Aksi dan Reaksi

Nadya bergegas memasuki restoran. Ia menyapa salah satu pelayan, yang langsung mengarahkannya ke salah satu sudut ruangan. Ini salah satu restoran favoritnya. Bersama Hafid, sahabatnya, ia sudah sering ke sini sejak mereka berdua sama-sama duduk di bangku kuliah. Sejak lama mereka saling berbagi suka dan duka satu sama lain. Kegembiraan ditanggung bersama. Kesukaran selalu dihadapi berdua.

 

Hafid bukan orang yang suka dibiarkan menunggu. Nadya tahu betul itu. Makanya ia selalu berusaha untuk sampai di lokasi lebih dahulu daripada Hafid. Alangkah leganya, ternyata Hafid belum datang. Nadya pun duduk, lalu memesan segelas es jeruk. Kepada pelayan ia bilang, kalau ia masih akan menunggu sahabatnya sebelum nanti ia memesan makanan. Si pelayan pun tersenyum dan meninggalkan Nadya.

 

Nadya menatap jam. Pukul 19:20. Aneh, Hafid bukan orang yang suka datang terlambat. Hafid bisa jadi adalah satu-satunya orang yang dikenal Nadya yang paling disiplin soal waktu. Perasaan takut mulai menghinggapi Nadya. Es jeruk di hadapannya sudah habis ia minum, untuk melawan rasa takut di hatinya. Ia pun tak tahan lagi. Dikeluarkannya telepon genggam dari tasnya, dan Nadya pun menghubungi sahabatnya. Mati. Telepon genggam Hafid ternyata dinonaktifkan.

 

Pukul 19:40, dan Nadya semakin khawatir kalau sesuatu terjadi pada sahabatnya. Ia berulang kali menelepon dan meninggalkan pesan SMS untuk Hafid, namun semuanya tanpa hasil. Nadya mencoba menelepon rumahnya, juga tidak ada yang mengangkat. Ia pun mulai putus asa, tak tahu lagi harus mengontak siapa.

 

Si pelayan kembali datang menghampiri. Bukan untuk menawarkan makan malam, tapi memberikan sebuah amplop cokelat besar. Nadya menerimanya dengan heran. Ia mengambil amplop itu dengan tangan gemetar. Tulisan tertera di bagian depan amplopnya, “Untuk Sahabatku, Nadya.”

 

Nadya mulai berpikir macam-macam. Ini tulisan tangan Hafid. Amplopnya cukup berat. Di dalamnya terlihat sebuah surat dan benda terbungkus kain. Ia pun mengambil surat dan membacanya.

 

“Setiap aksi akan ada reaksi. Setiap perbuatan akan ada yang harus dibayar. Malam ini aku sudah membayar hutangku kepada dunia. Dunia telah melahirkan aku dan orang tuaku. Kini giliranku untuk membalas kebaikannya. Tepat pukul 19:00 aku akan mengirim diriku dan orang tuaku keluar dari dunia ini. Selamat jalan, Nadya. Jangan lupa untuk membayar hutangmu pula.”

 

Nadya berulang kali membaca surat itu, mencoba memaknai kata demi kata. Ia masih berharap dan berdoa kalau yang ia bayangkan adalah salah. Nadya membuka kembali amplop dan mengambil benda yang terbungkus kain. Di dalamnya terbungkus sebilah pisau. Selembar kertas di samping pisau tertulis, “Nadya, pisau ini untuk kamu. Kembaran pisau ini sudah aku pakai untuk membayar hutangku.”

 

Nadya pun terduduk lemas, tak kuasa lagi berpikir apa-apa. Air mata mengalir deras membasahi pipinya. Ia hanya bisa menatap pisau itu dengan lama.

 

3 thoughts on “Aksi dan Reaksi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge