Bali hari ke-3, berwisata ke Tanjung Benoa, Garuda Wisnu Kencana, Dreamland, dan Uluwatu

Pagi ini sukses saya bangun pagi mendahului matahari. Masih jam 4 pagi, dan saya dan Bapak langsung menyiapkan “senjata” untuk berburu matahari di tepi pantai Sanur.

Saat itu langit di luar masih gelap. Agak mengkhawatirkan juga kalau kami harus menyusuri jalan yang sama ke daerah utama pantai Sanur seperti kemarin pagi tanpa penerangan. Bisa-bisa terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan. Untungnya orang hotel berbaik hati mengantar kami berdua pakai motor.

Dua motor pun bergerak menembus angin pagi hari yang dingin. Jalan menuju pantai Sanur menggunakan motor jauh lebih berputar. Tak sampai 5 menit kami sudah sampai di lokasi. Saya memberikan tip kepada dua orang hotel yang mengantar kami dan kami pun siap berburu.

Tripod dipasang dan kamera pun disiapkan. Masih ada waktu sekitar setengah jam sebelum matahari muncul si ufuk timur. Rasa ngantuk pun lenyap sudah tergantikan dengan semangat menyambut hari terakhir berlibur di Bali.

Awan tipis menutupi matahari saat muncul si balik permukaan laut. Cahaya jingga terpantul di laut yang terlihat tenang di kejauhan. Perahu-perahu yang berlabuh di pantai Sanur terlihat sebagai siluet di depan sinar matahari. Beberapa orang terlihat sudah mulai bekerja. Banyak barang diangkut di pundak dan dibawa ke perahu. Barang-barang ini adalah modal usaha para pedagang yang berusaha di Pulau Lambongan, yang berjarak sekitar setengah jam dari Sanur.

Matahari pun semakin meninggi. Sinar terangnya semakin menghilangkan malam dan menggantinya dengan keriaan pagi hari. Mungkin karena ini hari minggu, banyak sekali warga Bali yang mulai membanjiri Sanur. Kebanyakan datang dengan motor, terlihat dari penuhnya motor di area parkir. Banyak juga yang datang dengan bersepeda. Sepeda terlihat diparkir di dekat pondok-pondok kecil yang berada di tepi laut. Ada pula yang terlihat bolak-balik melewati jalur pejalan kaki yang dibangun di tepi pantai.

Saat itu air laut terlihat surut, meninggalkan banyak kantung air. Beberapa anak terlihat bermain di kantung-kantung itu, seakan-akan sudah menjadi kolamnya sendiri. Beberapa perahu terlihat “terdampar” di atas pasir, menunggu saat malam nanti air kembali pasang dan menghanyutkannya kembali.

Matahari sudah mulai meninggi dan suasana pantai yang terlalu ramai tidak menarik lagi untuk dijadikan objek foto. Saya dan Bapak pun mencari tempat duduk yang nyaman untuk sarapan. Nggak mewah, hanya sebatang jagung bakar, mie instan dan teh. Lumayanlah untuk mengganjal perut.

Usai sarapan, saya dan Bapak kembali ke hotel. Seperti hari kemarin, kami harus berjalan jauh kembali menyusuri pantai ke aah utara. Bedanya, pagi ini matahari sudah terasa terik sekali, lumayan membuat wajah kami gosong saat berjalan kaki selama setengah jam.

Hari ini terakhir kami berada di Sanur. Usai kami berjalan-jalan hari ini, malamnya kami akan mencari penginapan di Kuta. Kami mencari yang lebih dekat ke bandara, karena kami harus kembali ke Jakarta esok pagi-pagi.

Sekitar pukul 11:00 jemputan pun datang. Kali ini ganti lagi supir yang akan mengantar kami. Namanya Pak Komang, yang ternyata adalah kakak kandung Pak Oka, yang mengantar kami di hari pertama. Rute hari ini adalah melihat Tanjung Benoa, Garuda Wisnu Kencana, pantai Dreamland dan Padang-padang, melihat tari Kecak di Uluwatu, dan makan malam di Jimbaran.

Niatnya di Tanjung Benoa cuma mau ingin lihat suasana saja. Ternyata melihat puluhan parasailing yang bertebaran di langit menggoda hati juga. Terakhir kali saya mencoba parasailing adalah tahun 1997, dan saat itu parasailing hanya bisa ditemukan di pantai Sanur. Agak kaget juga setelah tahu sekarang per sekali naik Rp.80.000,00. Nggak mau ditawar pula. Mungkin karena ini hari minggu ya? Ya sudahlah, daripada menyesal kemudian karena tak mencoba, saya pun membayarnya.

Saya dipakaikan baju pengaman, dan sarung tangan warna biru di tangan kanan dan warna merah di kiri tangan. Seorang pemandu mengingatkan agar nanti saya melihat aba-aba bendera yang ia berikan, dan mendengarkan petunjuk dari pengeras suara. Saya lalu diminta untuk berpegangan pada warna yang sesuai dengan warna sarung tangan, sambil para pemandu itu mengaitkan parasut ke baju pengaman saya. Parasut ini terikat ke perahu boat yang siap melaju kencang.

Aba-aba pun diberikan dan saya berlari. Parasut yang ditarik oleh perahu boat mengangkat saya ke angkasa. Seketika saya sudah berada sekitar 10 meter dari permukaan laut, dan melihat air laut yang dangkal. Perahu boat berputar dan parasut saya pun ikut berputar berkeliling. Saya begitu menikmati pemandangan dari atas udara sampai abai akan petunjuk yang diteriakkan di pengeras suara. Saya diminta untuk menarik pegangan berwarna biru sekencang mungkin. Gunakan dua tangan kalau perlu, katanya. Parasut pun membelok kembali ke arah pantai. Saya lalu diminta untuk melepas pegangan, dan seketika parasut pun menurun. Karena belum terbiasa, sayapun mendarat dengan pantat, dan bukan kaki. Saya pun mengembalikan baju pengaman an sarung tangan.

Tanjung Benoa memang pusatnya wisata keluarga. Selain parasailing, kalau mau bisa juga mencoba banana boat dan jet ski. Kalau mau loh, kalau saya sih memutuskan untuk lanjut bergerak ke tempat lain.

Selanjutnya Pak Komang mengantar kami ke kompleks Garuda Wisnu Kencana. Saya memang belum pernah melihat patung raksasa (yang nggak pernah selesai itu) di lokasi ini secara langsung, meski dulu sudah pernah melihat potongannya di studio pembuatnya, Nyoman Nuarta, di Bandung lebih dari 10 tahun lalu.

Lokasi Garuda Wisnu Kencana banyak memiliji tempat terbuka. Batu-batu alam raksasa setinggi lebih dari 10 meter menjadi elemen desain arsitekturnya. Tempat ini memang keren banget untuk dijadikan latar sesi pemotretan model. Sayangnya nggak ada model saat itu. Jadi ya saya akhirnya hanya menikmati ruangan-ruangan luar raksasa yang tercipta di dalamnya.

Di area kedatangan (sekaligus pintu keluar) terlihat berjejer toko-toko cenderamata dan kain. Juga ada dua tempat makan yang masing-masing punya kelasnya sendiri. Mau pilih yang buffet dengan harga cukup mahal, atau yang terkumpul ala pujasera dengan harga relatif murah. Yang lucunya, yang terkumpul di pujasera ini semuanya adalah jajanan khas Bandung, dari nasi timbel, mie ayam, hingga es dawet. Beberapa karyawannya pun terdengar bercakap-cakap dalam bahasa Sunda. Mungkin saja, Nyoman Nuarta, meski asli Bali, tak ingin lepas dari suasana Bandung tempat ia tinggal kini. Saya dan Bapak pun makan siang di sini.

Garuda Wisnu Kencana ini juga memiliki amphitheater yang keren. Setiap harinya mulai pukul 14:00 akan selalu ada pertunjukan seni di sini. Saya dan Bapak tak bisa menunggu hingga pertunjukan dimulai, karena masih banyak tempat yang ingin kami datangi setelah ini.

Pak Komang lalu mengantar kami ke tujuan berikutnya, pantai Dreamland. Lokasinya berada di dalam kompleks perumahan yang masih sangat baru, Pecatu Indah Resort. Kompleks ini lebih mengingatkan saya akan hunian kompleks megah semacam Pantai Indah Kapuk di Jakarta. Sangat jauh dari nuansa Bali, karena sudah terasa banget nuansa komersialismenya. Saat ini sudah ada padang golf, hotel mewah, dan pusat rekreasi air, namun hanya sedikit saja yang sudah membangun hunian di kompleks ini.

Saya pernah mampir ke pantai Dreamland sekitar akhir 2010 lalu, dan kini sudah sedikit berbeda. Dahulu saya bisa bebas parkir di atas pantai, namun kini semua parkir mobil diarahkan ke pusat rekreasi. Dari sana kami bisa menggunakan shuttle gratis yang rutin bolak-balik ke pantai. Jalan turun menuju pantai Dreamland pun telah berubah. Kini sudah ada tangga beton yang dibangun rapih, sementara dulu hanyalah tanah berbatu kasar saja.

Yang tetap sama adalah keindahannya. Pantai ini memiliki ombak yang cukup besar sehingga disukai wisatawan asing. Banyak yang mengadu kelihaian bermain selancar mengikuti ombak. Pasirnya pun bersih, mengalahkan keindahan pantai Sanur dan Kuta. Banyak orang asing berjemur menikmati matahari yang saat itu sudah tinggi. Entah kenapa mereka suka berjemur di siang yang terik ini. Panas banget soalnya. Kalau saya sih senang-senang saja, bisa melihat bikini bertebaran di pantai.

Kami hanya sejenak di pantai Dreamland, sebelum kami melanjutkan perjalanan ke pantai Padang-padang, yang tak jauh dari sana. Dreamland dan Padang-padang sebenarnya masih satu garis pantai, meski masing-masing memiliki akses masuk yang berbeda.

Untuk sampai ke pantai Padang-padang, saya dan Bapak harus berjalan turun melewati anak-anak tangga yang agak curam. Kami juga harus melewati jalan sempit yang diapit bebatuan karang di kiri kanan kami. Untuk melewatinya, kami harus bergantian dengan para pengunjung yang pergi meninggalkan pantai.

Pantai ini tak kalah indahnya memang dengan pantai Dreamland. Pasir yang putih dan bersih, serta ombak yang kencang, memang menarik banyak wisatawan asing. Hanya bedanya, di pantai ini banyak wisatawan asing yang juga mengajak anak-anak mereka. Saya melihat beberapa anak asyik membangun istana pasir. Ada pula yang berdiri di tepi pantai menunggu sisa ombak menyambar kakinya. Ekspresi keceriaan terpancar si wajah mereka.

Baik pantai Dreamland maupun Padang-padang memang hanyalah pantai yang sempit. Kurang dari 5 menit, saya sudah bisa menyusuri seluruh pesisirnya. Enaknya memang, pantai-pantai ini tak seramai Sanur dan Kuta. Mudah-mudahan saja keindahan pantai-pantai ini bisa bertahan lama, dan menjadi pilihan alternatif bagi wisatawan yang ingin menyendiri. Sebenarnya masih ada lagi satu pantai yang berada di garis yang sama. Namanya Blue Point. Kami tak sempat mampir ke sana, namun kalau mendengar cerita Pak Komang, karakteristik pantainya tak berbeda jauh dengan Dreamland dan Padang-padang.

Pak Komang lalu lanjut mengantar kami lagi terus ke dataran yang lebih tinggi. Pura Uluwatu ternyata tak jauh dari pantai-pantai ini. Di sini kami ingin melihat keindahan tari Kecak berlatar belakang matahari terbenam. Pagelaran tari ini diselenggarakan setiap hari pukul 18:00. Biaya masuk ke Pura Uluwatu tidak mahal, hanya Rp.3.000,00, namun biaya masuk untuk melihat pertunjukan tarinya lumayan menguras kocek dompet, Rp.80.000. Dengan harga ini, semoga saja pertunjukannya jauh lebih keren daripada tari Kecak yang saya tonton kemarin sore. Sebelum masuk, para penjaga memberikan kami kain. Untuk yang mengenakan celana panjang, diberikan kain kuning yang harus diikatkan di pinggang. Sementara untuk yang mengenakan celana pendek, diberikan kain panjang berwarna ungu untuk menutupi bagian bawah kaki.

Kami sudah masuk ke Puri Uluwatu sebelum pukul 17:00. Para penjaga mengingatkan saya untuk menyimpan kacamata dan topi. Di sekitar Puri Uluwatu ini ada banyak monyet liar. Berbeda dengan di Ubud, monyet-monyet di Uluwatu ini jahil. Mereka bisa dengan gampangnya merebut aksesoris yang dipakai pengunjung. Saat mendekati puri pun, saya melihat seekor monyet yang menyambar topi salah satu wisatawan asing. Si monyet langsung lari membawa topi tersebut ke atas atap salah satu bangunan. Saya hanya tertawa saja melihatnya. Mudah-mudahan si empunya topi sudah mengikhlaskannya.

Saya dan Bapak lalu bergegas berjalan menuju area amphitheater. Ruangan terbuka berbentuk lingkaran ini dikelilingi setengahnya oleh bangku berundak. Sisi lain dari lingkaran langsung menghadap ke arah laut. Menariknya, di sisi ini terdapat gapura mini, dengan terbenamnya matahari jatuh persis di antara gapura ini. Sungguh menakjubkan, membangun amphitheater yang mempertimbangkan elemen sinar matahari sebagai bagian dari desain.

Masih banyak bangku kosong. Saya pun memilih persis di seberang gapura, supaya saya bisa melihat dengan jelas terbenamnya matahari. Sayangnya deretan bangku paling bawah sudah ditempati, padahal itu posisi paling pas untuk mengambil gambar.

Pukul 18:00 tepat pertunjukan pun dimulai. Amphitheater benar-benar penuh. Bahkan penyelenggara terpaksa menambahkan bangku-bangku plastik untuk menampung luapnya pengunjung. Lebih dari 500 orang yang datang dari berbagai bangsa memenuhi amphitheater. Padatmenunggu atraksi Kecak yang katanya istimewa.

Pagelaran tari Kecak di Uluwatu ini ternyata benar-benar luar biasa. Tarian ini menggabungkan kuat tari tradisional Kecak Bali dan improvisasi interaksi dengan penonton. Sambutan yang bernada guyon sempat disampaikan dalam bahasa Jepang. Kebetulan saat itu memang banyak sekali turis Jepang yang menyaksikan acara ini. Kemunculan tokoh Hanoman pun sungguh menghibur. Ia tiba-tiba sudah duduk di balik bangku penonton, lalu melewati beberapa penonton sambil menggaruk-garuk kepala mereka. Saya tersenyum ketika melihat seorang anak kecil yang duduk di depan saya melambaikan tangan ke Hanoman. Si Hanoman pun kembali melambaikan tangannya dengan ramah.

Pertunjukan terus berlanjut diikuti dengan terbenamnya matahari di latar belakang. Pemandangannya sungguh luar biasa. Lampu penerangan amphitheater pun mulai dinyalakan. Penonton berulang kali berdecak kagum dan bertepuk tangan. Puncaknya adalah Sanghyang Api, saat Hanoman terikat di tengah panggung dikelilingi api besar menyala. Ia berhasil membebaskan diri dan keluar melompati api. Ia lalu berlari dan dengan kedua kaki telanjangnya menepis dan memadamkan api. Adegan ini diikuti dengan tepuk tangan penonton yang membahana.

Pagelaran tari Kecak ini pun berakhir pukul 20:00 lewat. Penonton turun dengan hati-hati karena suasana sudah cukup gelap. Saat keluar kami pun mengembalikan kain yang mengikat pinggang kami. Malam ini saya sungguh terpuaskan melihat atraksi tari tradisional Bali yang bisa dikemas dengan cara yang sangat menghibur. Hmm, andaikan saja tari-tari dari daerah lain di Indonesia bisa dibuat model yang serupa, tentu akan semakin menarik minat wisatawan yang berkunjung ke daerahnya.

Malam ini adalah malam saya dan Bapak terakhir ke Bali. Nggak afdol rasanya kalau belum menikmati seafood Jimbaran. Pak Komang pun langsung mengantar kami ke sana. Kami sudah cukup lelah sehingga tak berlama-lama di Jimbaran. Usai menikmati cumi asam manis dan udang lada hitam, kami pun beranjak mencari penginapan dan istirahat.

Sebenarnya kami belum tahu mau menginap di mana malam ini. Yang jelas inginnya sih bisa dapat penginapan di sekitar Kuta, supaya tidak jauh saat kami berangkat ke bandara esok pagi.  Lagi pula mencari taksi di Kuta jauh lebih mudah daripada mencarinya di tempat kami menginap semalam sebelumnya di Sanur.

Kami pun menyusuri Jl. Raya Kuta. Hotel yang pertama kali kami datangi ternyata sudah penuh. Lalu kami melewati hotel yang tampak terlihat sederhana. Namanya Hotel Darmadi, dan ternyata masih banyak kamar kosong. Tinggal pilih mau yang sekedar kamar, kamar dengan kipas angin, atau kamar dengan AC. Harganya bervariasi dari Rp.150.000,00 sampai dengan Rp.300.000,00. Kualitas kamarnya memang sekedarnya. Dua tempat tidur dengan selimutnya, televisi kecil, handuk (harus diminta) dan teh panas di pagi hari. Yah kalau memang kamar cuma untuk sekedar numpang tidur, bisa dibilang sudah cukup memadai.

Saya dan Bapak pun langsung merebahkan diri di tempat tidur. Esok pagi saja kami bersiap dan beres-beres sebelum berangkat ke bandara Ngurah Rai menuju kembali ke kota Jakarta.

Keesokan paginya, kami berangkat meninggalkan hotel dengan taksi. Seperti saya duga, nggak sulit mencari taksi di Jl. Raya Kuta. Tinggal cegat yang lewar, lalu berangkat. Kami mampir sejenak di pusat oleh-oleh Rama Krisna, membeli berbagai makanan, sebelum lanjut ke bandara.

Menyenangkan juga bisa berlibur sejenak seperti ini, sebelum akhirnya kembali aktif terbenam kembali dalam kesibukan diri di kota Jakarta.

Sampai jumpa di liburan selanjutnya ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge