Hunting Foto 12 Hari di China – Bagian 2

Di tulisan bagian 2 ini, saya lebih ingin bercerita sepintas tentang lokasi wisata yang sempat saya datangi:

 

Jiuzhaigou (www.jiuzhai.com), 9-11 November.

Hutan wisata Jiuzhaigou ini sangat luas, sehingga tak mungkin menjelalah setiap titik menariknya dalam sehari. Danau-danau di Jiuzhaigou berbeda dengan danau umumnya, karena airnya sangat bening, sehingga pengunjung bisa melihat dasarnya dengan sangat jelas.

Kalau melihat dokumentasi videonya, pengunjung bisa mendapatkan suasana yang berbeda setiap musimnya. Saat musim semi, hutan akan terlihat dengan bunga yang beraneka ragam. Saat musim panas, akan banyak hewan yang terlihat di hutan dan danau. Saat musim gugur, dedaunan warna merah dan kuning menghiasi hutan. Kalau seperti saya yang kali ini datang saat permulaan musim dingin, yang terlihat adalah hutan yang mulai merontokkan daunnya, dengan danau yang mulai terlihat mendingin. Ada beberapa lokasi di Jiuzhaigou yang sudah terlihat tertutup salju.

Tiket masuk Jiuzhaigou lumayan mahal, ¥ 220 (¥ dibaca Yuan, 1 Yuan adalah sekitar Rp.1.550). Namun untuk lansia, dibebaskan dari biaya tiket. Untuk bergerak di antara titik-titik wisata yang berjauhan di Jiuzhaigou, pengunjung bisa menggunakan bus internal yang secara periodik berlalu-lalang. Selain membeli tiket masuk, pengunjung juga harus membeli tiket bus ¥ 90 yang berlalu sehari penuh ke arah manapun. Entah ada berapa ratus bus yang melayani 3 rute utama di Jiuzhaigou. Seluruh rute ini bertemu di titik tengah, stasiun Nuorilong, yang sekaligus menjadi tempat makan dan belanja utama.

Saya dan rombongan tur bolak-balik masuk Jiuzhaigou selama 3 hari berturut-turut. Hari pertama dan kedua untuk memilih titik wisata yang berbeda-beda, lalu hari ketiga untuk memotret di lokasi yang kami anggap terbaik saja di antara lokasi yang sudah kami datangi di dua hari sebelumnya.

Setiap titik wisata di Jiuzhaigou dilengkapi dengan jalur pejalan kaki yang sangat nyaman. Terbuat dari papan kayu, jalur ini bisa ditemukan di semua titik. Beberapa jalur bahkan disiapkan lewat di atas aliran sungai, sehingga pengunjung bisa melihat air mengalir di kiri kanannya. Ada juga jalur yang dibuat turun dengan tangga dan perlindungan atap, sehingga pengunjung bisa nyaman berjalan sambil melihat air terjun di dekatnya. Disediakan tempat peristirahatan luas di beberapa jalur, lengkap dengan tempat persewaan kostum tradisional. Pengunjung bisa berfoto dengan kostum tersebut dengan latar belakang indahnya alam Jiuzhaigou.

Yang menarik adalah tidak ada sama sekali pedagang di dalam setiap titik wisata. Kebersihan selalu dijaga, ada petugas yang rutin berkeliling jalan memungut sampah yang berserakan. Meskipun udara dingin, pengunjung patuh untuk tidak merokok di lokasi, karena tahu resikonya akan kebakaran hutan.

Di Jiuzhaigou ini, saat hari pertama kami berkunjung ke Mirror Lake, salah satu danau dengan pantulan refleksi pohon-pohon yang terlihat jelas di bawah air. Lalu kami berpindah ke Pearl Shoals, sungai yang mengalir menuju air terjun. Kami melewati jalur papan berupa anak tangga hingga kami sampai di kolam tempat jatuhnya air terjun.

Setelah makan siang, kami berpindah ke Primitive Forest. Di sini tak banyak yang dilihat kecuali pemandangan gunung di kejauhan. Terakhir kali kami pindah ke Multi Colored Lake. Sayang sudah terlalu sore dan langit tidak mendukung, sehingga refleksi air di danau tidak terlihat terlalu menarik.

Lalu di hari kedua, kami mendatangi Long Lake. Lokasi ini adalah yang paling tinggi di Jiuzhaigou. Sekitar titik wisata ini terlihat lapisan salju. Suhu mencapai -2 derajat C. Jari-jari tangan saya pun menggigil menahan dingin saat memotret gunung di kejauhan. Jalur tangga yang menuju danau terlihat licin, sehingga kami harus turun dengan hati-hati. Tak lama kami berpindah ke Colorful Pond, yang berada tak jauh di bawahnya. Beberapa bagian hutan di lokasi ini pun tertutup salju.

Sebelum kami makan siang, kami turun di Zechawa Village, pertokoan tradisional khas Tibet. Suvenir di sini dijual dengan harga lebih murah daripada di Nuorilong (meski tempatnya sebetulnya berdekatan). Setelah makan siang, kami kembali lagi ke Multi Colored Lake. Cahaya matahari hari itu jauh lebih baik daripada sebelumnya. Saya melihat beberapa pengunjung menyewa pakaian tradisional Tibet dan berfoto dengan latar belakang danau yang jernih.

Kunjungan kami terakhir hari itu adalah ke Nuorilong Waterfall, yang tak jauh dari stasiun pertemuan antar-bus. Mungkin karena hari Sabtu, titik wisata ini sangat penuh. Air terjunnya memang indah. Banyak sudut menarik untuk dipotret. Sayangnya hari sudah menjelang sore, sehingga matahari berada di belakang air terjun, sehingga foto terlihat silau. Akan lebih baik bila bisa datang ke sini pagi hari.

Kami lalu berpindah ke Tiger Lake dan Rhinoceros Lake yang saling bersebelahan, danau dengan aliran yang tenang dan latar belakang gunung. Niatnya kami menunggu matahari terbenam di sini, meski akhirnya kami batalkan, karena tertutup awan. Lagi pula, kalau kami tetap menunggu, kami bisa diusir dari Jiuzhaigou karena sudah menjelang waktu tutup.

Di hari terakhir, kami kembali mengunjungi Nuorilong Waterfall. Kami datang sejak pukul 8, menunggu matahari bersinar terang menyinari air terjun. Akhirnya foto air terjun dengan pencahayaan yang menarik bisa kami dapatkan. Setelah makan siang, kami kembali mengunjungi Pearl Shoals. Kali ini kami melewati jalur setapak yang berbeda.

Selanjutnya kami berpindah ke Shuzeng Waterfall dan Shuzeng Lake, yang berlokasi di sebelah Tiger Lake. Air terjun di sini tidak terlalu besar, meski tetap menarik untuk dilihat. Di sekitar danau terlihat rumah-rumah reyot tak terpakai yang menarik untuk dijadikan objek foto. Terakhir kali kami berpindah ke Sparkling Lake. Saya sudah terlalu capai sehingga hanya duduk saja di sini, sementara anggota grup lainnya ada yang berjalan dan terus mengambil gambar. cuma nunggu di sini, kecapean, sementara ada yg lain foto.

Setiap hari setelah kami selesai berkunjung di Jiuzhaigou, kami harus kembali ke pintu masuk utama menggunakan bus internal. Selanjutnya kami harus berjalan kaki cukup jauh ke lokasi parkir bus. Menariknya, sebelum sampai ke lokasi parkir, kami harus melewati pasar tertutup, tempat masyarakat lokal berjualan suvenir, pakaian, dan makanan. Pengunjung tentunya diharapkan untuk mampir belanja sebelum akhirnya pergi meninggalkan Jiuzhaigou.

HuangLong (www.huanglong.com), 12 November.

Perjalanan menuju HuangLong dari Jiuzhaigou melewati pegunungan. Bus bergerak menyusuri lereng gunung, yang sebagiannya tertutup salju. Sebelum sampai ke tujuan, bus sempat berhenti dahulu di Snow Ridge, lokasi gardu pemandangan untuk melihat lansekap pegunungan di sekitarnya.

Seperti di Jiuzhaigou, bus hanya bisa mengantar sampai lokasi parkir. Kami harus menggunakan bus internal yang akan mengantar ke lokasi stasiun kereta gantung. Tiket masuk lokasi ¥ 200, tiket bus ¥ 80, dan tiket kereta gantung satu arah naik ¥ 80. Kalau mau beli tiket turun hanya ¥ 40, meski banyak orang memilih untuk turun dengan berjalan kaki. Kereta gantung akan mengantar ke stasiun terakhir yang berbeda ketinggian sekitar 500 meter daripada sebelumnya.

HuangLong bisa dibilang skala kecilnya Jiuzhaigou. Ada beberapa titik wisata yang bisa dilihat sepanjang kita turun dari stasiun kereta gantung hingga tempat parkir bus umum. Jalur dengan papan kayu dibangun mengelilingi lokasi ini. Di sepanjang jalur ini, pengunjung bisa melihat pemandangan ke arah gunung bersalju, kolam beragam warna, hingga air terjun yang mengalir dari kolam ke kolam lain di bawahnya. Di bulan November ini, banyak kolam yang masih tertutup salju, ada pula yang masih mengkristal, sementara ada bagian kolam lainnya yang masih mengalir. Banyak sekali bunga es terlihat menggantung di dahan yang berada dekat kolam.

Siapkan fisik dahulu sebelum memutuskan menjelajah HuangLong. Jalur papan kayu yang mengelilingi Huanglong ini berjarak kurang lebih sekitar 7 km. Kaki dijamin akan pegal, meski jalur yang disiapkan sudah sangat nyaman untuk pengunjung berjalan kaki. Dengan berjalan santai sambil melihat dan memotret, jalur papan kayu ini bisa ditempuh selama 4 jam.

Songpan, 13 November.

Songpan berada di antara Jiuzhaigo dan Huanglong. Di tengah kota yang dulunya bernama Songchu ini terdapat benteng tua yang dibangun sejak abad 5-6 Masehi. Dahulu kehidupan kota berada di balik dinding benteng raksasa ini, meski sekarang sudah melebar ke luar benteng.

Benteng kini telah direnovasi dengan mempertahankan bentuk asal. Bangunan perkotaan di dalam benteng juga dipugar ulang. Tata letak kota menyesuaikan seperti aslinya. Semua bangunan baru, namun desain fasadenya menyesuaikan dengan gaya arsitektur Cina lama. Beberapa ornamen modern seperti LED sign bisa ditambahkan di atas toko, asalkan tidak merusak tampilan fasade. Bangunan-bangunan ini kini difungsikan untuk toko, hotel, bank, kantor polisi, rumah sakit, dll.

Sebagian jalan di dalam benteng tidak bisa diakses kendaraan bermotor, namun ada semacam becak bermotor yang bisa dipakai untuk mengantar di dalam kota Songpan dan sekitarnya. Lampu jalan dibentuk dengan gaya China lama. Kala malam, lampu jalan ini akan menyala cantik menerangi jalan-jalan di dalam benteng. Atap dan dinding benteng pun dihiasi dengan lampu, sehingga saat malam, bentukan benteng tetap bisa terlihat cantik.

(bersambung ke bagian 3)

(Untuk melihat koleksi foto perjalanan ke China, silakan cek galeri 500px).

4 thoughts on “Hunting Foto 12 Hari di China – Bagian 2”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge