Madam Penguasa

Perempuan itu tersenyum tipis. Matanya mengerling setajam elang. Wajahnya yang tertutup bedak tebal menutupi usianya yang sudah kepala empat. Bangku kayu jati tua menahan tubuhnya yang terduduk rileks. Asap tipis mengepul dari ujung rokok yang dipegangnya. Tato naga hijau terlukis di sekujur tangannya yang terlihat keras. Anak buahnya memanggilnya dengan sebutan Madam. Ada rasa kepemimpinan sekaligus hawa teror terasa dari gerak tubuhnya. Si perempuan menatap ke bingkai jendela yang terbuka lebar.

“CTAAAAR!!!”

Sabuk rotan itu memecut punggung seorang pria di halaman depan. Si perempuan kembali melemparkan senyum dari balik jendela. Tatapan matanya terlihat senang saat si pria menjerit kesakitan.

“AARGGHH.. Tidak, tidak…”

Si algojo pemegang sabuk rotan kembali mengambil aba-aba. Ia mengayunkan tangannya dan sekali lagi sabuk rotan itu berpecutan keras dengan punggung si pria.

“CTAAAAR!!!”

Si pria terduduk lemas. Kedua tangannya masing-masing terikat kencang di lintangan balok kayu. Ia sudah tak bisa menjerit.Yang bisa ia lakukan hanyalah memanfaatkan sisa tenaganya untuk mengambil nafas.

Si perempuan berdiri dari bangku jatinya. Sambil mengisap panjang rokoknya, ia menyampaikan bahasa isyarat dengan tangan kanannya. Asap mengepul dari mulutnya, diikuti dengan senyuman senang.

Di halaman depan, si algojo menganggukkan kepalanya. Ia lalu memainkan sabuk rotan, memecut-mecutkannya ke lantai dengan keras. Bunyinya sungguh menggeretakkan gigi. Si algojo lalu mengayunkan sabuk rotan di atas kepalanya, memutar-mutarnya beberapa kali sebelum mendaratkan pecutannya kembali ke si pria. Kali ini sasarannya bukan ke punggung, tapi langsung ke belakang kepala si pria.

“CTAAAAR!!!”

Si pria langsung jatuh tersungkur. Tak ada suara keluar dari mulutnya saat pecutan sabuk rotan terakhir itu merobek kepalanya. Darah mengalir membanjiri tanah.

Dari balik jendela, si perempuan dengan spontannya tertawa keras. Nada sadis suaranya terasa mengiris ulu hati saat tawanya berkumandang.

“Hahahahahaha… Selamat jalan suamiku! Semoga di neraka sana, kamu bisa sengsara bersama dengan selingkuhanmu! Hahahahahahaa…”

Si algojo menjatuhkan sabuk rotannya. Ia pun tersenyum senang. Dalam hatinya ia bergumam.

“Madam penguasa berhasil percaya akan hasutanku. Kini cinta Madam selamanya hanya untukku seorang.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge