Malam di Rumah Sakit

Aku terbangun di tengah malam. Rasanya aku berada di sebuah bilik inap rumah sakit. Nuansa kolonial menghiasi isi ruangan. Beberapa cat di dinding terlihat mengelupas. Ruangan ini terasa sumpek, baunya tak mengenakkan. Serasa bangunan lama yang jarang mendapat perawatan.

Aku mendengar langkah kaki di luar kamar. Aku menunggu, berharap ada yang membukakan pintu dan menjengukku. Lama kutunggu, tapi tak ada yang datang ke kamarku. Apakah mereka tak tahu kalau aku sudah terbangun? 

Aku mencoba menjerit memanggil perawat, namun tak ada suara yang keluar. Tenggorokanku kering, serasa pasir memenuhinya. Sakitnya menghilangkan keinginanku untuk berteriak lebih lanjut.

Apakah aku yang harus keluar kamar? Aku pun mencoba bangun, dan baru kusadari kalau kedua kakiku sungguh sakit. Tak kuasa aku berdiri, apalagi mencoba berjalan. 

Tak ada jalan lain. Aku harus bisa menyeret sendiri badanku ke luar. Kujatuhkan diriku ke lantai. Geraian rambutku yang panjang jatuh menutupi wajah. Aku mencoba merayap sambil menahan sakit di kedua kaki yang kian menyiksa.

Apa yang sebetulnya terjadi pada diriku? Kecelakaan? Mengapa aku tak ingat apa-apa? 

Aku merayap mendekati pintu. Nyeri di kaki hanya bisa kutahan, sambil aku gerakkan badan dan kakiku perlahan satu demi satu. Dari lantai, aku gapai pegangan pintu dan kubuka. Decitan dari bawah pintu terdengar saat pintu kubuka perlahan.

Aku merangkak ke luar kamar, memasuki selasar dengan pencahayaan yang remang-remang. Rambutku yang berantakan berulang kali jatuh menutupi wajah, meski sudah kusibak berulang kali. Aku menunggu di depan, berharap ada perawat yang lewat mendekat.

Yang kutunggu pun akhirnya datang. Dalam cahaya yang terbatas, aku melihat beberapa perawat berseragam putih terlihat berjalan mendekat. Aku menggapaikan tanganku, mencoba menarik perhatian mereka. Sekali lagi aku mencoba bersuara, berteriak, meski akhirnya hanya geraman suara yang bisa keluar.

Tiba-tiba mereka menghentikan langkah kaki. Mereka seakan ragu untuk mendekat. Aku terus melambaikan tangan. Satu orang perawat berjalan maju, sementara yang lainnya terlihat menunggu di belakang. Aku bertanya-tanya, apa lagi yang mereka tunggu? Kenapa mereka tak segera menghampiriku? 

Si perawat mendekatiku dengan perlahan. Cahaya selasar begitu suram. Mungkin saja ia tak bisa melihatku dengan jelas. Aku saja tak bisa melihat wajah si perawat. Tiba-tiba ia berhenti, lalu memandang ke teman-teman perawat di belakangnya. Entah apa yang mereka bicarakan, hingga akhirnya semua pun ikut bergerak maju.

Syukurlah. Aku mencoba menyeret lagi kakiku, menggeser-geser badanku mendekati mereka. Para perawat itu lalu melangkahkan kakinya dengan cepat. Sepertinya keraguan mereka hilang. 

Saat itulah baru aku sadar. Kalau aku tak sendirian di selasar ini. Aku melihat dalam kesuraman cahaya, bergeletakan benda-benda gelap yang mirip dengan badan manusia. Ada yang aneh dengan suasana ini. 

Firasat burukku ini datang terlambat. Para perawat sudah sampai di hadapanku. Aku menengadahkan kepala, mencoba melihat wajah mereka. Aku sibak rambut panjangku untuk melihat dengan lebih jelas. 

Seketika itu juga aku menjerit keras, meski kering di leher ini hanya membuat suaraku seperti gumaman. Ketakutanku di ambang batas saat kulihat wajah para perawat yang pucat. Urat nadi biru keluar menonjol dari kulit wajah yang mengering. Gigi tajam bersisakan bekas darah menonjol dari bagian atas mulut mereka. Mata mereka pucat putih kosong. 

Salah satu perawat menyambar leherku, mengoyaknya dengan taring tajam di mulutnya. Perawat lainnya menggerogoti kakiku yang sakit. Belum lagi aku mencoba berteriak, perawat-perawat lainnya sudah mengerumuniku, menancapkan taring-taringnya ke kulit badanku. 

Seketika itu pula pandanganku mulai gelap. Rasa sakit di seluruh badanku tak terasa lagi. Semuanya pun menjadi hitam saat taring tajam itu menancap di kedua mataku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge