JKT485

Sudah berapa lama kamu hidup di Jakarta? Kalau saya memang sejak lahir di kota ini. Mencoba mengingat masa-masa kecil dulu, saat saya kemana-mana dianter ibu saya pakai bus PPD. Yang terberkas saat itu adalah ketika saya duduk di dalam bus menuju Blok M. Saya masih begitu kecilnya sehingga saat mau lihat ke luar jendela, harus berdiri di tempat duduk. Saat saya memegang kaca jendela, Ibu saya langsung menegur, kalau kaca itu kotor, dan saya nanti harus cuci tangan.

Seiring waktu, kehidupan ekonomi keluarga saya di Jakarta semakin membaik. Bapak dan Ibu sudah entah berulang kali mengganti mobil. Rumah yang dulu satu lantai kini sudah bertingkat. Rasanya saat itu semakin jarang saya menggunakan angkutan umum. Bahkan saat sekolah SD dan SMP pun ada jemputan sekolah. Saat SMA, karena sekolah saya searah dengan kantor Ibu saya, saya bisa ikutan nebeng. Saat itu hal yang wajar menempuh perjalanan dari Tomang ke Menteng dalam 20 menit dengan mobil. Jangan tanya kalau sekarang ya. Saat pulang, banyak teman SMA saya yang bermobil (saya sih belum bisa nyetir), sehingga saya bisa nebeng pulang.

Hebatnya Kopaja

Bisa dibilang jarang juga saya menggunakan kendaraan umum saat itu. Apalagi tawuran pelajar sedang marak-maraknya. Pernah lagi menunggu bus tak jauh dari Tugu Tani, saya melihat gerombolan seragam putih abu-abu yang kejar-kejaran sambil timpuk-timpukan batu. Yang saya lakukan saat itu paling ngumpet, atau kembali ke lingkungan sekolah, mencari aman. Pernah juga sekalinya saat saya berada di dalam bus, lampu di dalam bus tiba-tiba dimatikan. Ternyata bus melewati rombongan anak SMA yang sedang tawuran. Mungkin untuk menjaga supaya anak-anak SMA itu tidak melirik isi bus, lampu di dalamnya dimatikan. Saya saat itu cuma bisa bernafas lega.

Saya sempat meninggalkan Jakarta selama 10 tahun, ke Bandung, untuk kuliah. Saya membangun bisnis awal saya di Bandung, meski Jakarta tetap menjadi tujuan utama jualan. Saya yang sering bolak-balik Jakarta – Bandung. Belum ada tol Cipularang saat itu, sehingga keahlian menyetir saya terlatih karena sering menyetir Jakarta – Bandung non tol, baik malam maupun siang hari. Akhirnya saya kembali juga 100% menjadi anak Jakarta. Kantor yang di Bandung dipindahkan semua ke Jakarta, demi mengurangi ongkos. Jakarta tetap menjadi magnet karena duit besar ya adanya di kota ini.

Pengamen Bertalenta

Hingga tahun 2011 kemarin saya masih sering mengemudikan mobil kemana-mana di Jakarta. Seperti warga Jakarta lainnya, saat terkena macet saya cuma bisa memaki-maki saja dalam hati. Ikutan stres, tanpa bisa berbuat apa-apa. Sampai akhirnya saya sadar, menyetir mobil di Jakarta bukan lagi solusi, tapi sudah menjadi beban tersendiri. Kalau mobil mogok karena suhu tinggi akibat macet, saya stres. Kalau pas menyetir hujan turun deras dan bikin genangan, saya juga stres. Apalagi kombinasi Jumat malam dan hujan di Jakarta, kadar stres semakin meningkat. Setiap kali saya terkena kondisi seperti itu, rasanya saya ingin keluar dari mobil dan meninggalkannya. Namun itu nggak mungkin kan?

Kini saya kembali ke masa kecil saya dulu. Kemana-mana sebisa mungkin menggunakan bus, kopaja, metro mini, Trans Jakarta, dan kadang taksi atau ojek. Yang belum kesempatan hingga saat ini adalah mencoba commuter line (karena memang belum ada kebutuhan). Saat saya kemana-mana menyandang diri saya sendiri, tanpa harus membawa mobil, beban saya terasa semakin ringan. Saya bisa melakukan hal yang nggak bisa saya lakukan saat menyetir, seperti semakin beraktif ria di social media. Bahkan saya pernah menulis draft blog sembari bergantungan di dalam bus Trans Jakarta.

Metro Mini 75

Tapi sebentar, siapa bilang menggunakan angkutan umum di Jakarta nggak stres? Kalau pakai bus Trans Jakarta yang bikin kesal adalah desak-desakannya saat jam pulang. Antrinya juga lama. Malesin deh pokoknya. Alternatifnya saya kembali ke bus umum. Kalau beruntung yang lewat pas bus AC sih mendingan. Kalau nggak, ya sudahlah terima apa adanya. Percaya nggak, naik bus umum tanpa AC sore hari pas jam pulang itu lebih nyaman dan nggak keringetan daripada maksain diri umpel-umpelan di dalam bus Trans Jakarta?

Ngantuk, Mas?

Memang sih, ada rasa ketidakamanan megintai setiap kali naik bus umum. Makanya, saya selalu memindahkan tas ke depan, dompet ke saku depan, hape ke saku depan (penuh deh pokoknya saku depan). Selalu waspada, jangan sampai ketiduran (haha saya pernah sih beberapa kali ketiduran, untungnya iPhone nggak lenyap dari tangan saya :)). Terkadang naik bus umum, saya malah bisa banyak dapat pengalaman menarik. Melihat beragam pengamen dari yang bernada malas atau mengancam, hingga mereka yang beneran punya talenta musik namun terbatas dalam hal kesempatan.

Karena saya juga suka motret, saya suka mendokumentasikan (dengan berhati-hati tentunya) pengalaman menarik saya di dalam bus. Nggak semua berhasil saya potret, karena saya pun harus melihat kondisi lingkungan sekitar. Kalau saya merasa tidak nyaman, maka lebih baik saya tidak mengeluarkan ponsel atau kamera sama sekali. Coba deh mampir ke Instagram lalu buka tagar #lifeinabus. Itu semuanya jepretan visual saya di dalam bus Trans Jakarta, bus umum, kopaja, hingga lingkungan di sekitarnya.

Halte Bus Pancoran

Apakah saya nggak takut diancam/dijambret/ditodong di dalam kendaraan umum? Kalau ditanya begitu, siapa sih yang ingin hal itu terjadi pada dirinya? Saya juga nggak ingin. Namun bukan berarti tidak bisa diantisipasi. Kalau saya sih yang penting selalu waspada dan nggak lengah sedikitpun. Lalu pilihlah angkutan umum yang relatif kosong. Yang paling penting, tunjukkan kalau diri kamu selalu siap dan tahu apa yang harus dilakukan. Jangan terlihat sebagai orang yang kebingungan, karena hal ini akan membuatmu mudah dijadikan target. Oh ya jangan lupa berdoa ya 🙂

Mbak-mbak Imut

Sekarang Jakarta sudah memasuki usia ke-485. Saya sih nggak melihatnya sebagai kota yang semakin membaik ya. Namun buat saya pribadi, Jakarta sudah jadi bagian dari hidup saya, sumber penghasilan saya, tempat tinggal saya, dan tempat main saya. Sebagai warga Jakarta yang ingin agar kota ini menjadi lebih baik dan manusiawi, saya hanya bisa melakukannya sebatas kapasitas saya pribadi. Salah satunya adalah dengan kembali menggunakan angkutan umum dan berjalan kaki kemana-mana. Saya tidak mau melihat segala ancaman dan ketidaknyaman saya dalam berangkutan umum dan berjalan kaki sebagai hambatan. Semua juga tahu trotoar Jakarta nggak nyaman. Ya sudahlah ya. Kalau menunggu itu semua diperbaiki, Jakarta terlanjur terbenam oleh lautan motor dan mobil.

Saya cuma bisa berandai-andai, seandainya saja nih jutaan kelas menengah Jakarta pindah semua ke angkutan umum, apakah aksi ini bisa menstimulus Pemkot untuk semakin serius memperbaiki angkutan umum dan trotoar? Saya sudah memulainya sejak akhir 2011 kemarin. Apakah kamu mau ikutan juga?

3 thoughts on “JKT485”

  1. Aku ‘mengakali’ macetnya jalanan jakarta dg menhindari keluar lewat rute macet di jam sibuk. It works most of the time, krn kerjaanku juga mostly nulis. Kecuali kadang ketika ada meeting / acara di area dan jam macet. Sambil menunggu subway yg kata Foke mau mulai dibikin taun depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge