Berkomunikasi di Malaysia dan China

Setiap kali bepergian ke luar negeri, hal yang selalu menjadi pemikiran adalah masalah komunikasi, baik itu sekedar telepon maupun internet. Karena saya kemarin sempat pergi ke dua negara, Malaysia dan China, mungkin saya berbagi saja ya apa yang saya lakukan di sana. Di China saya bersama rekan-rekan grup fotografi yang memang berniat hunting bersama keliling propinsi Sichuan, China.

Saya punya dua nomor ponsel, Matrix dan XL. Nomor Matrix saya langsung kandas karena memang tidak bisa dipakai untuk roaming di luar negeri. Dahulu saya sempat pernah minta dibukakan akses roaming, namun saya diminta untuk memberikan deposit terlebih dahulu dalam jumlah yang tidak sedikit. Padahal itu nomor pasca bayar, dan saya sudah menjadi pelanggannya entah berapa tahun.

Yang jadi andalan memang tinggal nomor XL. Bapak saya yang ikut juga bareng bepergian pun menggunakan nomor XL. Bedanya, saya pakai iPhone dengan nomor pra bayar, dan bapak saya pakai ponsel Nokia lowend dengan nomor pasca bayar. Nah, dua ponsel ini ternyata punya efek yang berbeda di China (detil akan saya jelaskan di bawah).

Di Kuala Lumpur, nomor XL akan otomatis roaming menggunakan operator Celcom Axiata. Karena Celcom masih satu grup dengan XL, tidak ada hambatan berarti. Saya memanfaatkan fasilitas XL Aone Tariff, bisa menelepon dan ditelepon dengan biaya roaming Rp.3.500,00 per menit. Untuk SMS sekali kirim juga Rp.3.500,00. Jadi tentu lebih enak saya langsung menelepon. Urusan bisa selesai kurang dari satu menit, dan jauh lebih murah.

Yang saya nggak paham, meski masih dalam satu grup Axiata, kenapa 3G saya tidak otomatis aktif ya di Kuala Lumpur? Jadi saya belum bisa mengetes seberapa cepat kualitas kecepatan internet mobile di sana. Padahal kalau dilihat di website-nya, fasilitas 3G roaming tersedia di Malaysia dengan biaya Rp.350,00 per 10KB sampai di atas Rp.25.200,00 lalu gratis seharian.

Untungnya, wifi gratis bisa ditemukan mudah di hampir setiap tempat di Kuala Lumpur. Di taman terbuka nan luas depan Petronas Twin Towers ada wifi gratis. Sepanjang di dalam kereta KLIAExpress yang mengantar dari LCCT airport ke stasiun KL Central pun ada wifi gratis.

Yang perlu usaha lebih adalah setelah saya mendarat di Chengdu, propinsi Sichuan, China. Di Chengdu, partner roaming XL adalah China Mobile. Biaya XL One Tariff masih berlaku di sini, meski memang di negeri ini tidak berlaku 3G roaming. Untuk koneksi internet, akhirnya saya hanya bisa mengandalkan wifi gratis dari hotel saja. Kalau saya kemarin tidak bisa mengakses internet selama 5 hari, itu memang disebabkan saya tidak mendapatkan wifi gratis di hotel yang saya lewati di sepanjang propinsi Sichuan, China.

Semua pasti sudah tahu banyak situs social media, seperti Twitter, Facebook, YouTube, dll tidak bisa dibuka di China. Untuk bisa mengaksesnya, kamu harus menggunakan VPN (Virtual Private Network). Kalau kamu punya server sendiri, mungkin kamu bisa men-setup VPN sendiri.

Kalau yang nggak punya, untuk iPhone, bisa mengunduh aplikasi Hotspot VPN atau VPN Fire. Nggak tahu apakah di Android ada aplikasi serupa ya. Saya kemarin menggunakan Hotspot VPN. Setelah di-install, aplikasi akan meminta izin untuk meng-install juga certificate. Tujuannya, saat iPhone terkoneksi internet, VPN akan otomatis aktif. Namun untuk mendapatkan fitur VPN penuh, ada baiknya kamu berlangganan Rp.30.000,00 per bulan. Nggak rugi kok. Setelah aktif, langsung gunakan saja aplikasi favorit kamu. Saya pakai aplikasi Tweetbot dan jalan lancar.

Kelemahan menggunakan VPN adalah koneksi data akan lebih lambat, karena akan dilempar ke server lain dulu sebelum diterima oleh iPhone. Dibutuhkan koneksi internet yang cukup lancar, supaya data dari situs asal bisa diterima.

Saya sempat membeli nomor telepon China Mobile untuk dipasang di ponsel Android saya yang menganggur. Niatnya supaya sesama anggota grup bisa saling berkomunikasi. Ternyata nomor telepon China Mobile tidak bisa dipakai, karena saya harus registrasi lebih dahulu. Saya tidak paham juga bahasanya. Meski sudah minta tolong guide kami untuk membantu registrasi, hal ini juga tidak berhasil. Akhirnya, kembali nomor XL yang menjadi andalan saya dan bapak saya.

Setelah saya keluar dari kota Chengdu, memasuki daerah rural, iPhone XL saya yang tadinya aktif menggunakan operator China Mobile, tiba-tiba kehilangan sinyal. iPhone tidak bisa menemukan operator China Mobile, sehingga tidak bisa dipakai sama sekali. Sementara ponsel Nokia bapak saya malah dengan lancar bisa terus terkoneksi roaming dengan operator China Mobile. Saya nggak paham juga sih, ini salahnya di iPhone, atau iOS-nya (saya pakai iOS 6.0.1), atau masalah di operator? Setelah saya kembali ke Chengdu, iPhone saya kembali normal bisa terhubung dengan operator China Mobile.

Tips saya kalau ada di antara kamu yang akan berangkat ke China, siapkan ponsel lowend juga ya. Apalagi kalau kebutuhan kamu hanya untuk menelepon dan SMS. Roaming dengan ponsel lowend di daerah rural di China malah lebih lancar daripada menggunakan iPhone.

Disclaimer: tulisan di atas adalah murni pengalaman pribadi saya, meski saya bekerja di Stratego, salah satu digital agency dari XL Axiata.

(Untuk melihat koleksi foto perjalanan ke China, silakan cek galeri 500px).

3 thoughts on “Berkomunikasi di Malaysia dan China”

  1. Bener tuh apa kata penulis, saya juga lagi di china dengan menggunakan xl, tapi signal disini sangat buruk buat xl, kemarin aja di hotel saya masih bisa menemukan signal edge dan sekarang hilang lang lang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge