Bali hari ke-2, berjalan-jalan ke Ubud, Tegalalang, dan Monkey Forest

Niat untuk bangun mendahului matahari terbit ternyata gagal. Cahaya matahari sudah mulai terlihat ketika saya terbangun. Bapak ternyata sudah lebih dahulu bangun. Saya lalu mengajak Bapak jalan-jalan ke arah pantai. Terlewatnya matahari terbit tak mengurungkan kami untuk tetap berjalan-jalan mencari objek lainnya di pantai Sanur.

Benar memang, tepian pantai bisa dicapai hanya dengan jalan sekitar 5 menit dari hotel. Yang tidak kami duga adalah, pantai Sanur yang kami temui adalah yang berada di sisi utara, sementara pusat keramaian dan objek menarik, berada agak jauh di selatan.

Jadilah kami berdua berjalan menyusuri pantai. Uniknya, sudah disiapkan jalan dengan perkerasan paving rapih di pesisir pantai. Terlihat banyak orang bersepeda dan berjogging menyusuri perkerasan ini. Rupanya jalur ini memang jadi salah satu pilihan untuk berolahraga di pagi hari.

Kami berjalan menyusuri perkerasan ini sambil mengambil gambar yang sekiranya menarik. Matahari terlihat tak jauh di atas permukaan air. Berkas sinarnya mewarnai sebagian permukaan laut. Beberapa orang terlihat duduk santai sambil menikmati naiknya matahari.

Sekitar setengah jam kami menyusuri tepian pantai hingga akhirnya kami menemui banyak perahu dan boat berlabuh di pantai. Beberapa boat ini ternyata bisa dipakai untuk mengantar kita dari Sanur ke Lembongan dan Nusa Penida. Kalau mau, bisa berangkat pukul 8:00 dari Sanur dan kembali dari Lembongan atau Nusa Penida pukul 15:00. Biayanya Rp.60.000,00 per sekali perjalanan. Itu kalau mau loh. Saya sih nggak, karena saya sudah punya rencana lain hari ini.

Lumayan banyak objek foto yang saya ambil pagi ini di Sanur. Saya dan Bapak mencari sarapan ringan di tepi pantai. Nggak dijamin enak sih, tapi setidaknya perut ini terisi. Kalau perut kosong, bisa bahaya ini kalau nanti jalan kaki pulang ke hotel.

Menarik sebetulnya melihat kehidupan Sanur di pagi hari. Banyak pedagang bersiap menjajakan  dagangannya di tepi pantai. Sepasang suami istri dan anaknya terlihat bekerja sama membangun istana pasir. Rombongan anak asyik mandi dan bermain air laut. Beberapa orang berpakaian adat Bali terlihat khusyuk sembahyang di tepi pantai. Serta para surfer mulai bersiap untuk menghadapi ombak pantai.

Kami berjalan kaki kembali ke hotel. Beristirahat sejenak sebelum acara jalan-jalan hari kedua di Bali ini dimulai. Semalam, kami sudah meminta Pak Oka untuk menjemput lagi, dan mengantar kami ke Ubud, Tegalalang, Sukawati, dan terakhir melihat pertunjukan Kecak dan Sanghyang Api. Sesuai kesepakatan, biaya yang harus dikeluarkan untuk itu sejumlah Rp.250.000,00.

Sekitar pukul 11:00 jemputan sudah datang. Kali ini ternyata bukan Pak Oka. Masih dari pengelola tour yang sama, ia digantikan oleh Pak Dharma. Berbeda dengan supir sebelumnya, Pak Dharma ini lebih sedikit berbicara. Wawasannya pun tidak seluas supir sebelumnya. Hihi tapi ya masa mau protes. Yang penting asal cara menyetirnya aman, terima saja deh.

Mobil pun bergerak langsung ke arah Ubud. Sebelum berputar-putar lebih lanjut, kami diantar ke Joni Resto di daerah Peliatan, Ubud. Rupanya ini memang tempat makan langganan para wisatawan. Menunya lumayan enak, dari citarasa Indonesia hingga Eropa. Pemandangan yang ditawarkan adalah sawah, meski nggak bagus-bagus amat. Harganya sih yang memang tidak terlalu nyaman. Per orang untuk makan dan minum bisa habis sekitar Rp.110.000,00.

Sekitar tiga bulan lalu, saya sudah pernah mampir ke Ubud. Saat itu saya sempat menikmati makan siang di restoran Bebek Bengil. Citarasa bebeknya memang enak. Kalau boleh dibandingkan dengan Bebek Bengil yang juga berada si Ubud, saya pribadi sih lebih menyukai Bebek Bengil daripada Joni Resto.

Usai makan siang, Pak Dharma mengantar kami ke tujuan berikutnya, yakni Tegalalang. Di sini kami bisa melihat sawah khas Bali yang tersusun secara terasering. Keindahan sawah ini diikuti dengan pertumbuhan kafe, restoran, serta toko suvenir yang menghadap langsung ke arah sawah. Ada beberapa titik menarik yang mengharuskan saya untuk akhirnya “nyelonong” masuk ke dalam kafe untuk mengambil gambar.

Mobil-mobil berjejer di pinggir jalan raya. Mereka menunggu para tamu asing dan lokal yang sedang menikmati keindahan sawah ini sambil minum dan rehat di kafe-kafe dan restoran itu.

Saya baru menyadari, ternyata para pemandu tour banyak yang menguasai bahasa lain selain Inggris. Saya melihat seorang pemandu yang lihai berbicara bahasa Jepang terhadap turis-turis yang dipandunya. Saya juga sempat melihat pemandu yang menguasai bahasa Spanyol. Luar biasa memang. Beberapa pedagang juga sudah menguasai beberapa bahasa asing. Minimal mereka mampu menyebutkan angka dalam beragam bahasa. Lumayanlah, untuk modal tawar-menawar dengan konsumen.

Pak Dharma lalu mengantar kami ke tujuan berikutnya, Monkey Forest, yang juga berlokasi di Ubud. Berbeda dengan di Uluwatu, monyet di Ubud ini tidak liar. Hutan ini dipelihara oleh penguasa Ubud. Monyet-monyetnya diberi makan rutin. Saat saya datang, terlihat penjaga membagikan potongan ubi dan jagung. Seketika itu pula puluhan monyet berkumpul mendekat. Mereka tidak berebut. Menunggu sabar sampai potongan ubi dan jagung itu dilempar ke arahnya. Pemandangan yang menarik memang, melihat alam bisa hidup serasi dengan manusia.

Suasana langsung berubah begitu kami kembali  melanjutkan perjalanan. Jalan yang melintas Monkey Forest macet. Suatu hal yang tidak biasa memang menemukan kemacetan di Ubud. Mungkin karena ini akhir pekan, sehingga frekuensi pengunjung meningkat? Entahlah. Yang jelas jalur satu arah yang kami lewati bergerak dengan sangat lambat.

Lolos dari kemacetan, kami langsung bergerak ke arah Pasar Sukawati. Katanya Sukawati ini memang khas menawarkan hiasan dan kerajinan Bali. Yang saya lihat, kebanyakan barang tang dijual adalah kain, lukisan, dan ornamen hiasan. Sayangnya saya sendiri tidak terlalu tertarik untuk membeli apapun. Bapak sendiri pun hanya membelikan baju dan daster untuk Ibu dan keponakan saya. Kecuali cemilan makanan, kami tidak membeli barang apapun untuk kami sendiri. Buat saya pribadi, saya lebih suka mengenang sebuah perjalanan wisata melalui cerita dan foto. Buat saya teks dan gambar akan lebih mengingatkan detil perjalanan yang terlupakan dari memori.

Usai dari Sukawati, Pak Dharma mengantar kami kembali turun ke arah Sanur. Perjalanan yang agak panjang ini membuat saya sempat tertidur. Hari masih menjelang sore, saat kami diantar menuju pagelaran Tari Kecak Uma Dewi tak jauh dari Sanur. Tiket pertunjukannya seharga Rp.60.000,00.

Menarik juga Bali masih punya pagelaran budaya yang diselenggarakan rutin setiap hari. Tempatnya memang tidak terlalu wah, penerangannya terbatas. Namun di sinilah tempat budaya Bali diteruskan kepada generasi mudanya. Saya jadi ingat cerita Pak Oka, yang mengantar kami kemarin. Hingga saat ini, tarian Bali masih diajarkan ke anak-anak, sehingga bisa dibilang tak ada orang Bali yang tak tahu tarian Bali. Yang menjadi penari di pagelaran Tari Kecak ini pun semuanya anak-anak muda.

Acara berakhir sekitar pukul 19:00. Pak Dharma pun mengantar kami kembali ke hotel. Saya pun membayar biaya perjalanan hari ini (termasuk sewa mobil, bensin, dan pengemudi) sejumlah Rp.250.000,00. Tidak terlalu mahal lah ya.

Hari kedua di Bali ini bisa berjalan dengan cukup mengasyikkan. Besok kami sudah menentukan jadwal selanjutnya. Rencananya kami akan mengulang berburu matahari terbit lagi, lalu siangnya akan berjalan-jalan ke Tanjung Benoa, Garuda Wisnu Kencana, pantai Dreamland dan sekitarnya, menonton Tari Kecak saat matahari terbenam di Uluwatu, dan makan malam di Jimbaran. Semoga saja saya bisa bangun pagi.

One thought on “Bali hari ke-2, berjalan-jalan ke Ubud, Tegalalang, dan Monkey Forest”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge