Hunting Foto 12 Hari di China – Bagian 1

Perjalanan saya dan bapak saya berlanjut. Setelah di Kuala Lumpur dua hari satu malam, kami berangkat menuju Chengdu. Di bandara LCCT Kuala Lumpur, kami bertemu dengan rombongan lainnya dari Jakarta, Lombok, Bali, Malang, dan Surabaya. Total kami bersebelas memang berencana melakukan tur hunting foto bersama keliling propinsi Sichuan, China utara. Beberapa peserta tur hunting foto ini memang fotografer senior.

Tur ini berlangsung sejak kami tiba di Chengdu tanggal 7 November, keliling ke banyak tempat, lalu kembali lagi ke Chengdu tanggal 19 November. Setelah itu kami akan kembali terbang ke Kuala Lumpur, lalu berpisah di sana, untuk kembali ke kota asal kami masing-masing.

Kami berkeliling China utara menggunakan bus, dipandu oleh 3 guide lokal, yang sayangnya nggak terlalu bisa bahasa Inggris. Yang satu malah tidak bisa bahasa Inggris sama sekali Oh ya dari 11 peserta, sebanyak 7 orang dari kami sangat fasih bahasa Mandarin, yang dua lagi mengerti sedikit sekali, dan dua lainnya (saya dan bapak saya) buta sama sekali bahasa Mandarin. Walhasil, banyak cerita yang tidak saya tangkap selama perjalanan, kecuali saya tanya sesama anggota rombongan tur tentang apa yang dibicarakan si guide.

Banyak tempat wisata menarik kami kunjungi. Banyak lokasi alam mengagumkan kami hampiri. Banyak kehidupan rural rakyat China yang kami lihat. Banyak pembangunan konstruksi luar biasa kami lewati, selama perjalanan kami dengan bus naik turun pegunungan dan sungai di daratan Sichuan, China. Banyak hal menarik yang bisa saya ceritakan dalam beberapa tulisan.

Rute perjalanan saya adalah sebagai berikut (detilnya akan dijelaskan dalam tulisan berikutnya):

 

Kuala Lumpur – Chengdu, 7 November:

  • Sekitar jam 10 malam kami mendarat di Chengdu Shuangliu International Airport.
  • Di Chengdu, menginap di DunHuang International Hotel.

 

Chengdu – Jiuzhaigou, 8 November:

  • Berangkat dari DunHuang Internatioal Hotel.
  • Melewati jalan yang lagi dibangun di tepi sungai. Ada beberapa pemukiman baru yang didesain apik di tepi sungai.
  • Makan siang.
  • Diexi Sea View Point. Di sini banyak penjual warungnya yang muslim.
  • Menginap di New You Yue Hotel, Jiuzhaigou.

 

Jiuzhaigou, 9 November:

  • Mirror Lake.
  • Pearl Shoals. Air terjun, turun tangganya lumayan supaya bisa lihat air terjun dari bawah.
  • Makan siang di Nuorilong Restaurant.
  • Primitive Forest. Di sini tidak lama. Hanya memotret gunung salju, masuk jalan setapak di hutan, lalu keluar kembali.
  • Multi Colored Lake. Di sini saya berjalan mengelilingi danaunya yang luas.
  • Kembali menginap di New You Yue Hotel.

 

Jiuzhaigou, 10 November:

  • Long Lake. Salah satu lokasi tertinggi di Jiuzhaigou. Suhu -2° C, banyak bekas tetesan salju.
  • Colorful Pond. Lokasi tak jauh di bawahnya, juga terlihat sisa-sisa salju.
  • Zechawa Village. Lokasi tempat belanja suvenir tradisional.
  • Makan siang di Nuorilong Restaurant. Mungkin karena hari Sabtu, di ruang tengah ada pertunjukan musik.
  • Kembali mampir ke Multi Colored Lake. Terlihat lebih banyak orang dibanding kemarin. Ada orang yang menyewa pakaian tradisional dan berfoto.
  • Nuorilong Waterfall. Banyak banget orang di sini. Sayang motret di sini backlight kalau sore hari.
  • Tiger lake dan Rhinoceros lake. Dua danau ini bersebelahan, dibatasi air terjun kecil-kecil.
  • Kembali ke New You Yue Hotel.

 

Jiuzhaigou, 11 November:

  • Kembali lagi ke Nuorilong Waterfall. Sudah siap dari jam 8, menunggu matahari hingga jam 11. Menyenangkan karena hari itu langit cerah.
  • Makan siang di Nuorilong Restaurant. Ada hiburan musik tradisional. Di sini kalau menyanyi gayanya agak-agak seriosa ya? Teriak-teriak cempreng begitu.
  • Kembali ke Pearl Shoals, kali ini lewat jalan setapak yang berbeda.
  • Shuzeng Waterfall dan Shuzeng lake. Di sini ada rumah-rumah reyot tak terpakai, yang menarik untuk dijadikan latar belakang foto.
  • Sparkling Lake.
  • Kembali ke New You Yue Hotel.
  • Menonton pertunjukan teater modern, namun membawakan cerita lokal. Lokasi teater tak jauh dari hotel.

 

Jiuzhaigo – HuangLong, 12 November:

  • Berhenti tengah jalan, kami berfoto bersama dengan latar belakang gunung.
  • Snow Ridge. Suatu perhentian di mana kami bisa memotret gunung salju.
  • Huanglong Valley. Setelah makan siang, lanjut naik kereta gantung, lalu keliling lokasi wisata ini, dengan jarak sekitar 7 km.
  • Kembali melewati Snow Ridge. Kali ini pas banget saat matahari terbenam. Angin yang bertiup luar biasa kencang.
  • Menginap di HuangLong Hotel. Ternyata mereka tidak siap kedatangan tamu, sehingga makan malam terlambar. Sayang pula kamar mandi di hotel ini agak kotor dibandingkan hotel-hotel sebelumnya.

 

HuangLong – Heishui, 13 November:

  • Kota tua dalam benteng Song Chu (sekarang diubah menjadi Songpan), dibangun sejak abad 5-6. Bangunan di dalam benteng banyak yang sudah bangunan baru tapi facade tetap didesain seperti bangunan lama. Udara dingin banget sekitar -2° C sampai dengan 5° C di pagi hari.
  • Perbatasan propinsi. Kami dihentikan oleh polisi yang memeriksa semua passport penumpang. Akhirnya kami dilarang masuk daerah ini, karena orang asing. Katanya karena ada kecelakaan (meski saya mencium ada sebab lain yang berbau politik di sini). Kami membatalkan memotret di lokasi ini.
  • Kembali lagi ke Diexi Sea View Point. Kali ini kami memotret yak (sapi gunung) dan pemiliknya.
  • Makan siang.
  • Seergu Tibetan Stockad Village. Semacam desa wisata, yang sudah diperbaharui pemerintah, jembatan diganti, bangunan diperbaiki. Datang saat perayaan 18 tahun partai komunis, dan perayaan ini diselenggarakan di setiap daerah. Kami melihat hiburan rakyat di sini.
  • Heishui. Kota yang tahun 2008 terkena gempa raksasa, namun kini sudah penuh bangunan baru yang ditata rapih. Tempatnya enak untuk jalan kaki. Kami menginap di Zhihe Hotel.

 

Heishui – Siguniang, 14 November:

  • Memotret danau dekat Mahe Ba Forest.
  • Berada di Yakexia Snow Mountain, ketinggian 4.743 m. Dataran yang penuh salju tebal.
  • Kembali melewati perbatasan, dan mendapat pemeriksaan polisi lagi. Untungnya kali ini kami bisa lewat.
  • Makan siang di rumah makan tepi jalan.
  • Xisuo Tibetan Folk Houses.
  • Memotret gunung Mengbi, 4.114 m.
  • Berhenti sejenak di Dazhai Cun village, karena kerumunan domba lewat yang mengundang untuk dipotret.
  • Sampai di Siguniang tepat saat seluruh kota sedang mati listrik. Lampu jalan tetap menyala karena menggunakan tenaga surya. Bintang-bintang terlihat jelas banget di langit. Hotel yang kami inapi ini usianya baru 4 bulan.

 

Siguniang – Danba, 15 November:

  • Siguniang Mountain. Sayang tak banyak yang bisa dilihat, kecuali menusuknya udara dingin di pagi hari. Katanya paling bagus di bulan Maret – April, saat hutan penuh bunga, atau bulan Oktober saat pohon menampilkan daun-daun merah.
  • Cat’s Nose Ridge. Di sini kami bisa melihat Siguniang Mountain dengan lebih jelas. Tinggi gunungnya 6.850 m.
  • Makan siang di rumah makan tepi jalan.
  • Kembali dihentikan, kali ini untuk pemeriksaan mobil. Wajah yang memeriksa seperti preman, tapi jelas ini bukan polisi. Mungkin semacam DLLAJR kalau di sini kali ya?
  • Berhenti beberapa kali di tepian sungai, memotret pohon dengan daun kuning berjejer di bawah matahari yang mulai miring.
  • Tiba di Danba. Hotelnya sederhana dan kecil, mirip ruko. Sisi sebaliknya hotel menghadap ke sungai. Kami makan malam di luar hotel. Kota Danba ini padat banget, banyak bangunan 4 lantai berdempat, padahal sepertinya penduduknya nggak banyak. Saat itu sedang banyak pekerjaan konstruksi jalan dan jembatan.

 

 

Danba – Mo Si Chen, 16 November:

  • Sarapan noodle di rumah makan sebelah hotel. Enak.
  • Melihat Ancient Tower Group Sopo, yang berupa rumah-rumah dengan menara tinggi di seberang sungai.
  • Berhenti memotret di area konstruksi jalan tepi sungai.
  • Melewati jalan yang seram, di tepi gunung dan sungai. Banyak batu-batu runtuh dan jalan jelek. Terlihat beberapa titik lagi ada perbaikan jalan. Lebar jalan sempit sehingga kadang bergantian dengan truk yang berlawanan arah.
  • Masuk terowongan yang menembus isi gunung. Bedanya, terowongan ini panjang, dan bercabang-cabang, ada yang tak seberapa lebar, ada yang lebar banget. Keluar terowongan, melihat jembatan mulai dibangun yang menyeberang gunung-gunung.
  • Makan siang di Hong Xue Lian Hotel, kecamatan Wuchan. Ini tingkatnya kecamatan tapi padatnya sudah seperti kota besar aja. Jalanan ramai, trotoar banyak orang jalan, semua mengenakan jaket/sweater dan sepatu tinggi, padahal saat siang hari terasa panas.
  • Tiba di Mo Si Chen, menginap di Gong Ga Hotel. Jalan-jalan di sekitar terlihat sangat apik, trotoar rapih, dengan banyak pertokoan dan restoran.

 

Mo Si Chen, 17 November:

  • Hailuogou Glacier Forest Park, dengan mendatangi lokasi berikut:
  • Naik menggunakan kereta gantung.
  • Gardu pemandangan, melihat gunung tinggi bersalju.
  • Kuil Schrein, dengan patung Buddha empat wajah, yang merupakan sumbangan Thailand.
  • Avalokitesvara.
  • King Kong Shengle Tower.
  • The Monument To The Heroes. Saya nggak mampir dan memotret di sini, karena monumennya tidak ada yang spesial.
  • Red Rock Patch. Lokasi yang berisi pecahan banyak batu, dengan warna merah lumut menggerus kulit batu di beberapa tempat. Banyak batu yang tertutup salju.
  • Kembali turun dengan kereta gantung.
  • Makan siang.
  • Turun lagi pakai bus internal Hailuogou, dan mogok. Sekitar setengah jam, kami menunggu bus pengganti.
  • Menuju lokasi batu merah lain yang berserakan di tepi sungai, sekitar 30 km dari Hailuogou. Melewati 3 jembatan besi. Jembatan besi kedua ada batu dan balok beton menghalangi supaya mobil besar nggak bisa lewat. Jembatan ini memiliki panjang 10 m dan bisa menahan 15 ton. Bus seharusnya bisa melewatinya. Akhirnya dengan pas-pasan, bus bisa melewati sempitnya titik masuk dan keluar jembatan.

 

Mo Si Chen – Chengdu, 18 November:

  • Berhenti sebentar di luar kota Mo Si Chen, memotret ladang di pagi hari.
  • Melewati jalan tol dari dekat kota Menghuo menuju Chengdu. Kami melewati terowongan di bawah gunung sejauh 10 km. Keluar terowongan disambut kabut tebal, sisi kanan jalan nggak terlihat. Kamiseperti bergerak di atas awan.
  • Belum tiba di Chengdu, kami keluar tol menuju kota kecil untuk makan siang. Perjalanan ke Chengdu padahal masih 138 km lagi.
  • Sampai di Chengdu dan kembali menginap di DunHuang International Hotel.

 

Chengdu, 19 November:

  • Saya dan beberapa anggota grup mencari oleh-oleh di tengah kota Chengdu yang penuh dengan mall. Tempatnya asyik untuk berjalan kaki.
  • Kuanzhai Lane, salah satu lokasi historis di Chengdu.
  • Sore hari kami menuju Chengdu Shuangliu International Airport, makan malam di KFC bandara, sebelum tengah malam kami berangkat ke Kuala Lumpur, dan lanjut ke Jakarta.

 

Detil cerita tempat-tempat wisata yang menarik akan saya ceritakan di bagian berikutnya yaa!

(bersambung ke bagian 2)

(Untuk melihat koleksi foto perjalanan ke China, silakan cek galeri 500px).

4 thoughts on “Hunting Foto 12 Hari di China – Bagian 1”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge