Ketetapan Hati

Hari kala itu sudah menjelang senja. Mentari mulai terbenam tertutup awan yang kelabu. Berkas jingga menyebar tak merata di baliknya. Tidak selalu senja itu indah. Suasana sore yang semakin kelam menemani perempuan itu saat ia berjalan masuk menuju tempat peminuman kopi itu. Perasaan gundah menjadi pelengkap ketidaknyamanan dirinya saat berjalan menuju salah satu pojok ruangan. Si perempuan pun duduk di titik yang sudah menjadi tempat favoritnya untuk sejenak menyepi dari dunia.

Seorang pelayan mendekat, memastikan apakah si perempuan akan memesan kopi yang sama. Si perempuan mencoba tersenyum, dan mengangguk. Si pelayan pun berlalu dan kembali mengantarkan segelas cappucino hangat. Ia sudah familiar dengan pelanggannya yang satu ini, yang selalu datang ke tempatnya, memesan kopi yang sama, dan selalu menghindar bila ada yang mengajaknya bicara.

Si perempuan mengeluarkan netbook hitam dari tasnya. Ia memasang earphone dan mencoloknya ke netbook, memutar lagu yang selalu menjadi pengiringnya dalam sendu, “Yiruma – River Flows in You.” Ia memejamkan mata saat lagu itu mengalun membangkitkan rasa kangen dirinya akan masa lalu. Sesuatu yang entah kenapa selalu menjadi memori yang tak pernah bisa hilang, meski kisah itu sudah berlalu tahunan lamanya.

“Hai, nona, pasti kamu kembali ingat kisah itu ya?” seorang pria sudah duduk di hadapan si perempuan, menyapanya.

“Oh kamu, bikin aku terkejut,” si perempuan membuka mata dan melepas earphone-nya. Ia mengenali si pria, “haha, kamu bisa saja. Ya, begitulah, Mas…”

“Nona, kamu itu cantik. Tidaklah sulit bagimu untuk mendapatkan seorang kekasih baru,” ujar si pria.

“Nggg…” si perempuan tak menjawab. Ia hanya bisa tersipu malu setiap kali ada orang yang memujinya.

“Hati memang sebuah benda yang rapuh. Ia bisa menjerit teriak-teriak bahagia, tetapi sekalinya ia terluka, ia akan menjerit kesakitan. Apakah luka di hatimu kini masih terbuka lebar?”

Si perempuan hanya menghela nafas, hendak mengeluarkan jawaban, yang sebetulnya si pria pun sudah mengetahuinya.

“Sudah nggak sih, Mas. Hanya saja masih ada sisa pecahan kaca yang menusuk-nusuk hatiku saat aku bercermin ke masa lalu.”

“Nona, dalam hidup kita akan selalu bertemu dengan banyak cermin. Hanya keputusan hatimulah yang bisa mengabaikan refleksi masa lalu, dan menentukan cermin yang bisa memberimu refleksi masa depan.” si pria mencoba berkata bijak.

“Aku tahu kok, Mas, dan aku sedang berusaha untuk itu…” ucap si perempuan, dengan nada ragu.

“Ketahuilah Nona, kalau aku percaya sepenuhnya pada dirimu,” ungkap si pria. “Nona, maukah kamu membuktikanku sesuatu?”

“Bukti apa, Mas?”

“Buktikan padaku kalau kesenduan yang kamu tunjukkan itu hanya perwajahanmu saja. Hatimu sebenarnya sudah siap untuk melangkah maju. Kamu bisa?”

Si perempuan hanya bisa tersenyum. Ia ingin sekali meyakini ungkapan si pria. Si pria menggenggam tangan si perempuan. Tangannya terasa hangat, meleburkan suasana hati si perempuan yang penuh ketidakpastian.

“Nona, yang perlu kamu lakukan hanyalah yakin. Percaya bahwa keputusanmu akan membawa dirimu ke arah kehidupan yang lebih baik. Percaya kala kamu melangkah dari tempat ini, kamu akan punya beragam warna yang akan mengisimu dengan kehangatan. Percaya bahwa dirimu bisa memiliki hati yang kuat untuk bisa jatuh cinta kembali.”

Si perempuan mengangguk. Ia mendengarkan kata demi kata si pria dengan seksama. Menyerap semua ucapannya karena ia tahu hanya pria ini yang bisa mengembalikan kekuatan dirinya. Si perempuan kembali memejamkan matanya, mengambil nafas panjang, mengingat-ingat kembali setiap kata itu dan meyakinkan hatinya sendiri kalau ia mampu.

Saat mata terbuka, si pria sudah tak ada lagi di hadapannya. Si perempuan tetap tenang. Kehadiran teman imajinernya ini memang selalu bisa menguatkan kembali dirinya, dan mengembalikan semangatnya dari rasa sepi.

Si perempuan menutup netbook hitamnya, menghabiskan cappucino-nya, dan meninggalkan tempat peminuman kopi itu dengan senyum senang. Kelabu yang membebani hatinya kini sedikit terangkat. Ia pun mencoba mengisinya dengan warna-warna lampu kota yang akan membawanya pulang.

3 thoughts on “Ketetapan Hati”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge