Singapura dan transportasinya

Sudah beberapa kali saya ke Singapura. Terakhir saya ke negeri tetangga ini setahun yang lalu untuk menghadiri seminar. Kali ini saya datang untuk berlibur bersama keluarga saya. Setiap kali saya datang ke negeri ini, setiap kali juga saya kembali takjub melihat budaya mereka berjalan kaki kemana-mana.

Saya akui Singapura memang negeri yang luar biasa. Hal yang selalu saya amati adalah desain urban kota/negeri ini. Kota yang sungguh menghormati kaum pejalan kaki. Nggak ada jalan besar dan kecil di Singapura yang rasanya tidak ada jalan pedestrianisasinya. Kota yang pengemudi mobilnya selalu mengalah menunggu pejalan kaki menyeberang (meski tak ada lampu lalu lintas pengaturnya).

Kalau dipikir-pikir, transportasi publik dan desain tata kotalah yang membuat pergerakan penduduk di negeri ini terasa manusiawi. Kemana-mana di Singapura waktu tempuh terlama hanya 30 menit. Itu dilakukan menggunakan MRT atau bus umum. Rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk perjalanan per hari hanya 2-3 dollar Singapura. Bahkan ada yang bilang dengan 6 dollar Singapura, seseorang sudah bisa keliling Singapura seharian.

MRT dan bus yang nyaman, aman, dan tepat waktu membuat warga yang tinggal jauh dari pusat kota pun tak keberatan. Orang pun memilih menggunakan MRT atau bus untuk berangkat ke tengah kota. Akibatnya, nggak banyak yang memiliki mobil dan motor di Singapura. Lagi pula, harga jual mobil di Singapura jauh lebih tinggi daripada di Indonesia. Belum lagi menghitung ongkos bensin dan parkir yang jauh lebih edan daripada Jakarta. Ongkos merawat kendaraan terlalu tinggi untuk bisa dimiliki oleh penduduk kebanyakan. Itulah mengapa MRT dan bus menjadi pilihan pertama.

Alternatif transportasi untuk yang punya rejeki berlebih adalah taksi berargo. Taksi dan bus tak boleh berhenti sembarangan. Masing-masing sudah punya halte dan tempat drop off yang ditentukan. Ada jalur khusus untuk taksi menurunkan dan menaikkan penumpang. Para taksi harus antri di jalur ini, apapun merknya. Dengan cara seperti ini, artinya semua merk taksi di Singapura dituntut punya standar kualitas yang sama.

Saya sempat ngobrol dengan salah satu supir taksi. Takjub saat ia cerita kalau ia setiap tahunnya aelalu berjalan-jalan ke luar negeri. Ia sudah pernah menjelajah berbagai sudut Indonesia, ke Cina, Jepang, Timor Leste, bahkan hingga ke Madagaskar. Wow, berarti gaji seorang supir taksi di Singapura sungguh mencukupi.

Berjalan kaki di tengah kota Singapura itu menyenangkan. Kalau siang sebetulnya nggak kalah panasnya dengan Jakarta, namun pohon-pohon besar yang berada di sepanjang trotoar yang lebar ini meneduhkan. Bisa dibilang tak ada akses pejalan laki yang terputus. Jalur pedestriannya terhubung satu dengan lainnya dan hampir tak ada undakan tangga yang mengagetkan. Para pengguna kursi roda bisa berjalan kemana-mana sendirian karena tersedia jalur ramp untuk mereka lewat.

Kemana-mana berjalan kaki dan menggunakan transportasi umum sudah menjadi hal yang lumrah, karena mudah, murah, dan nyaman. Saya bisa berjalan kaki melewati jembatan, underpass, menembus mall dan bangunan yang  tak berpagar dan berbaur dengan ruang luar. Saya bisa duduk-duduk di bangku trotoar Orchard Road sambil melihat burung-burung yang hidup nyaman di hutan kota ini. Saya bisa melihat atraksi dan eksibisi di trotoar yang membuat kota menjadi semakin hidup.

Mungkin kesalahan Jakarta adalah sudah terlalu terlambatnya menyediakan transportasi publik dan infrastruktur yang ramah bagi pejalan kaki. Orang pun lalu terlanjur memilih kendaraan bermotor pribadi. Semakin lama semakin banyak yang kemana-mana menggunakan motor dan mobil. Akibatnya, pelebaran jalan raya semakin diperlukan demi mengakomodasi kebutuhan itu. Yang kalah adalah pejalan kaki. Lebar jalur pedestrian terpotong, termakan oleh jalan raya.

Kalau di Singapura yang berkuasa di jalan adalah para pejalan kaki, sementara di Jakarta penguasanya adalah para pengemudi kendaraan bermotor. Sungguh terbalik. Entahlah kapan kondisi jalan raya di Jakarta bisa mengikuti Singapura. Kalau melihat perilaku Pemkot dan warga Jakarta sekarang, kayaknya angan-angan hidup manusiawi di Jakarta cuma bisa mimpi.

Saya sendiri sudah mencoba menggapai impian itu dengan berkontribusi menjadi penumpang angkutan umum Jakarta (yang tidak nyaman) dan berjalan kaki kemana-mana (meski tidak nyaman juga). Saya percaya, kalau ada jutaan manusia Jakarta mau berbuat serupa, tekanan terhadap Pemkot Jakarta untuk menyediakan transportasi umum dan pedestrian yang manusiawi pun bisa segera terwujud.

Semoga saya tidak salah memimpikan ini 🙂

3 thoughts on “Singapura dan transportasinya”

  1. Nice writing Pit. Yg gini2 nih emang yang jadi pemikiran kita semuanya, karena ini sudah menjadi – kasarnya- lingkaran setan. Yang naik kendaraan bermotor gak mau jalan/naik transportasi umum karena buruknya kondisi pedestrian & transportasi massa. Mereka bilang mau jalan kaki asal kota jadi adem, gada polusi, pedestrian oke. Tapi pemerintah sendiri masih ngeduluin pengendara bermotor.

    Gini2 emang harus dipaksain. Coba kalo pemerintah maksain jalanan gak diperlebar, pedestrian dibagusin, transportasi dibuat oke, kendaraan bermotor dimahalin. meski ada caci maki dari beberapa pihak, trus maju harusnya pemerintah. Lama2 (insya ALLAH) bisa kok. Kayak dulu sosialisasi seat belt, buktinya bisa diterapkan. Emang untuk hal ini lebih kompleks, tapi warga juga bantuin pemerintah yuk.. jangan cuma bisa nuduh. Sama aja kayak marah2 banjir, tapi dia masih buang sampah sembarangan.. Hehe..
    Sekian dan terima zakat infaq.
    titiw recently posted..Weekly Photo Challenge: ComfortMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge