Hunting Foto 12 Hari di China – Bagian 3

Di tulisan bagian 3 ini, saya lanjutkan cerita tentang lokasi wisata yang sempat saya datangi:

 

Seergu Tibetan Stockade Village, 13 November.

Dalam perjalanan dari Songpan ke Heishui, kami melewati pemukiman suku Tibet yang berada di tepi sungai. Kami tidak masuk ke desa ini. Bus parkir di tepi jalan, lalu kami turun memotret rumah-rumah desa ini yang terlihat saling bertumpuk.

Seergu ternyata hanyalah satu dari banyak sekali desa serupa lainnya. Desain bangunan khas Tibet terlihat dari atapnya yang datar, dengan ornamen hiasan di empat ujung atap. Warna cat merah bata menghiasi setiap tepian pintu dan jendela mereka. Sepertinya banyak desa seperti ini yang dijadikan desa wisata oleh pemerintah China. Disediakan tempat parkir di luar desa, lalu pengunjung bisa bebas masuk dengan berjalan kaki.

Yakexia Snow Mountain, 14 November.

Dalam perjalanan dari Heishui ke Siguniang, bus melewati beberapa gunung. Daerah Sichuan memang penuh dengan gunung dan sungai. Namun hebatnya, sepertinya setiap gunung ini bisa dilalui kendaraan karena sudah disediakan akses jalan raya. Hampir semua jalan yang kami lewati berada di antara tepian pegunungan di satu sisi dan sungai lebar di sisi lainnya. Kadang mengerikan rasanya melewati jalan di lereng ini yang berliku-liku tajam.

Salah satu puncak gunung yang kami lewati dengan bus adalah gunung Yakexia. Kami berhenti di ketinggian 4.743 meter di tengah hamparan salju tebal di tepi jalan. Baru kali ini saya merasakan kaki bisa menginjak di salju tebal. Kata salah satu guide, di musim panas gunung ini tidak bersalju, namun keindahannya tergantikan dengan banyaknya tanaman hijau dan bunga yang tumbuh di lerengnya.

Di puncak ini, saya melihat dua orang penggembala yang memang sehari-harinya mendekam di sana. Ada satu tempat khusus yang dihiasi dengan kertas warna-warni, yang menjadi kekhasan suku Tibet. Dua orang Buddhist ini terlihat bersembahyang di tempat itu, sebelum mereka melanjutkan perjalanan.

Xisuo Tibetan Folk Houses, 14 November.

Setelah turun dari gunung Yakexia dan makan siang, bus melanjutkan perjalanan ke Siguniang. Kami mampir di salah satu desa wisata Tibet yang bernama Xisuo. Awalnya yang menghubungkan desa ini dan jalan terdekat hanya jembatan kayu tua di atas sungai yang deras. Kini jembatan ini sudah tidak dipakai, dan di sebelahnya dibangun jembatan beton yang bisa dilalui kendaraan bermotor. Pemerintah Cina juga memperbaiki dan membangun desa ini, dengan tetap mempertahankan ciri khas aslinya.

Bus parkir di luar desa, di tempat parkir yang memang sudah disediakan. Kami berjalan kaki masuk melewati jembatan dan menuju desa. Kebetulan saat kami datang, sedang ada perayaan di dalamnya. Katanya ini untuk merayakan ulang tahun partai komunis di Cina. Kebetulan desa ini juga menjadi lokasi salah satu cabang partai tersebut. Hiburannya sederhana, menyanyi dan menari, diisi oleh penduduk lokal semua. Meskipun demikian, ada reporter televisi yang meliput datang. Bahkan setelah tahu kami turis dari Indonesia, reporter tersebut mewawancarai salah satu anggota grup kami.

Yang saya perhatikan, di desa ini sangat sedikit anak muda. Lebih banyak orang tua dan anak-anak. Kata salah satu warga, para anak muda berkelana mencari kerja di kota-kota besar seperti Shanghai. Seorang anak dikenalkan kepada kami. Ia ternyata sudah ditinggalkan ibunya sejak kecil. Ayahnya sakit-sakitan dan tidak bisa bergerak. Ia kini lebih banyak diasuh oleh nenek dan kakeknya.

Siguniang Mountain (www.siguniangmountain.com), 15 November.

Lokasi wisata ini tak jauh dari hotel tempat kami menginap. Bus hanya mengantar sampai tempat parkir utama, untuk selanjutnya kami harus menggunakan bus internal mereka yang akan mengantar hingga depan gerbang masuk. Biaya masuk lokasi ini ¥ 70 (¥ dibaca Yuan, 1 Yuan adalah sekitar Rp.1.550) dan biaya tiket busnya ¥ 20.

Dari gerbang masuk ini, kami harus berjalan kaki, melewati penduduk lokal yang menawarkan kuda untuk ditunggangi. Kami juga melewati sebuah kuil, sebelum masuk ke dalam hutan. Seperti di Jiuzhaigou dan Huanglong, sudah disiapkan jalan setapak terbuat dari papan kayu. Pengunjung tinggal melewati jalur yang sudah ditetapkan.

Sayangnya kami semua datang terlambat sebulan. Kalau sebelumnya di bulan Oktober, pengunjung bisa melihat hutan warna-warni merah dan kuning, namun kini mulai memasuki musim dingin, daun-daun berwarna itu sudah mulai rontok. Yang terlihat hanya nuansa hutan yang kelam dan dingin. Objek menarik yang difoto hanyalah gunung Siguniang (empat putri) yang terlihat di kejauhan. Gunung setinggi 6.850 meter ini disebut empat putri, karena gunung ini memiliki empat puncak.

Usai keluar dari hutan Siguniang, guide mengantar kami ke sebuah lokasi, di mana kami bisa melihat gunung Siguniang dari kejauhan. Tempat ini disebut Cat’s Nose Ridge, berada sekitar 15 menit dari tempat sebelumnya.

(bersambung ke bagian 4)

(Untuk melihat koleksi foto perjalanan ke China, silakan cek galeri 500px).

2 thoughts on “Hunting Foto 12 Hari di China – Bagian 3”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge