Terperangkap

Aku terduduk menyendiri. Sekelilingku gelap. Hanya lampu bohlam kusam menggantung di langit. Itu pun sebentar-sebentar padam. Rasanya bulu kudukku tak pernah bisa beristirahat. Tegang, menemani hatiku yang berdebar takut.

Kalau tak terpaksa, tak mau aku menyendiri duduk di kotak sempit ini. Bau menusuk keluar dari salah satu sudut bawah kotak yang terlalu gelap untuk bisa kulihat. Aku menggoyangkan kedua telapak kakiku, khawatir kalau makhluk kecil bersungut dan menjijikkan itu kembali merayap kakiku lagi.

Aku berusaha menahan diri, meski aku sudah tak tahan lagi diam duduk di sini. Saat ini aku hanya bisa berdoa agar cobaan ini segera berakhir. Duh, dengusan angin pun ikut menambah ketakutanku. Suara-suaranya terdengar seperti nafas makhluk yang menakutkan. Aku tahu ini hanya imajinasiku, tapi aku tak kuasa menghilangkannya dari pikiranku.

Sudah. Sudah. Aku tak tahan lagi. Segerakan aku keluar dari ruang sempit ini!

Doaku pun akhirnya terjawab. Rasa melilit di perutku pun berangsur hilang. Sisa energi kukerahkan untuk membuang isi perutku ke lubang hitam di bawahku.

Aaah.. Aku pun bernafas lega. Segera kupakai celanaku, kubuka pintu, dan keluar dari toilet umum celaka ini. Hati ini pun akhirnya bisa merdeka dari rasa takut.

One thought on “Terperangkap”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge