Hujan dan Billboard

Siang tadi hujan turun sangat deras, diikuti angin kencang. Saya sempat basah kuyup sejenak tadi sesaat sebelum masuk taksi di kala hujan menderas tiba-tiba. Sorenya, sekembalinya saya meeting di Senayan, hujan sudah berhenti. Seperti biasanya, hujan deras dan angin kencang mendadak, akan diikuti dengan kemacetan Jakarta yang menggila.

Hari ini pun tidak berbeda dengan hari-hari serupa dahulu. Mobil tak bergerak dimana-mana, karena muncul banyak genangan dadakan. Saya berada di bus Trans Jakarta menuju arah Tomang pun ikut berhenti. Jalur bus dipenuhi oleh mobil yang ikut berdesak-desakan. Perjalanan yang sangat lama, hanya dari Semanggi hingga Rumah Sakit Harapan Kita.

Sesampainya di halte tujuan, saya melihat angin kencang telah menghajar 2 billboard. Di seberang Harapan Kita, dan yang berada persis di depannya. Tiang raksasa penyangga tak berkutik. Billboard roboh menimpa dan ikut menghancurkan pohon di sebelahnya. Kemacetan terjadi karena mengevakuasi billboard dan potongan pohon jelas bukan hal yang mudah.

Malam ini saya membaca tweet @ndorokakung ini:

Seketika saya teringat dengan cerita tentang kota Sao Paulo di Brazil. Kota ini menjadi kota satu-satunya di dunia, yang bukan bagian dari negara komunis, yang melakukan pembersihan iklan ruang luar besar-besaran. Walikota Gilberto Kassab menjelaskan, kalau polusi tidak hanya dari udara, air, dan suara, tapi juga visual. Oleh karena itu polusi semacam ini harus diperangi. Baca saja tulisan tentang Sao Paulo ini lebih jauh.

Ternyata pembersihan polusi visual ini didukung penuh warga kota. Boro-boro billboard raksasa, menempel plamfet di dinding saja sudah pasti dikenakan denda. Mau lihat seperti apa kota Sao Paulo tanpa iklan luar sama sekali? Coba lihat saja video berikut.

Kalau sudah melihat ini, pasti langsung iri. Kota bisa bersih dari billboard pengganggu visual. Sebenarnya bukan berarti iklan ruang luar tidak perlu ada, tapi kalau melihat di Jakarta, uanglah yang sepertinya berbicara. Billboard bisa ditemukan di manapun, dengan desain seadanya, tanpa memperhatikan lingkungan sekitarnya. Entahlah apakah Dinas Tata Kota dan Dinas Pertamanan punya panduan tentang ini. Kalaupun memang ada, entah apakah ini mereka pedulikan atau tidak.

Kalau billboard dibangun dengan batasan yang lebih ketat (bahkan kalau perlu nggak perlu ada), mungkin kejadian semacam di atas tidak akan terjadi. Plus, mata kita pun jadi lebih sehat memandang jauh tanpa distraksi visual berbagai warna dan terang cahaya di hadapan kita.

4 thoughts on “Hujan dan Billboard”

  1. Wow! Ngeri banget sampe jatuh gitu! Kalau menghilangkan bilbor sama sekali dirasa sulit, bisa dimulai dengan melarang bilbor yang pakai tiang seperti di gambar yang ambruk itu. Jadi iklan luar ruang masih bisa tapi menempel di dinding gedung, misalnya (seperti yang di sisi luar PIM 2 atau mal-mal lain itu lho). Yakale blog ini dibaca orang pemprov DKI 🙂
    sabai recently posted..My Top Notch In 2011My Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge