Keputusan Penting dalam Hidupku

Malam itu terasa menyenangkan. Bulan purnama kuning terang terlihat tinggi di jendela loteng. Bintang-bintang bertaburan menghiasi langit yang membiru. Udara sejuk sesekali terasa menghembus masuk ke dalam ruangan. Aku melamun terbaring menatap loteng, memperhatikan bulan yang kini mulai sedikit tertutup awan. Tanganku merangkul Natalie yang dengan manja menggelayutkan tangannya di dadaku.

“Nat, terima kasih ya kamu mau menemaniku malam ini,” ujarku.

“Ah Will, kamu bisa saja. Kapan sih aku pernah meninggalkanmu?” Natalie berkata manja.

“Hmm, belum pernah sih,” aku mendekatkan Natalie ke badanku. Kukecup kening Natalie.

“Will, tahukah kamu sudah berapa lama kita bersama?” mata Natalie menatap mataku dengan manja. Aku selalu suka kala Natalie menatapku seperti ini, membuat diriku terasa penting bagi dirinya.

“Hmm, baru setahun bukan?” kataku bercanda.

“Ah kamu suka sok lupa deh. Besok kan sudah hari jadi kita yang kelima, Will.”

“Haha, tentu saja aku ingat, sayang.”

Aku lalu mengangkat badanku, mencoba duduk di tempat tidur.

“Nat, kita kan sudah lama berpacaran. Hubungan kita sudah sangat serius. Melanjutkan apa yang kita bicarakan minggu lalu, apakah kamu sudah siap kalau kita sekarang melangkah lebih lanjut?”

Natalie pun ikut terbangun. Ia duduk menghadapku di atas tempat tidur, tersenyum. Senyuman nakal yang sangat khas dan membuatku ingat selalu akan dirinya.

“Will, apa lagi yang harus aku katakan? Aku mencintaimu. Aku tak akan bisa hidup tanpa dirimu. Kamu sudah menjadi bagian dari diriku.”

“Jadi, kamu sudah siap?” tanyaku. “Karena keputusan ini adalah sesuatu yang sangat penting bagi diriku, dan tentunya juga bagi dirimu. Keputusan yang tak akan bisa kita batalkan lagi sepanjang hayat hidup kita.”

“Aku sudah lama memikirkan hal ini, Will,” jawab Natalie. “Ya, kali ini aku siap. Aku sudah yakin akan pilihan ini. Hal apapun yang nanti kita hadapi, aku percaya kita akan bisa menjalaninya bersama dengan penuh cinta.”

Aku pun memegang kedua pundak Natalie. Tersenyum. Wajah Natalie tak menunjukkan keraguan sedikit pun. Aku melihat tekadnya kini sudah mantap.

“Terima kasih, Natalie. Aku berjanji tak akan mengecewakanmu.”

Aku mendekatkan tubuh Natalie ke diriku. Kukecup bibirnya hangat. Mata Natalie pun terpejam. Kugerakkan bibirku turun. Menciumi dagunya, lehernya dengan mesra.

Aku angkat bibirku sejenak. Kubuka mulutku, dua taring tajam muncul perlahan, dan dengan cepat kugigit leher Natalie hingga darah merah segar terlihat mengalir. Kuhisap darahnya dengan perlahan. Lalu aku kembali mencium bibirnya, mengalirkan darah yang bercampur dengan ludahku ke bibirnya. Mata Natalie masih terpejam. Aku merasakan badannya mulai melemas. Aku rebahkan dirinya perlahan di tempat tidur.

“Natalie, kuucapkan selamat datang di duniaku…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge