Kisah Seorang Pesulap

Pria itu mengambil nafas panjang. Meski sudah memiliki jam terbang tinggi dalam hal sulap menyulap, setiap kali ia berhadapan dengan banyak audiens, kegugupan selalu muncul. Ia menyeka keringat yang mengalir mendekati portable mic yang dipasang dekat mulutnya.

Pria itu mengucapkan selamat malam kepada audiens di hadapannya, lalu mengeluarkan beberapa kartu domino dari lengan bajunya. Ia menaruh kartu-kartu kecil dengan titik-titik merah itu di telapak tangan kirinya. Si pesulap mengucapkan mantra, lalu tangan kanannya mengusap tumpukan kartu-kartu domino di telapak tangan kirinya. Perlahan, seiring bergesernya tangan, kartu-kartu domino itu berubah menjadi selembar kartu remi. Audiens yang melihatnya pun berdecak kagum.

Si pesulap mengeluarkan trik kedua. Sebuah bohlam lampu ia keluarkan dari tas yang ia kenakan di pinggang. Si pesulap berkata kalau bohlam ini adalah benda ajaib, yang bisa menyala hanya dengan menggunakan listrik dari dalam tubuhnya. Seutas kabel ia keluarkan dari tas. Ia tempelkan salah satu ujungnya ke bohlam, dan ujung lainnya ke lubang hidungnya. Ia kembali mengucapkan matra, dan seketika itu pula bohlam menyala terang. Audiens mulai bertepuk tangan.

Trik ketiga adalah pamungkas dan penutupnya. Si pesulap melepas kabel yang menempel ke bohlam, dan bohlam pun kembali mati. Ia mengembalikan kabel ke tas, dan mengeluarkan sekantung plastik kresek transparan. Kali ini ia bercerita kalau nafasnya juga mengandung aliran listrik. Ia memasukkan bohlam tadi ke dalam kantung plastik kresek. Si pesulap mengucapkan mantra lalu memberikan tiupan ke dalam plastik. Bohlam pun kembali menyala terang di dalam plastik kresek. Tepuk tangan audiens pun bertambah keras.

Si pesulap senang karena tiga triknya bisa memberikan hiburan. Kini saatnya ia menuai hasil. Ia mengucapkan terima kasih kepada seluruh audiens.

Si pesulap lalu bergerak maju, melewati lorong sempit di hadapannya. Berulang kali ia mengucap permisi saat harus melewati desakan orang-orang yang bergelantungan. Plastik yang masih berisi bohlam menyala ia sodorkan ke setiap bangku yang ia lewati, berharap mereka yang terhibur ikhlas memberikannya seribu dua ribu untuk ia makan malam nanti. Tak lama kemudian, bus berhenti. Si pesulap lalu turun, dan mencari peruntungan di bus berikutnya.

One thought on “Kisah Seorang Pesulap”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge