Rambut Gondrong Masa Lalu

Hari ini (sejak kemarin sih) para kaum adam di Twitter kembali bernostalgia. Banyak loh dari kita (termasuk saya sendiri) yang penah berambut gondrong. Halah, masa lalu banget ini sih.

Petualangan saya berambut gondrong dimulai semenjak saya ikutan OS MAD (Masa Adaptasi Diri) di IMA-G ITB (Ikatan Mahasiswa Arsitektur Gunadharma – ITB), himpunan tempat saya bernaung kala kuliah dulu. Saat OS MAD, rambut saya sempat diacak-acak, hancur lah pokoknya. Mau nggak mau, setelah acara berakhir, saya harus membotakkan diri. Plontos. Banget.

Mumpung masih kuliah, saya juga ingin dong merasakan enak/nggak enaknya berambut gondrong. Selama dua tahun saya pun nggak memotong rambut saya, kecuali sekedar merapihkan saja. Hasilnya, rambut saya pun panjang hingga sepunggung. Anehnya, rambut saya ini aslinya lurus. Namun begitu memanjang hingga leher, mulai mengikal.

Jadi kalau dulu di jurusan ada “pertempuran” antara para pria berambut lurus dan berambut keriting, maka saya pun hanya bisa terjebak di tengah-tengah. Untunglah saya baik hati dan tidak sombong, dan tidak membeda-bedakan teman berdasarkan panjang dan bentuk rambutnya. Ini apaan sih?

Masa-masa keemasan berambut gondrong pun berakhir menjelang saya memasuki Tugas Akhir. Ya iyalah, bisa digeplak dosennya kalau pas sidang tugas akhir rambut saya masih gondrong. Sebelum saya dan teman-teman saya berpisah dengan rambut kami masing-masing, maka kami pun mengambil sebuah keputusan yang sangat penting. Kami harus berfoto bersama di Jonas Photo!!

Kalau ingat dulu melihat ekspresi mbak fotografernya saat memotret kami semua… Sungguh priceless.

Postingan ini sungguh penting sekali ya?

Oh ya, cek juga ini nih, kumpulan avatar gondrong se-Twitter.

7 thoughts on “Rambut Gondrong Masa Lalu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge