Perjalanan Akhir

Aku menerima helm dari supir ojek, lalu mengenakannya. Setelah aku bilang siap, supir ojek pun mulai memacu motornya. Aku merasakan angin kencang bergerak seiring dengan motor bergerak semakin cepat. Entah karena memang anginnya yang terasa semilir, atau karena aku memang mengantuk.

Sejak semalam memang aku lembur di kantor dan kurang tidur. Salah satu alasanku meninggalkan mobil di kantor pagi ini karena aku khawatir terjadi apa-apa kala menyetir. Ojek langganan kantor lalu menjadi pilihan untuk mengantarku pulang. Supir ojek membawaku melewati kiri dan kanan mobil dengan hati-hati. Di belakang, aku menahan kantuk yang semakin terasa.

Tanpa terasa aku terbawa akan lamunan. Menumpang motor besar mengarungi padang berwarna merah menyala. Motor yang kami tumpangi bergerak cepat menyusuri tepian jurang. Aku ikut waspada saat pengemudi motor membelokkan motornya tajam ke kiri dan ke kanan, melewati tepian jurang yang berkelok-kelok. Sedikit gerakan yang salah bisa membuang kami jatuh ke jurang.

Di kejauhan aku melihat kereta raksasa bergerak menuju kami. Entah bagaimana caranya, kereta itu tetap bisa bergerak lancar di atas tepian jurang. Suara yang dikeluarkannya sungguh menggelegar. Aku bahkan sampai harus menutup telinga setiap kali aumannya terdengar. Suara itu semakin keras saat motor besar kami semakin bergerak mendekatinya.

Kereta raksasa pun bergerak semakin kencang. Tidak ada yang terlihat akan saling mengalah. Seketika itu juga, aku hanya melihat gelap. Hitam kelam. Tanpa suara. Tanpa gambar. Lalu tak lama, semuanya terang. Sangat terang menyilaukan.

Aku berada di atas awan, melihat jauh ke bawah. Mataku begitu tajam, hingga aku bisa melihat orang-orang berkerumun. Sebuah bus dan sebuah motor terlihat hancur. Dua orang terlihat terkapar tak bergerak. Pikiranku langsung kosong, tak kuasa menatap wajah dua orang itu. Aku mendengar bisikan suara dari atas kepalaku. Aku pun menengadahkan kepala. Seorang perempuan berwajah cantik dan bersayap terlihat menyambutku. Di belakangnya, terlihat gerbang cahaya bersinar terang, mengundangku untuk masuk melewatinya. Silaunya cahaya membuatku tak kuasa untuk memejamkan mata.

Aku buka kembali mataku. Pandanganku beralih kembali ke punggung supir ojek. Rupanya aku tadi terbawa mimpi. Motor masih bergerak ke kiri dan ke kanan melewati mobil. Jalan rasanya terasa tanpa akhir, hingga akhirnya supir ojek memperlambat motornya. Aku melepas helm, mengeluarkan uang untuk membayarnya, dan mengucapkan terima kasih.

Akhirnya aku pun tiba di rumahku. Aku membuka pagar. Pintu rumah tak terkunci dan aku pun melangkah masuk. Suara keras dan tajam langsung menghardik namaku dengan keras. Awalnya aku kira itu suara ayahku. Ternyata suara itu datang dari seorang berbadan merah dan besar. Wajahnya menakutkan dengan tanduk tajam di dahinya. “Selamat datang di kerajaanku,” sambutnya.

2 thoughts on “Perjalanan Akhir”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge