Kisah dari Hati

Hai, bagaimana kabarmu hari ini? Ya, aku tahu ini memang pertanyaan standar, membosankan, dan kamu pasti jengah ditanyakan hal-hal seperti ini. Aku hanya berharap kamu dalam kondisi sehat. Beberapa hari tak melihatmu muncul di linimasa membuatku merasa kehilangan. Ya, ya, ya, terdengar lebay memang. Namun bukankah rasa rindu selalu diikuti dengan perkataan yang sungguh lebay?

Tahukah kamu sejak kita pertama berjumpa dulu, aku menaruh perhatian pada dirimu? Pastilah kamu tahu, karena sejak beberapa hari setelah itu, aku aktif bercerita denganmu. Aku pun senang saat kamu mau berbagi kisah tentang dirimu. Hampir setiap malam kita berbicara di dunia maya. Kamu sungguh manis dan menyenangkan. Kadang kamu terdengar kompleks memang, tapi mungkin itulah yang membuatmu terlihat menarik.

Aku menyayangkan karena kita jarang bertemu. Saat kita bertemu pun aku merasa tidak maksimal. Mungkinkah karena aku peragu? Atau mungkinkah karena ini asliku? Seseorang yang hanya lihai bermain kata di ranah maya, tapi sulit mengumpulkan keberanian untuk berucap kata dengan seseorang yang kusuka?

Masa telah cukup lama berlalu sejak pertama kita berjumpa. Semakin lama aku merasa dirimu semakin menjauh. Memang pasti ini salahku juga. Tak pernah berani mengucap kata itu, baik di dunia maya maupun saat bertatap mata. Bisa jadi kamu mulai bosan/bingung membaca maksudku. Bisa jadi kamu memang jengah melihat ulahku. Atau bisa jadi kamu memang tak punya perasaan serupa. Aku tak tahu.

Melalui surat ini, aku memberanikan diri (ataukah ini mengecutkan diri ya?) untuk menyampaikan isi hatiku kepadamu.

A-k-u S-u-k-a K-a-m-u.

Ya, aku suka dengan dirimu, dengan pribadimu, dengan hal-hal yang lekat pada dirimu, baik kekuatanmu maupun kelemahanmu. Perkenankan aku untuk membantumu meraih misimu. Perkenankan aku untuk membuatmu tersenyum di kala kamu berduka. Perkenankan aku untuk menyukaimu apa adanya. Dan perkenankan dirimu untuk membuka hatimu untukku, dan membantuku menjadi orang yang lebih jujur dengan perasaanku.

Mungkin tidak ada bunga yang menjadi pengiring ucapan ini. Mungkin tidak ada cokelat yang menjadi teman saat kamu membaca surat ini (lagi pula bukankah kamu seharusnya tidak boleh makan cokelat dahulu?). Mungkin saat kita bertemu lagi nanti, aku pun masih akan terbata-bata di hadapanmu. Bahkan mungkin aku akan salah bersikap dan gugup saat menatap wajahmu.

Aku hanya berharap surat ini bisa menjadi pembuka segala yang terbaik bagiku (dan mudah-mudahan bagimu pula).

Salam rinduku untukmu.

2 thoughts on “Kisah dari Hati”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge