Harapan di Akhir Masa

Tami berjalan terseret-seret di atas reruntuhan puing. Sisa-sisa kekacauan masa lalu meninggalkan rekam jejaknya hingga kini. Gedung-gedung yang tak lagi berjendela, bahkan tak berdinding merupakan pemandangan biasa. Jalan besar yang konon dahulu dilalui kemacetan kini tampak sunyi. Sisa-sisa mobil berserakan tak beraturan, dengan debu tebal menempel kering sejak lama di permukaannya. Debu kering bertiup setiap saat. Panas udara benar-benar tak tertahankan, sungguh menyakiti kulit.

Di balik kacamata hitam tebalnya, Tami menatap langit yang berwarna merah pucat. Warna kematian yang membinasakan keluarga dan sahabat Tami satu demi persatu. Tami merapihkan syal yang menutup mulut, menjaganya dari angin panas kering yang menusuk. Bajunya terlihat lusuh, penuh jahitan di segala sisi. Tambalan seadanya terlihat pada sambungan lengan yang menutupi seluruh tangannya dari siksaan matahari. Sarung tangan tebal menutup kedua telapak tangannya. Badan Tami tertutup sepenuhnya dari ujung kaki hingga ujung rambutnya yang kucel tak terawat.

Kaki Tami yang luka membuatnya tak bisa berjalan cepat. Ia bergerak perlahan menyeret kakinya satu persatu. Beban ember tertutup berisi air yang dipegang di tangannya ikut menambah sulit geraknya. Air sudah menjadi bahan langka dan mahal. Tami berjalan perlahan, menjaga tak ada isi ember yang tertumpah.

Melewati gundukan puing-puing kehancuran, Tami terus berjalan terseret. Ia melewati tempat yang tertutup oleh pagar seng berkarat. Warna merah matahari memantul silau di beberapa bagian permukaan pagar itu. Salah satu sudut pagarnya terlihat berlubang di bagian bawah, cukup dilewati oleh badan Tami yang mungil. Tami mendorong embernya masuk ke dalam lubang, lalu ia pun ikut menyusul masuk.

Permukaan tanah di dalam pagar terlihat kering dan retak-retak. Kulit tanah terlihat pucat seakan kematian siap merenggutnya. Tami mengangkat kembali embernya, lalu berjalan menyusuri pagar hingga sampai di salah satu sudutnya. Bayangan tumpukan besi tua sedikit membuat sudut itu terasa teduh. Tami membuka penutup embernya. Air yang tak begitu jernih mengisi ember tersebut.

Sejenak Tami bimbang. Ia sungguh tergoda menikmati kesejukan air itu. Bukan, bukan ini tujuannya ke sini, pikirnya. Ia harus tetap bersiteguh akan niatnya.

Tami membuka sarung tangannya. Di balik keteduhan tumpukan besi tua itu, panas matahari masih terasa menusuk kulit telapak tangannya. Rasa panas yang langsung berganti dengan sejuk saat Tami mencelupkan kedua tangannya ke dalam ember. Di balik syalnya, Tami mengambil nafas panjang. Dengan kedua tangannya, ia mengambil air. Sangat perlahan air yang tertampung di telapak tangannya ia teteskan.

Sebuah bunga mawar terlihat mekar indah menerima tetesan air segar. Sebuah bunga di antara deretan bunga-bunga indah lainnya yang sudah dianggap musnah oleh manusia sejak ratusan tahun lalu. Tami pun bergantian meneteskan air hingga semua bunga mendapat ikut merasakan kesejukan.

Kamu hanyalah bunga, namun kamu juga adalah kehidupan. Kamu berhak mendapat hak hidup dan bertahan dari kiamat dunia. Aku percaya masih ada harapan bagi dunia yang rusak ini. Aku mau kita bersama menjadi bukti, kalau kehidupan tak akan pernah berakhir dari bumi.”

Ucapan yang selalu berulang kali terlontar dari hati Tami, setiap kali ia punya kesempatan untuk membantu makhluk hidup lainnya di bumi ini.

One thought on “Harapan di Akhir Masa”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge