Kencan Pertama Kita

Aku senang akhirnya kita bisa bertemu semalam. Sebelumnya aku sungguh malu untuk mengajakmu pergi. Batin ini rasanya terus beradu, antara ya dan tidak. Ya, karena aku suka padamu. Tidak, karena aku khawatir mendapatkan penolakan. Lama aku menimbang, sampai akhirnya aku memberanikan diriku. Tanpa alasan panjang aku pun mengajakmu. Kalau hatiku bisa menangis bahagia, pasti aku akan langsung menunduk malu mendengar jawabanmu.

Maafkan pula kalau sejak aku memberanikan mengajakmu, kencan sempat tertunda. Seandainya saja 24 jam sehari bisa kupakai untuk menemanimu. Namun realita memang tak bisa dipungkiri. Dua dunia yang mengapitku, membuatku sulit untuk menentukan angka kalender yang tepat untuk pergi bersamamu.

Saat waktu yang tepat datang, aku pun bersyukur. Pertemuan kita malam itu membuat dadaku gemetar. Melihatmu dengan gaunmu itu. Sederhana, tidak berlebihan, namun terasa pas dengan karaktermu. Maafkan kalau aku sempat terbata-bata saat mengajakmu berbicara pertama kali. Gugup melihat kamu yang terlihat jauh lebih cantik dan menawan daripada bayanganmu yang selalu terngiang di pikiranku.

Terima kasih karena kamu membuat segalanya menjadi lebih mudah. Caramu berbicara. Nada suaramu yang ramah. Membuat kegugupanku hilang, dan kita pun bisa berbicara santai. Semua cerita mengalir begitu saja. Aku merasa nyaman di hadapanmu. Kerisauan yang sempat membuatku ragu untuk bertemu denganmu pupus begitu saja. Semua lenyap ditelan kejujuran yang langsung kuutarakan malam itu. Kamu mungkin sempat terkejut akan beberapa kejujuranku, namun aku tahu dari rona merah wajahmu, kamu masih mau menerimaku apapun adanya.

Kencan makan malam pun berakhir sempurna. Aku membawamu ke tepian balkon, dan aku sampirkan jaketku di pundakmu. Aku harap kamu tak kedinginan. Aku merangkulmu dengan perlahan, dan aku bawa kamu terbang melayang. Melewati sekumpulan awan, dengan latar jutaan bintang.

Saat kita istirahat sejenak di tepian pegunungan Dieng, kamu sempat cerita kalau ini adalah mimpi belaka. Aku yakinkan pada dirimu, kalau inilah realitaku. Hidup di dua dunia, berpacu dalam sempitnya waktu, mencoba menyelakan masa pribadiku di antara tanggung jawabku untuk menolong umat manusia. Aku hanya bisa berharap agar kamu mau bersabar menerimaku, seorang manusia yang punya kekuatan lebih, meski aku tetaplah seorang manusia. Aku ingat kamu saat itu tesenyum sipu mendengarku.

Malam pun semakin larut. Kami menikmati perjalanan kami terakhir di langit malam yang cerah, sebelum akhirnya aku mengantamu pulang. Aku berucap terima kasih karena kamu mau pecaya padaku, dan mau menerimaku. Semoga saat nanti aku mengajakmu di kencan kedua, atau ketiga, atau keempat, kamu tetap mau menerimaku. Aku nantikan jawabanmu.

(Surat ini untuk membalas suratmu di tautan ini)

2 thoughts on “Kencan Pertama Kita”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge