Untuk Tuan Putri

Selamat pagi, Tuan Putri.

Tuan Putri, pagi di negeri ini sungguh cerah. Aku masih bisa melihat burung-burung gereja hinggap di kawat listrik. Udara sungguh semilir di sini. Angin sejuk bertiup memasuki jendela kamar yang baru saja kubuka. Orang-orang mulai keluar dari huniannya, menikmati mandi cahaya matahari. Mereka asyik bercanda, menikmati hari yang membahagiakan ini.

Aku sungguh bersyukur masih diberi kenikmatan ini. Namun kenikmatan ini aneh rasanya, tanpa keberadaan Tuan Putri di sampingku. Serasa ada bagian yang kosong di sisi hati ini. Merindukan Tuan Putri yang lama tak kujumpa. Mendambakan sentuhan kata-kata langsung Tuan Putri yang lama tak kurasa. Aku sungguh berharap pagi ini bisa aku bagikan bersama dengan Tuan Putri.

Tuan Putri, bagaimana dengan harimu? Aku amat rindu akan ceritamu. Pastinya Tuan Putri punya banyak kisah baru yang bisa dibagi. Mungkin Tuan Putri tak punya banyak waktu, tapi aku harap dalam hatimu selalu ada aku.

Aku akui surat ini pasti terdengar egois bagimu, Tuan Putri. Memaksamu untuk bercerita, meski aku tahu kamu tak punya kuasa. Surat ini memang hanya sekedar pelampiasan rinduku kepadamu. Jadi, mohon maafkanlah aku. Maafkan kalau aku tak bisa menemani dan berbagi cerita denganmu di alam sana. Namun ini janjiku, Tuan Putri. Suatu saat kala aku dipanggil oleh-Nya, aku akan menjadi teman setiamu di sana.

One thought on “Untuk Tuan Putri”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge