ada seorang maniak yang membunuh saya.”

“Hmm..” Alfi hanya bisa mendehem.

“Seorang maniak yang menuduh saya menyeleweng dengan istrinya. Seorang maniak yang berakhir mati tragis tertabrak sebuah mobil,” lanjut Feri.

“Maksud Anda?” nafas Alfi memburu.

“Ya, Andalah yang membunuh saya!” ujar Feri. “Saat Anda meninggalkan saya di lorong gelap itu, saya masih sempat mengontak anak buah saya untuk mengurus Anda, sebelum akhirnya saya meninggal kehabisan darah.”

AARRGGGHHH…” teriakan keras kembali terdengar di belakang.

Alfi terkesima. Ia langsung mengambil ancang-ancang, sedikit mundur mendekati tepian jembatan. Ia bersiap menghadapi kemungkinan yang terjadi. Sebaliknya, Feri tetap terlihat tenang.

“Sudahlah, kita bukan di dunia lagi sekarang. Kita nikmati saja siksaan api neraka ini bersama-sama. Lagi pula sekarang kita statusnya sama, yakni sama-sama pembunuh. Kita anggap saja kosong-kosong, bagaimana?”

Feri mengulurkan tangannya. Alfi sedikit ragu, meski dalam hatinya merasakan ada kebenaran di balik kata-kata Feri. Alfi pun akhirnya ikut mengulurkan tangannya, menjabat kembali tangan Feri. Di luar dugaan, Feri memelintir tangan Alfi, menendang lututnya, dan dengan cepat mendorong tubuh Alfi hingga terjatuh dari jembatan.

AARRGGGHHH…” kali ini yang terdengar bukan suara orang tersiksa, melainkan suara Alfi yang terjatuh ke dalam kolam api.

“Hahaha… Menyenangkan juga rasanya ya kalau bisa membunuh 2 kali seseorang,” Feri tersenyum lalu melanjutkan antrian siksaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge