Manusia Terakhir

Bumi sudah porak poranda.
Tak ada lagi yang tersisa.
Yang teringat hanya nama.
Tertanam di benak jiwa.

Si pria kembali berteriak.
Demi melepas sepi yang bergolak.
Meski ia yakin tak ada yang menyimak.
Pun biasa yang membalas hanya suara semak.

Kali ini ia salah sangka.
Jeritan perempuan terdengar membahana.

Si pria langsung berlari.
Cepat-cepat menyusur jurang tanpa tepi.
Melompat-lompat kilat tanpa henti.
Hingga ia tiba di sebuah puing puri.

Runtuhan puing menjatuhi kaki si perempuan.
Jeritan sakitnya terdengar tertahan.

Si pria berjalan mendekat.
Ia angkat runtuhan satu-satu hingga kulit berkeringat.
Kedua tangannya gemetar hebat.
Saat ia memindahkan batu terberat.

Si perempuan menatap gembira.
Harapan hidupnya kembali terbuka.

Tiba-tiba terdengar gelegar hebat.
Puing puri yang tak stabil pun bergeliat.

Si pria mempercepat aksinya.
Hanya ini kesempatan berjumpa manusia.
Ia tak ingin lagi sendiri merana.
Setelah berusaha, kaki si perempuan terbebas juga.

Si perempuan merasakan badannya terangkat.
Si pria menariknya dengan kencang dan erat.
Batu-batu puing puri tak lagi merekat.
Semua runtuh dengan sangat cepat.

Kini si pria menatap wajah si perempuan.
Sudah lama ia tak melihat senyuman.
Mata mereka lama bertatapan.
Mulut pun akhirnya menutup dengan kecupan.

Bumi boleh porak poranda.
Namun kesempatan hidup selalu ada.
Kebahagiaan manusia bermula dari jiwa.
Sampai akhirnya tercipta baru keturunan dan nama.

One thought on “Manusia Terakhir”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge