Peminta Receh

Cuaca sungguh panas di Sunter. Matahari rasanya tak berhenti mengirimkan pancaran sinarnya sejak tadi pagi. Aku berusaha berdiri di rumput, menahan lelah. Mobil-mobil beregrak pelan di hadapanku, antri menuju putaran balik arah di depan. Aku melihat penumpang di dalamnya menatapku. Ada yang tersenyum. Ada yang ketakutan. Ada yang menatap bingung.

Sesekali ada yang membuka jendela, memanggil dan mengajakku mendekat. Aku ulurkan tangan hitamku, meraih koin yang mereka berikan. Receh yang berusaha aku kumpulan dari pagi hingga sore untuk majikanku. Sesekali ada yang melemparku koin. Rantai di leher menahanku untuk bergerak. Aku biarkan majikan yang mengambilkan koinnya untukku. Lagi pula, aku tak pernah tahu apa manfaatnya. Yang aku tahu, aku bekerja, dan majikanku memberiku makan dan kesempatan hidup.

Sudahlah, untuk apa aku memikirkan itu semua. Aku kibas-kibaskan kotoran yang menempel di bajuku. Aku pakai lagi topengku yang berwajah manusia. Lalu aku berdiri lagi meminta uang kepada setiap mobil yang lewat, sambil terus mengibas-ngibaskan ekor hitamku.

 

One thought on “Peminta Receh”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge