Kenikmatan Akhir

Air rintik dari langit semakin lama semakin menderas. Lintang dan Sinta bertatap-tatapan sementara hujan membasahi pakaian mereka. Mereka saling merangkul hangat, abai akan hujan. Lama, seakan mereka tak ingin lagi berpisah.

Tangan Lintang bergerak naik, dari semula memeluk pinggang Sinta, kini menggenggam hangat lehernya. Mata Sinta terpejam, menunggu rasa hangat menyentuh bibirnya yang basah oleh hujan. Lintang menatap wajah manis Sinta, sebelum merasakan kehangatan bersama saat bibir mereka bersentuhan. Waktu terasa tak berarti bagi mereka berdua.

Segala hal yang nikmat suatu masa akan berakhir. Sinta pun melepaskan nafas terakhirnya dalam kehangatan, saat Lintang menggerakkan tangannya dengan cepat dan mematahkan tulang lehernya. Lintang menahan tubuh Sinta sebelum membiarkannya terjatuh di atas genangan. Tubuh Sinta tergeletak basah, leher tertekuk. Hujan semakin menderas saat Lintang melangkah pergi meninggalkan tubuh Sinta.

“Eh, Sinta mati? Nggak salah? Ini novel romantis atau apa sih?”

Aku mengeluh kesal sambil menutup novel roman picisan yang berjudul Kenikmatan Akhir. Pengarangnya memang nggak terkenal, yang sepertinya berupaya membuat sesuatu yang beda, tapi gagal. Aku kembalikan buku ini ke raknya. Aku merasa waktuku terbuang percuma selama dua jam berdiri membaca gratis di toko buku ini.

One thought on “Kenikmatan Akhir”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge