Bercerita di dalam Perjalanan

Apa sih yang biasa kamu lakukan kala kamu dalam keadaan menunggu yang super sangat lama sekali banget? Seperti yang saya alami sekarang, berada dalam penerbangan yang memakan waktu 8 jam lebih, dari Jakarta ke Medinah, untuk ibadah Umrah.

Kalau dulu terakhir saya melakukan perjalanan yang lebih jauh dari ini, saya menyiapkan buku bacaan. Nggak ada pilihan lain kala itu. Apalagi kala itu saya nggak punya smartphone. Namun untungnya di penerbangan kala itu saya bisa menikmati suguhan hiburan film di dalam pesawat.

Kali ini di maskapai yang saya naiki ini, tak ada hiburan semacam itu. Untungnya kali ini saya sudah punya iPhone dan iPad. Namun entah kenapa meski ada cukup banyak game di iPad saya, saya nggak terlalu tertarik untuk memainkannya. Saya juga tak membawa buku sama sekali (kecuali buku petunjuk dan doa Umrah yang sudah dibaca di satu jam pertama perjalanan). Mungkin memang kebiasaan saya yang lebih suka untuk “membuat” daripada “mengkonsumsi” yang bikin saya cepat jenuh akan membaca atau bermain game.

Jadi apa dong yang akhirnya saya lakukan? Saya jadinya lalu mencoba menyibukkan diri dengan mengamati sekitar isi kabin pesawat, lalu memotret dan menuliskannya. Seperti kebiasaan saya setiap kali bepergian ke luar negeri (atau ke tempat di dalam negeri yang unik), saya suka berbagi cerita. Kalau dulu setiap kali perjalanan, saya menuliskannya di notebook lalu sekembalinya ke Jakarta, saya olah dan jadikan ebook. Atau saya tulis cerita singkat lalu saya publikasikab di blog (dengan foto menyusul setelah kembali ke Jakarta).

Kali ini saya mau mencoba sesuatu yang beda. Inginnya sih bisa live tweet dengan hashtag yang saya tentukan sendiri, biar real time. Namun belum tentu saya dapat koneksi yang memadai di tempat tujuan. Lagian di dalam pesawat seperti sekarang, mana ada internet.

Nah, sekarang saya lagi coba bereksperimen membuat jurnal dengan Evernote. Saya bisa menuliskannya offline, langsung lengkap dengan waktu dan geotag (lokasi saya menulis). Saya juga bebas memasukkan foto yang saat itu saya jepretkan. Nanti ketika saya sudah mendapatkan koneksi internet (entah wifi, entah membeli kartu data di negeri sana), Evernote akan otomatis mempublikasikannya online. Ceritanya pun langsung runut (mudah-mudahan begitu ya, wong ini baru nyoba). Kelebihannya memang di proses sinkronisasinya. Jadi kalau misalnya saya mengetik ceritanya berbeda-beda via iPhone, iPad, web, atau desktop, semua akan tersinkronisasi otomatis seketika saya mendapat koneksi online.

Semua cerita ini tentunya masih dalam draft. Ya minimal sebagai pengingatlah untuk nanti diolah kembali. Bercerita adalah cara yang memang saya lakukan agar saya tidak lupa. Saat saya membacanya lagi tahun depan misalnya, saya akan bisa mengingat cepat memori yang mungkin sudah terpendam di bawah otak. Mudah-mudahan saya masih diberikan waktu untuk merapihkannya nanti sekembalinya saya ke Jakarta.

Untuk teman-teman yang ingin melihat apa yang saya lihat, silakan kunjungi Evernote saya, yang kali ini saya buka untuk publik. Ini URL-nya: https://www.evernote.com/pub/pitra/pitrasnotebook

Oh ya, karena tetap niatan utama saya adalah untuk beribadah Umrah, maka saya tidak akan menuliskan cerita (secara hampir real time), apa yang akan saya alami di Medinah dan Mekah ya. Sayang kan soalnya, sudah bisa berada di sana, tapi nggak memanfaatkannya semaksimal mungkin.

(Tulisan ini saya buat di kala bengong di dalam pesawat, dan masih sekitar 4 jam lagi sebelum tiba di tujuan.)

4 thoughts on “Bercerita di dalam Perjalanan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge