Mengingat Perjumpaan Lama

Hai, lama sekali kita tak bertemu. Seingatku, kita terakhir berpapasan kala perjumpaan komunitas digital di malam hari itu. Saat itu pun kita tak sempat berbicara banyak. Jumlah tatapan kontak mata kita saja masih bisa kuhitung dengan kedua tanganku. Kala acara selesai, kita juga tak sempat berbicara banyak, karena malam sudah meninggi, dan kita semua harus kembali ke peraduan masing-masing.

Bagaimana dengan dirimu sekarang? Masihkah kamu seperti saat kita bertatap mata pertama kali dulu? Masihkah kamu menyukai cokelat dan bakso? Ah, tak mungkin kamu melupakan dua makanan favoritmu itu. Bahkan, mungkin kamu sedang menyantap salah satunya sekarang. Aku ingat dulu sempat mengajakmu mencari suguhan bakso yang menggugah selera, namun ajakan itu tak kunjung terlaksana. Aku bertanya-tanya, apakah kalau aku mengajakmu sekarang, kamu masih tertarik untuk menerimanya?

Seperti biasanya, aku selalu terkesan banyak omong dan tanya-tanya. Ya, ya, biarkan saja kalau kamu menganggapku seorang yang kepo dan penasaran. Sebagai pengobat rasa kangen dan mengingat kembali karakter dirimu di pikiranku, nggak salah dong kalau aku rajin bertanya? Lagi pula kamu (mungkin) senang kalau aku memberikan kesan perhatian.

Kamu pasti masih menjadi penggila kopi dan rokok. Dua benda yang tak bisa lepas satu dengan lainnya. Seperti perkataanmu sendiri dulu, akan percuma mengajakmu untuk berhenti merokok, karena seperti para perokok lainnya, kamu pun sadar kalau itu berbahaya. Aku ingat kamu sempat cerita kalau para perokok lebih baik diajak untuk beraktivitas sehat. Biasanya ajakan seperti ini malah akan menarik perhatian, dan menggerakkan diri untuk mau mencoba, daripada mendengar orang melarang-larang kamu merokok. Mudah-mudahan sejak terakhir kita bertemu, kamu pun sudah mulai banyak berolahraga di alam luar ya.

Kapan-kapan kita sempatkan untuk lebih banyak bertemu yuk. Makan bakso (atau apapun yang menyenangkan) sembari berdiskusi tentang topik favoritmu, pemasaran digital. Siapa tahu kita bisa saling belajar dari pengalaman masing-masing.

Mungkin itu dulu. Ingatanku terlalu pendek untuk mengarsipkan kepingan memori perjumpaan dan percakapan kita sebelumnya.

Salamku untuk keluarga di rumahmu ya!

One thought on “Mengingat Perjumpaan Lama”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge