Sutan dan Koin Emas

Sutan berlari menembus padang ilalang tinggi yang senyap. Tangannya menyeruak daun-daun panjang, menyingkirkannya dari pandangan. Nafasnya terengah-engah. Sesekali ia menatap ke belakang. Melihat dirinya semakin jauh meninggalkan para pengejarnya. Tetap ia tak berhenti. Semakin jauh ia berlari ke tengah padang ilalang, semakin kecil kemungkinan ia akan ditemukan.

Beberapa kali Sutan menahan sakit, saat bersinggungan dengan beberapa tanaman berdaun panjang dan runcing. Luka-luka tipis terasa di sekujur tangannya yang tak berbaju itu. Perih rasanya. Ia mengabaikan rasa sakit itu. Sutan tahu, kalau sampai ia tertangkap, hukuman siksa yang lebih kejam akan diterimanya. Minimal 10 cambukan rotan pasti akan dideranya. Belum lagi siksaan batin yang pasti akan menguras mentalnya.

Sutan tak ingin pengalaman lamanya berulang. Satu kali tertangkap karena merampok pedagang pasar sudah cukup. Kini ia baru saja mencuri koin-koin emas milik seorang pangeran kaya. Godaan kilauan koin-koin itu memang luar biasa. Sutan merasa bodoh karena sekali lagi hatinya tergoda untuk bisa memiliki koin-koin itu untuk dirinya. Saking bodohnya sampai ia tak membuat perencanaan panjang. Setelah mengambil koin-koin emas yang tergeletak begitu saja di atas meja, pikiran pertama Sutan hanya satu. Lari sekencang-kencangnya!

Untungnya Sutan punya kelebihan dalam hal fisik. Ia punya stamina kuat untuk berlari sejauh mungkin dan selama mungkin. Tak terasa ia sudah berlari lebih dari dua jam, dari kota, menyusuri padang pasir, hingga sampai ke padang ilalang tinggi ini. Beberapa pengejarnya pun terlihat sudah mulai menyerah. Kuda-kuda yang mereka tunggangi pun sudah terlihat capai. Memasuki padang ilalang, para pengejarnya lanjut dengan berjalan kaki. Dengan pedang mereka tebas alang-alang yang menghalang. Tetap saja, Sutan sudah jauh berada di depan meninggalkan mereka.

Semakin masuk, tanaman-taman berdaun panjang dan runcing itu semakin banyak. Tak terhitung sudah berapa banyak luka yang diterima Sutan. Telapak kakinya pun mulai terasa sakit. Alas sepatu tipis tak menolongnya saat melewati tanah berbatu. Tak tahan lagi, Sutan berhenti sejenak. Mengambil nafas panjang dan mengamati kedua lengannya. Parah sekali, ujarnya dalam hati. Ia mengecek sabuk kain yang mengikat pinggangnya. Koin-koin emas itu masih tersimpan aman.

“SRRRGGG!” terdengar suara kemerusuk di kejauhan.

Sutan siaga. Apakah itu suara para pengejarnya? Ia menundukkan kepala, menutupi badannya di balik ilalang. Sutan bergerak perlahan mendekati suara itu.

“SRRGGGG!” suara kemerusuk itu mengeras, kini terlihat sulur-sulur besar terangkat dari balik tingginya ilalang. Sutan menahan nafas, lalu membenarkan sabuk kainnya. Gemerincing koin emas masih terdengar di dalamnya. Ia lalu memberanikan diri mendekat.

Sulur-sulur besar itu berwarna hijau gelap menyerupai tangkai tanaman. Bundaran raksasa berbentuk seperti telur terlihat menjadi mahkotanya. Tangkai-tangkai itu terangkat, memamerkan telur besarnya masing-masing di ujung tangkai. Telur ini terlihat transparan, dengan bayangan yang tak terlalu jelas bentuknya terlihat di baliknya. Sutan mengernyitkan dahi. Ia belum pernah melihat tanaman seaneh dan sebesar ini. Melihat ke kiri dan kanan, sebelum Sutan semakin jalan mendekat. Ilalang di sekitar tanaman raksasa tak seberapa tinggi, memudahkan dirinya untuk berjalan mendekat.

Sutan melihat takjub. Lebih detil ia memperhatikan tangkai tanaman raksasa itu. Lumut hijau bercampur lendir melapis batang tangkai yang terlihat kokoh. Tangkai ini langsung tertanam di tanah. Sutan menduga akar tanaman ini pasti sangatlah dalam. Ia mengamati kelopak berbentuk telur itu. Di balik warna gadingnya, Sutan bisa melihat isi telur raksasa itu. Ia pun tersentak.

Sutan mundur. Kedua tangannya menutup mulutnya, seakan menahan dirinya untuk tidak menjerit. Bayangan yang ia lihat tidak terlalu jelas sebelumnya ternyata adalah manusia. Sutan kembali maju perlahan, memberanikan dirinya, meski jantungnya berdegup kencang tak terkendali. Seorang perempuan berwajah manis terlihat terkurung di dalam telur itu. Badannya tergeletak menyandar ke dinding telur. Sutan tak bisa menduga apakah perempuan ini masih hidup atau tidak.

Tangan Sutan pun meraba dinding telur. Ia merasakan jari-jarinya menyentuh lapisan membrannya. Permukaannya terasa lunak, meski sedikit berlendir. Tiba-tiba dinding itu terasa bergetar. Sutan pun menarik kembali tangannya. Di balik dinding, perempuan itu membuka matanya perlahan. Sejenak ia terlihat bingung, lalu teriak. Sutan tak bisa mendengar teriakan perempuan itu. Dinding membran telur itu rupanya membatasi keluarnya bunyi. Ekspresi perempuan itu terlihat takut. Kedua tangannya memukul-mukul dinding, lalu mencakar-cakarnya, mencoba berdaya upaya untuk keluar dari kurungannya.

Si perempuan baru tersadar kalau ia melihat Sutan di balik kurungannya. Ia terlihat berteriak dan menunjuk-nunjuk Sutan. Ia mencoba menyampaikan sesuatu, namun apa daya suaranya tak terdengar sama sekali. Sutan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia pun bingung, apa yang seharusnya ia perbuat. Sutan bisa saja diam di situ dan mencari cara untuk menolong perempuan itu, namun resikonya para pengejarnya akan bisa menangkapnya. Dilema.

Bukan Sutan namanya kalau ia tergesa-gesa mengambil keputusan. Ia memegang sabuk kainnya kembali. Gemerincing koin emas mengingatkannya kalau ia harus segera berlari sejauh-jauhnya. Sutan sekali lagi menggeleng, menunjukkan kepada perempuan itu kalau ia tak bisa membantu. Si perempuan terlihat kesal. Kedua tangannya terus memukul-mukul dinding.

Sutan memalingkan kepalanya, mencoba mengacuhkan si perempuan. Ia berjalan mengelilingi tanaman raksasa itu. Sutan memperhatikan masih ada dua tangkai lainnya, dengan masing-masing telur berwarna gading serupa di ujungnya. Jantungnya berdebar, mengamati isi dinding masing-masing telur yang juga transparan. Telur satunya terlihat kosong. Ia berjalan ke telur terakhir, dan melihat kilauan cahaya kuning di baliknya.

Niatan Sutan untuk beranjak pergi tertunda. Penasaran, Sutan mengamati isi telur yang berkilau itu. Matanya langsung berbinar saat melihat ratusan, mungkin ribuan, koin emas bertumpuk di dalam telur itu. Sutan mendadak lupa untuk pergi secepatnya dari tempat itu. Kilauan emas tak bisa lepas dari tatapan matanya. Kedua telapak tangannya memegang dinding telur, merasakan koin-koin yang mendesak dinding membran.

Sutan memukul-mukul dinding, mencoba menghancurkannya. Percuma. Ia sudah melihat perempuan tadi mencoba melakukan hal serupa dari sisi dalam, tanpa hasil. Sutan menguras otaknya. Kalau sudah berhubungan dengan koin emas, ia mau memaksa dirinya untuk berpikir. Sutan melihat padang ilalang tinggi yang berada di sekitarnya. Ia melihat tangan-tangannya yang tadi sempat terluka saat mengarungi padang ilalang itu.

Dengan cepat Sutan kembali berlari ke arah padang ilalang, ke arah tempat ia datang sebelumnya. Ia mencari tanaman berdaun panjang dan runcing yang sempat melukainya. Dengan hati-hati, ia mencabut salah satu tanaman itu. Saat kembali, matanya sempat bertatap dengan perempuan yang terkurung di dalam telur. Wajah si perempuan terlihat mengiba minta tolong. Sutan melihat sejenak tanaman berdaun runcing yang kini ada di genggamannya. Matanya kembali menatap si perempuan. Diam, namun pikirannya kembali ke tumpukan koin di telur lainnya.

Sutan pun beranjak meninggalkan perempuan itu, menuju telur yang berkilau emas. Digoreskannya daun-daun tanaman yang ia pegang ke dinding telur. Pertama ia tak melihat hasilnya. Sutan terus mengulang-ulang menggoreskan daun tanaman itu. Membran dinding telur itu mulai melemah karena goresan. Sutan pun tersenyum senang. Pikirannya sudah mengelana jauh, membayangkan dirinya kaya menjadi seorang pangeran di tanah seberang. Tempat di mana ia akan menjadi penguasa dan semua warga akan menyembah sujud dirinya. Imajinasi liar yang membuat Sutan semakin bersemangat menggoreskan daun tanaman. Ia bahkan sampai tak merasakan darah mengalir dari telapak tangannya saat tergores berkali-kali oleh sisi runcing daun.

Membran dinding itu pun merekah. Kilauan emas semakin terlihat jelas dari balik dinding yang telah berlubang. Tawa Sutan menggelegar kencang. Matanya terlihat berbinar memantulkan kilauan emas. Ia jatuhkan tanaman berdaun runcing dari genggamannya.

Tawa Sutan tak berlanjut lama, berganti dengan jeritan yang tak kalah keras. Kilauan dari balik dinding telur ternyata perlahan-lahan pudar. Warna emas yang sebelumnya terlihat terang mulai meluntur. Koin-koin emas itu kini berubah, menjadi tak lebih dari sekedar besi plat tak berharga. Nafas Sutan memburu kencang. Kekecewaan jelas terlihat di wajahnya.

“SRRRGGG!” Sutan mendengar suara gemerusuk kembali. Ia menengok, dan melihat salah satu tangkai tanaman raksasa yang berisi telur kosong tiba-tiba bergerak ke arahnya.

Reaksi Sutan pertama kali adalah, segera lari dari ini! Ia membalikkan tubuhnya, melangkahkan kakinya kembali ke padang ilalang. Lari, lari, dan terus berlari, pikirnya. Tangkai tanaman itu bergemerusuk lebih cepat, menggerakkan batangnya yang besar menyeret tanah. Begitu cepatnya hingga bisa mengejar Sutan yang berlari sambil menjerit-jerit.

Kepala tanaman yang berbentuk telur mulai terlihat membuka. Membran dinding telur terlihat mengelupas, sementara tangkainya tetap bergerak cepat mengejar Sutan. BRAK! Sutan pun terjatuh ke tanah, kaki-kakinya tertangkap oleh tangkai tanaman raksasa. Dengan paksa, tanaman itu menarik kaki Sutan, menyeret Sultan di tanah. Wajah Sutan terlihat penuh dengan kepanikan. Jeritan ketakutan pun membahana kencang menembus padang ilalang, hingga akhirnya hilang.

Tanaman raksasa itu telah mengurung Sultan ke dalam salah satu telurnya. Dinding membran telur dengan cepat menutup setelah Sutan berada di dalamnya. Teriakan Sutan kini tak terdengar. Hentakan tangan dan kaki Sutan di dalam telur juga tak meninggalkan bunyi. Sunyi senyap pun kembali terasa di padang ilalang.

Dari balik dinding telur, Sutan mulai menyerah. Ia telah capai berteriak dan memukul-mukul. Kini ia hanya bisa terduduk lemas. Menunggu nasib. Tangannya refleks memegang pinggang, mencari sabuk kain yang dikenakannya. Wajah Sutan semakin terlihat pucat. Sabuk kainnya sudah tidak ada! Ia tak merasakan lagi gemerincing koin emas di pinggangnya.

Barulah Sutan teringat akan perempuan yang juga terkurung di telur lainnya. Kalau ia bisa berkomunikasi dengan perempuan itu, mungkin saja ada jalan bagi mereka untuk keluar dari sini. Sultan memutar badannya, mencari telur yang berada di sekelilingnya. Melalui dinding membran transparan yang mengurungnya, ia melihat telur yang sebelumnya ia rusak kini sudah tertutup kembali. Tanpa bekas luka sama sekali.

Sutan mencari telur satunya. Ia menempelkan wajahnya ke dinding membran, untuk melihat lebih jelas. Telur satunya masih ada, hanya saja kini tidak ada perempuan di dalamnya. Tidak ada yang terlihat menjerit dan memukul-mukul seperti sebelumnya. Apakah tanaman itu telah memakannya? Sutan bergidik membayangkannya.

Tiba-tiba ketukan tipis terasa di belakangnya. Sultan membalikkan badan dan terkejut. Perempuan manis yang ia lihat sebelumnya terkurung, kini berdiri dengan santainya di luar dinding. Senyumnya terlihat sinis. Sutan pun berteriak minta tolong. Ia berteriak sekencang mungkin, meski sebenarnya ia tahu dinding membran telur ini membatasi suaranya keluar sama sekali. Sutan kini merasakan apa yang dirasakan perempuan itu sebelumnya. Menjerit keras tanpa dipedulikan.

Si perempuan mengambil sesuatu dari tanah. Sabuk kainnya! Ia menggoyang-goyangkan sabuk, lalu melihat isinya. Perempuan itu pun terlihat tertawa. Si perempuan mengacungkan sabuk itu ke hadapan Sutan. Kilauan koin emas terlihat keluar dari balik sabuk. Sutan berteriak marah. Dengan emosi, ia meminta agar perempuan itu tidak mengambil miliknya.

Si perempuan hanya mengangkat bahunya. Dengan santainya ia mengenakan sabuk kain itu di pinggangnya. Sejenak ia berdiri santai menatap Sutan. Ia lalu melambaikan tangannya ke Sutan. Tersenyum, lalu membalikkan tubuhnya meninggalkan Sutan yang terkurung.

Sutan hanya menatap si perempuan dari kejauhan. Teriakan-teriakannya tak berguna sama sekali. Sutan pun kembali duduk, badannya terasa lemas, batinnya menjerit kesal. Ia mengumpat dan memaki dirinya sendiri. Sebal mengapa ia bisa terperdaya oleh godaan ribuan koin emas palsu.

Panas pun berganti hari. Sutan tetap terkurung di dalam telur, duduk termenung. Segala upaya ia coba semalam suntuk untuk keluar dari kurungannya ini. Semua tanpa hasil.

Siang itu Sutan melihat tanaman-tanaman di padang ilalang bergerak. Ada orang yang bergerak menuju ke arahnya dengan perlahan. Sutan duduk sabar menunggu. Tak lama, muncullah seseorang yang datang mendekat. Kedua tangannya memegang parang. Sepertinya ia membabat habis ilalang yang menghambatnya, hingga akhirnya ia bisa sampai ke sini.

Bibir Sutan terukir senyum. Ia mengenalinya sebagai salah satu pengejarnya. Kali ini ia tidak lagi merasa takut. Justru ia merasa senang, karena kinilah saatnya Sutan bisa meraih kebebasan, atas penderitaan orang lain.

2 thoughts on “Sutan dan Koin Emas”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge