Kisah Malam Bus Antar-Kota

Aku menunggu lama dalam gelap, di tepian jalan perbatasan antar-propinsi. Tas ransel berat kutaruh di tanah. Pundak ini jadi ringan rasanya setelah tadi aku berjalan menyusur lembah selama tiga jam lamanya. Aku selenjorkan kakiku, menjaga agar darah tetap mengalir lancar. Satu demi satu mobil dan motor berlalu. Lampu mereka menyala terang sering menyilaukanku.

Sampai akhirnya yang kunantikan tiba. Lampu besar menyala terlihat di kejauhan. Sambil satu tanganku menutup mata dari silaunya sinar, tanganku lainnya melambai-lambai, meminta kendaraan itu berhenti.

Bus besar antar-kota antar-propinsi mendekatiku. Aku langsung mengangkat tas ranselku dan bersiap. Bus berhenti dan pintu depanpun terbuka. Seorang kenek menyapa selamat malam, dan mengajak aku masuk.

Aku mengangkat kakiku, menaiki pijakan, hingga aku masuk di dalam bus. Aku melihat pak supir yang serius menatap ke depan. Ia tak menyapaku sama sekali. Dalam keremangan ruang dalam bus, aku melihat sebuah kursi kosong di baris ketiga dari depan. Bus ini sepertinya penuh sekali, karena aku melihat bayangan-bayangan kepala memenuhi hingga kursi belakang. Aku pun duduk. Tas ransel terpaksa aku pangku, karena sudah tak ada ruang sisa lagi untuk menyimpannya di rak atas.

Aku mendengar pintu bus ditutup oleh kenek. Suara gas bus terdengar menggeram dan bus pun berangkat. Aku melihat orang yang duduk di sebelah kiriku. Seorang pria berkemeja batik usia empat puluh, yang tertidur pulas. Saatnya pula aku kini terlelap. Kelelahan mulai terasa seiring aku bersandar lama di tempat duduk. Tak terasa mataku pun terpejam.

Tak berapa lama aku menutup mata, suara-suara mendesis saling bersahutan terdengar di kepalaku. Seperti suara yang membawaku ke alam mimpi yang semakin dalam. Aku lalu mencium bau tak sedap. Bau belerang menyengat, menusuk hidung. Dalam pikiranku, mimpi ini semakin terasa nyata. Tiba-tiba pergelangan tangan kiriku terasa mendidih, seperti ada besi panas yang menempanya. Spontan aku menjerit, dan aku pun terbangun.

Refleks pertama yang aku ingat adalah kemananan tas ranselku. Aman, ternyata tas masih dalam genggamanku. Baru saat itu aku mulai merasakan perih yang sangat di pergelangan tangan kiriku. Dalam keremangan aku mencoba melihat tangan kiriku. Benar, pergelangan tanganku melepuh, seperti ada benda panas yang baru saja menyentuhnya.

Suara desis keras terdengar. Aku baru sadar suara tadi bukanlah berasal dari mimpi. Suara ini nyata. Desis bersahutan terdengar dari bangku belakang bus. Aroma tak sedap yang tadi kucium juga bukanlah mimpi. Bau menusuk tajam ini juga nyata, memenuhi seluruh isi bus. Aku mulai merasa tidak nyaman. Bulu kudukku mulai berdiri seiring bunyi desis semakin keras. Ada perasaan mencekam, membuat jantungku mulai berdegup kencang.

Suara desis lalu terdengar pula dari sisi kiriku. Datang dari pria yang duduk di sebelahku. Hawa panas terasa dari arahnya. Rasa takut mulai menyerang, mengalahkan rasa sakit di pergelangan tanganku. Aku menengok perlahan, berharap tak melihat sesuatu yang menyeramkan. Berharap ini masih bagian dari mimpi.

Spontan saja aku menjerit kencang. Sebelahku bukan lagi pria empat puluh tahun. Meski pakaiannya tetap kemeja batik yang sama, tapi wajah dan tubuhnya telah berubah. Kulit wajah pria itu melumer, dengan bercak-bercak gelembung menempel di daging yang tersisa. Bola matanya keluar menggelantung dari sisa wajahnya, menatap ke arahku. Sebagian tangannya terbalut api. Aku menduga pasti tangannya yang tadi memegang pergelangan tangan kiriku. Rahangnya membuka, dan berucap sesuatu. Namun yang bisa aku dengar hanyalah suara desisan.

Aku berdiri. Kujatuhkan tas ransel dari pangkuan, dan tak aku pedulikan lagi. Aku memandang ke belakang. Ruang dalam bus yang semula remang-remang kini perlahan terang. Bukan karena lampu, tapi karena cahaya yang bermunculan sedikit demi sedikit dari bangku belakang. Cahaya panas yang rupanya terpancar satu persatu dari para penumpang bus. Wajah mereka rusak, kulit mereka melumer, persis seperti pria di sebelahku tadi. Api perlahan-lahan membakar wajah mereka, beradu antara suara kulit terbakar dan suara desisan.

Bus berguncang kencang. Hawa dalam bus semakin panas. Aku tak bisa berkata apa-apa. Mau menjerit tapi tak bisa keluar satu kata. Aku membalikkan badan. Aku harus keluar dari bus ini. Segera. Aku berjalan ke arah depan. Penumpang di barisan depan tak berbeda. Bau belerang menyengat seiring terbakarnya wajah mereka. Desisan bergantian keluar dari setiap rahang mereka.

Bus kembali berguncang kencang. Aku tetap mencoba berjalan ke depan. Kenek masih berdiri di dekat pintu. Ia bisa tetap berdiri tenang meski bus berguncang-guncang. Wajahnya sama menakutkannya dengan penumpang bus lainnya. Kulit yang melumer dengan sebagian api menjalar dari tubuhnya.

Aku melihat supir bus yang kini juga ikut berubah. Wajah serius yang kulihat sebelumnya kini hilang tertutup oleh kulit yang melumer dari wajahnya. Beberapa bagian badannya terbakar api. Ia masih tetap menyetir bus, meski dua bola matanya jatuh bergelantungan keluar dari kepalanya. Mulutku kembali hendak menjerit, tapi rasa takut menghilangkan suara di tenggorokanku.

Gerakan bus ini terasa aneh. Ia terus saja berguncang meski jalan yang kulihat di hadapanku terlihat mulus. Guncangan semakin menjadi-jadi. Aku terlempar ke kiri dan ke kanan, dan terjatuh keras di lantai.

Lalu tiba-tiba saja guncangan berhenti dan bus tiba-tiba diam. Jantungku masih berdegup kencang, dengan rasa takut yang luar biasa. Aku mengangkat badanku, rasa nyeri terasa di badanku akibat kerasnya jatuhku tadi.

Kosong dan gelap. Aku melihat ke depan, supir dan kenek sudah tidak ada lagi. Aku membalikkan kepala dan melihat kursi-kursi yang kini juga sudah kosong. Tidak ada suara mendesis. Tidak ada bau belerang menyengat. Tidak lagi terasa hawa panas membakar. Seakan-akan yang tadi kulihat dan kurasakan hanya mimpi. Atau mungkinkah tadi mimpi?

Aku kembali berjalan ke tempat dudukku, mencari-cari tas ranselku. Tidak ada. Kutelusuri bangku-bangku di sekitarnya, juga tidak ada. Seakan ikut lenyap bersama penumpang lainnya.

Sudahlah. Aku tak peduli. Pikiranku saat ini hanyalah keluar sejauh-jauhnya dari mimpi buruk ini. Aku berjalan ke bagian depan bus, mencoba membuka pintu. Pintu bus berdenyit keras saat aku buka paksa.

Mimpi buruk ini ternyata belum berakhir. Begitu pintu bus terbuka, bau belerang menyengat kembali menusuk. Api besar menyambar-nyambar di kejauhan. Di luar aku mengenali si kenek bus. Terlihat para penumpang bus termasuk supir duduk berputar mengelilingi si kenek. Suara desisan terdengar keras bersamaan. Seakan-akan mereka menyanyikan sesuatu. Atau mungkinkah mereka berdoa?

Aku hanya bisa berdiri dalam ketakutan luar biasa menyaksikannya. Si kenek ternyata memegang tas ranselku di tangan kanannya. Dengan tangannya yang terbakar api, ia membakar tas itu dengan mudah. Aku melihat ia mengambil sesuatu di dalamnya, sesaat sebelum tas terbakar habis. Sebuah benda berbentuk topeng dengan tanduk kambing raksasa di kiri kanannya.

Astaga, itu topeng berhala yang aku temukan di lembah. Dalam perjalananku tadi menyusuri lembah, aku memang menemukan benda unik namun mengerikan itu. Sial. Sial. Sial. Seharusnya aku tinggalkan saja benda itu. Aku terus mengumpat kesal. Memaki diri terus menerus, sampai aku merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada diriku.

Seluruh kulitku tiba-tiba terasa melepuh. Permukaan tanganku mulai terlihat gelembung-gelembung panas membakar. Sakitnya luar biasa. Aku menjerit. Terus menjerit, saat aku merasakan kulit wajahku lumer. Badanku terasa amat panas. Seakan lava panas mengalir dalam pembuluh darahku. Panas yang terasa dari dalam lalu merambat ke luar. Aku tak bisa menahan diriku untuk tetap sadar. Perih menyiksa luar biasa membuatku akhirnya jatuh tak sadarkan diri.

Suara desis terdengar mengelilingiku. Entah berapa lama aku tak sadarkan diri. Aku berusaha bangun. Ada yang aneh dalam pandanganku. Aku melihat segala sesuatunya kini lebih luas, lebih lebar, tanpa batasan, namun aku tak bisa lagi memejamkan mata.

Kulit yang terbakar di seluruh badanku kini tak terasa. Seakan aku sudah terbiasa. Aku bahkan tak merasakan sakit saat aku melihat api menyala membungkus pergelangan tanganku. Aku memegang wajahku. Kulitku hancur, aku langsung merasakan daging wajahku. Mataku kini tidak pada posisi normal, karena aku merasakan urat pembungkusnya keluar dari dalam kelopak mataku.

Aku menatap sekelilingku. Para penumpang dengan wajah mengerikan itu berada di sekelilingku. Aku baru tersadar, wajahku kini telah berubah menjadi seperti mereka. Mereka saling berucap sesuatu. Meski desisan terdengar dari suara mereka, aku mulai bisa paham perkataan mereka.

Seseorang berjalan mendekatiku. Si kenek. Aku refleks memundurkan langkah. Desisan terdengar dari mulutnya, lalu perlahan aku mulai paham perkataannya.

“Kamusss telahsss menolongsss kamisss. Kamusss membantusss menemukansss pusakasss keramatsss kamisss. Kamisss telahsss membalasss jasasss kamusss. Kamusss kinissss telahsss menjadisss bagiansss darisss kamisss. Kamusss akansss hidupsss abadissss selamanyassss disss sinisss. Kamusss akansss selamanyassss menjadisss teladansss bagisss bangsasss kamisss.”

Perlahan aku mencoba mencerna kalimatnya. Aku hanya terdiam. Pasrah.

Seandainya aku tidak lewat lembah tadi. Seandainya aku tadi tidak mengambil topeng berhala itu di lembah. Seandainya aku memilih bus lainnya. Puluhan seandainya lainnya bermunculan di kepalaku, tapi itu tak akan mengubah nasibku. Terperangkap dalam neraka ini.

Abadi selamanyasss.

2 thoughts on “Kisah Malam Bus Antar-Kota”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge