Berjalan ke Masa Depan

“Pak Tua, apakah benar di tempat ini, saya bisa melihat masa depan?” tanya Andina memandang kolom granit raksasa setinggi 10 meter berdiameter 1 meter di hadapannya.

“Lebih tepatnya, kamu bisa berjalan hingga ke masa depan. Tidak hanya sekedar melihatnya.” seorang lelaki berjenggot putih panjang menjawab. Ia duduk di salah satu batu raksasa di dekat kolom granit raksasa itu. Asap rokok tebal mengepul dari mulutnya.

“Wah, bagaimana caranya itu, Pak Tua?” senyum lebar terbentuk di bibir Andina. Sudah lama Andina tertarik untuk tahu masa depannya. Apakah ia akan sukses menjalankan bisnisnya? Siapakah yang nanti akan menjadi pasangan hidupnya? Dan masih banyak pertanyaan lain yang menghantuinya sejak lama.

“Sederhana,” jawab Pak Tua sambil berdiri. “Kamu cukup berjalan mengelilingi kolom granit raksasa ini sebanyak 10 kali. Lakukanlah sembari menanggalkan seluruh pakaian kamu.”

“Eeng… haruskah saya menanggalkan pakaian? Udara di sini kan sangat dingin, Pak Tua.”

“Terserah kamu sebetulnya. Tak ada yang memaksa,” si Pak Tua lalu kembali duduk dan merokok.

Andina berpikir dan berpikir. Akhirnya ia pun memutuskan.

“Baiklah, Pak Tua. Saya akan menanggalkan seluruh pakaian saya. Saya sudah mendaki ratusan kilometer untuk bisa sampai ke sini. Bertelanjang dalam suhu dingin tentu bukanlah hal yang sulit.”

Andina pun membuka jaket tebal berbulunya. Ia menanggalkan baju tebal di baliknya. Udara dingin menyentuh perutnya. Andina menggigit bibirnya menahan dingin. Ia lalu mencopot cepat sepatu tebalnya, kaus kaki di baliknya. Terakhir ia melepas celana tebalnya.

“P-P-Pak Tua, a-a-apakah s-saya harus pula melepas d-daleman saya?” tanya Andina menggigil hebat. Ia menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.

“Tidak perlu,” mata Pak Tua terlihat berbinar melihat Andina kedinginan. “Ayo segera berjalan mengelilingi kolom granit raksasa ini sebanyak 10 kali. Jalan loh ya, bukan lari!”

Sambil menggigil, Andina menapakkan kakinya di tanah yang sangat dingin ini. Ia pun berjalan, sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya, menjaga agar tetap hangat. Berputar 10 kali terasa seumur hidup. Dalam benaknya, ia terus berpikir, masa depan seperti apa yang akan dilihatnya.

Lima menit kemudian, tantangan pun selesai. Andina tak bisa berkata apa-apa. Semua bagian tubuhnya menggigil. Sambil gemetar, ia mengenakan seluruh pakaiannya kembali. Pak Tua menghampiri Andina. Tangannya sudah menggenggam segelas kopi panas.

“Silakan diminum, supaya badan kamu tetap hangat.”

“T-terima k-kasih, Pak Tua,” kopi mulai menghangatkan tenggorokan Andina. “Pak Tua, katanya saya bisa berjalan ke masa depan? Kok saya masih di sini?”

“Hahaha..,” si Pak Tua tertawa hebat. “Bukankah kamu sekarang sudah berjalan ke masa depan? Lima menit yang lalu kamu kan belum menerima tantangan?”

“Maksud Pak Tua?” wajah Andina terlihat bingung.

“Nak, masa depan itu akan selalu bisa dilihat, akan selalu bisa dirasakan, karena kita yang menjalaninya sendiri. Tak ada yang bisa meramal masa depan kita. Yang ada, kitalah yang menghidupinya sendiri. Apa yang kita lakukan saat ini yang menentukan keberhasilan atau kegagalan kita meraih masa depan yang kita inginkan.”

“Err..” Andina terdiam. Ia mencoba merenungi perkataan Pak Tua, sebelum bertanya, “Lalu apa hubungan perkataan Pak Tua dengan saya harus jalan keliling kolom granit raksasa ini sambil telanjang?”

“Hahaha, berkeliling kolom granit raksasa ini untuk memberi kamu pengertian tentang waktu,” ujar Pak Tua tersenyum. “Kalau permintaan agar kamu menanggalkan pakaian ya, agar saya senang saja melihatnya.”

Pak Tua terus tertawa sambil meninggalkan Andina yang diam tak bisa berkata apa-apa lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge