Belanja Impulsif

Kemarin saya jalan-jalan ke Indocomtech. Seperti kebiasaan saya sebelumnya, saya sudah punya rencana, kalau saya hanya akan membeli tinta printer. Niatan ini pun terlaksana. Di sana, meski saya beredar ke mana-mana, tidak membuat saya ingin belanja hal-hal lain di luar yang saya butuhkan. Ada sih, ingin beli hard disk eksternal tambahan, tapi begitu dapat masukan kalau harga hard disk melonjak pesat karena banjir di Thailand, saya pun urung untuk membeli.

Beberapa kali saya sempat berjalan dengan beberapa teman. Ada yang bisa menahan diri, ada yang ternyata bisa belanja barang dengan impulsifnya. Nggak apa-apa juga sih, toh si teman belanjanya pakai duitnya sendiri. Bukan hak saya juga untuk melarangnya. Lalu apa dong masalahnya? Ya nggak ada. Tulisan ini memang sudah selesai. Looh..

Hahaha nggak deng. Yang mau saya sampaikan adalah, seperti para motivator dan financial planner suka bilang, belanja impulsif berakibat boros. Kalau ini sih, semua orang juga sudah tahu ya? Cuma memang kemampuan diri untuk menghentikannya memang sulit. Saya juga pernah mengalami hal seperti ini beberapa tahun lalu.

Jadi sejak tahun 1989 saya itu penggila komik Amerika. Yang import ya. Dari awalnya saya cuma belanja sedikit, makin lama makin menggila setiap bulannya. Naluri mengkoleksi membuat saya sukar menghentikan niatan belanja ini. Untungnya sih masih pakai duit orang tua (eh ini untung atau nggak ya?). Lah ya, pas tahun segitu ya saya belum kerja dan belum pernah punya duit sendiri. Saking gilanya, saya suka nitip ke Ibu atau Bapak saya kalau lagi dinas ke luar negeri. Saya ketik itu list komik yang saya mau, tanpa berpikir berapa uang yang harus dikeluarkan. Begitu Ibu atau Bapak kembali membawakan komik, saya girang setengah mati. Meski sudah dibilang kalau komik saya menghabiskan duit banyak, saya nggak pernah terlalu mikirin.

Lalu datanglah tahun 1998 dengan krisis moneternya. Nilai Rupiah melemah. Kalau awalnya 1 USD = Rp.2.500, maka saat itu 1 USD bisa mencapai Rp.15.000. Dampaknya berasa banget ke diri saya. Mau nggak mau saya harus menyetop kebiasaan boros saya ini. Komik Spawn misalnya, yang saya punya dari edisi nomor 1, dan rata-rata awalnya saya beli dengan harga Rp.7.500, harganya langsung melonjak drastis menjadi Rp.30.000-40.000. Jelas nggak mungkin saya terus melanjutkannya.

Saat itulah saya bisa menghentikan belanja impulsif saya di komik. Hahaha mungkin karena sudah pernah kena tekanan seperti ini, akhirnya saya selalu berpikir 2-3 kali setiap kali membeli sesuatu. Perlu atau nggak? Darurat harus dibeli sekarang atau nggak? Untuk saya pribadi, barang itu didiskon atau nggak bukanlah yang menjadi pemicu untuk saya belanja. Lebih baik saya membeli barang pada saat saya membutuhkannya, meskipun saat itu sedang tidak ada diskon sekalipun.

Kalau ada niatan impulsif saya untuk belanja suatu produk, dan ternyata di toko akhirnya saya bisa membatalkan niatan saya itu, begitu sampai di rumah biasanya saya benar-benar bernafas lega. Huf, pikir saya, untung saja nggak jadi beli. Kalau beli juga buat apa lagi? Namun kalau ternyata saya memang benar-benar membutuhkan barangnya, ya besok toh tinggal datang lagi ke tokonya. Beli barangnya dan selesai.

Hahaha tapi kan itu saya ya… 🙂

4 thoughts on “Belanja Impulsif”

  1. Kalau komik bisa balik lagi and beli kemudian hari..
    Lha kalau sepatu?
    WHooa pernah ya boow gue nahan diri beli itu sepatu, akhirnya gak tahan besoknya balik ke toko itu daaaaaaaaaan sizenya abis! Bahkan sampe ketiga cabang tokonya juga gak ada.
    Kesimpulannya, boleh belanja impulsif kalo sepatu! 😀 #pembenaran haha
    Ceritaeka recently posted..Sejempol Saja JauhnyaMy Profile

  2. @eka: kalau sepatu kaca boleh beli, karena limit keberadaannya kan cuma sampai jam 24:00.

    @sabai: harddisk seagate pabriknya tutup di sana. Harddisk western digital buka, tapi supplier mereka tutup. Jadi belum ada produksi harddisk baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge