Berjalan Kaki di Jakarta

Beberapa hari lalu, sekitar jam 7 malam, saya berjalan menuju FX di Sudirman. Tahu dong banyaknya galian saluran air di sana? Nah, koran-koran kan ngeributin jalan yang jadi macet, karena sebagian jalur lambat terambil jatahnya gara-gara galian. Seharusnya para pengguna trotoar pun protes pula. Lah, gimana nggak? Urukan galian itu kan ditimbunnya di atas trotoar jalan.

Jalur pedestrian di Jalan Sudirman depan area Senayan kan termasuk yang lumayan lebar. Nah, gara-gara galian itu, jatah pejalan kaki jadi menyempit. Belum lagi, kala itu pasca hujan. Tanah-tanah tumpukan galian membuat jalan menjadi becek dan licin. Nggak kebayang sih itu, pasti nanti trotoarnya rusak pasca proyek galian saluran air itu selesai.

Sempitnya pedestrian karena timbunan tanah akibat galian

Ya ya ya, saya sih sudah tahu (dan mencoba maklum) kalau kaum pejalan kaki di Jakarta itu prioritas kesekian, setelah kendaraan bermotor. Bujet infrastruktur lebih kelihatan untuk pembangunan jalan tol dan jembatan, dan jarang terlihat dipakai untuk membuat para pejalan kaki menjadi lebih aman dan nyaman. Boro-boro memikirkan para disabilitas, para pejalan kaki biasa saja harus waspada kalau melangkah. Siapa yang pernah tersandung di trotoar? Atau malah-malah jangan-jangan pernah ada yang masuk ke lubang di trotoar lagi? Untungnya saya belum pernah sih terjatuh ke dalam lubang, tapi kalau tersandung, entah sudah berapa kali.

Kalau sudah begini, jujur saja, saya iri banget dengan pedestrianisasi yang dibangun di Hongkong, Singapura, atau Jerman. Bahkan saat saya ke Shenzhen, Cina, saja, yang awalnya saya kira kondisinya nggak berbeda dengan Jakarta, ternyata jauh lebih nyaman berjalan kaki di sana daripada di kota ini.

Galian dan perbaikan pasti selalu ada, karena toh infrastruktur butuh perawatan. Bedanya adalah, kalau di Hongkong atau Singapura, kontraktor yang melakukan perbaikan harus menyiapkan jalur alternatif untuk para pejalan kaki. Nggak boleh ada kejadian, para pejalan kaki harus berjalan di atas jalan raya. Jalur alternatif ini (meski hanya menggunakan papan-papan tripleks) tetap dibangun dengan mempertimbangkan para disabilitas. Tetap ada ramp, saat peralihan dari trotoar ke zebra cross. Kalau proses pembangunan itu mengganggu arus lalu lintas dan penyeberangan pejalan kaki, maka akan ada tim kontraktor yang menjaga di semua sudut perempatan, dan ikut mengarahkan ketertiban lalu lintas. Intinya, perbaikan trotoar atau jalan nggak boleh menghilangkan jalur pergerakan manusia dan kenyamanan yang sudah ada sebelumnya.

Kayaknya, sepanjang para pejabat nggak pernah merasakan kehidupan para pejalan kaki di Jakarta, kebutuhan akan keamanan dan kenyamanan berjalan kaki di atas itu hanya akan jadi mimpi saja.

Nikmatnya berjalan kaki di Mampang Prapatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge