Hai Dina

Hari ini hari terakhir aku melihat dirimu dari dekat. Kamu tak lagi sanggup berbicara. Kamu bahkan mungkin tak tahu kalau aku berada di dekatmu. Kamu mungkin juga tak bisa mendengar seluruh anggota keluargamu duduk di sekitarmu memanjatkan doa. Kain putih tipis sudah membalut wajahmu yang pucat.

Aku lama duduk menatapmu. Mengingat-ingat saat kami semua sekeluarga besar sempat berjalan bersama, makan malam bersama. Ibuku sepupu ayahmu. Memori masa kecilku mengingat saat keluargaku beberapa kali berkunjung ke rumahmu. Memori masa kecilku masih mengingat saat aku iseng mengganggu dan menjahili kamu. Memori yang sudah berlalu berdekade lalu.

Lama sekali aku tak berjumpa denganmu dan keluargamu. Sesekalinya perjumpaan hanyalah saat ada keluarga besar yang menikah. Lucu memang, pertemuan antar-keluarga yang sebelumnya terjadi saat kami semua masih di sekolah dasar, baru kembali berulang saat kami semua sudah lulus kuliah. Canggung di awal memang, namun keceriaan memori masa kecil ternyata bisa membangkitkan percakapan yang menarik, tidak sekedar hampa tanpa pesan.

Aku ingat saat pernah mengajakmu pergi. Sekedar ngobrol antara saudara sepupu yang sudah beranjak dewasa. Jelas banyak sekali yang berbeda, yang membentuk kehidupan kami masing-masing selama puluhan tahun, yang membuat kita tak kehabisan bahan percakapan. Kamu tahu, pertemuan yang sudah terjadi sekitar 4-5 tahun lalu ini masih sangat kuingat, seperti masih terjadi kemarin sore.

Sejak terakhir kita ngobrol lama itu, kita tak sempat bertemu lama lagi. Perjumpaan kita selanjutnya adalah saat kamu datang ke pernikahan adikku 4 tahun lalu. Kita sempat berbincang sejenak kala itu.

Sekarang kamu sudah meninggalkan kami semua, dalam usiamu yang masih muda. Aku tak akan punya kesempatan lagi untuk ngobrol dan tertawa bersamamu. Aku sungguh menyesal karena kita jarang bertemu dan bercerita. Namun kini aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Yang bisa aku bantu hanyalah doa. Doa agar kamu tetap tersenyum di sana, tertawa di sana, dan mendapatkan kebahagiaan abadi di sana.

Selamat jalan, Dina. Selamat jalan saudariku…

41 yang tiada

6 thoughts on “Hai Dina”

  1. Pingback: Tentang Yang Tiada
  2. Pingback: Tentang Yang Tiada
  3. Pingback: Yang Tiada | Pitra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge