Hunting Foto 12 Hari di China – Bagian 4

Di tulisan bagian 4 (terakhir) ini, saya lanjutkan cerita tentang lokasi wisata yang sempat saya datangi:

 

Ancient Tower Group Sopo, 16 November.

Saat bus meninggalkan kota Danba menuju Mo Si Chen, kami melewati deretan rumah-rumah di tepi lereng yang bagian bawahnya berbatasan dengan sungai besar. Beberapa rumah dilengkapi dengan menara. Ada yang memiliki satu, ada yang dua. Lokasi rumah bermenara ini tersebar di sepanjang lereng. Dahulu sepertinya menara-menara ini adalah tempat pengawasan terhadap datangnya musuh.

Kami berada di sisi seberang sungai. Bus parkir di lokasi yang memang disediakan untuk melihat rumah bermenara di lereng tersebut. Kami menunggu matahari pagi menyinari lereng, lalu memotretnya. Latar belakang pegunungan dengan puncak salju di balik lereng semakin mempercantik pemandangan.

Hailuogou Glacier Forest Park (www.hailuogou.com), 17 November.

Tempat wisata Hailuogou berada di kota Mo Si Chen. Tiket masuknya ¥ 80 (¥ dibaca Yuan, 1 Yuan adalah sekitar Rp.1.550). Dari tempat pembelian tiket menuju titik wisata, kami harus menggunakan bus internal Hailuogou, dengan tiket pulang pergi ¥ 62 . Bus internal ini mengantar kami ke titik wisata yang sejauh 30 km melewati jalan berliku-liku tajam di lereng gunung. Sekitar setengah jam, akhirnya kami sampai di tujuan.

Di titik ini sebenarnya tidak terlalu ada yang menarik. Kami harus naik kereta gantung dengan tiket seharga ¥ 150 untuk ke titik wisata yang lebih tinggi lagi. Kereta gantung menyeberang lereng curam yang penuh dengan bebatuan, hingga kami sampai di perhentian berikutnya.

Sebenarnya yang paling menarik dari Hailuogou ini adalah pemandangan ke gunung es, dengan batu-batu raksasa yang berserakan di bawahnya. Dari gardu pemandangan yang disediakan, sebenarnya bisa jalan turun menuju kumpulan batu-batu raksasa ini. Hanya harus hati-hati, karena beberapa jalan setapak licin karena lapisan es. Kalau mau, juga bisa menyewa semacam besi bergigi runcing yang diikat di bawah sepatu, supaya saat menginjak es, kaki akan lebih mengunci.

Beberapa titik lainnya yang bisa dilihat adalah Schrein (kuil kecil dengan patung Buddha empat wajah sumbangan dari pemerintah Thailand), Avalokitesvara (kuil kecil lainnya yang berada di atasnya), King Kong Shengle Tower (yang dijaga oleh seorang Buddhist), dan Monument to the Heroes (yang ini tidak terlalu spesial).

Kalau mau jalan kaki naik lagi dari King Kong Shengle Tower, di atas bisa ditemukan bebatuan yang berserakan. Di beberapa batu ini terlihat lapisan merah, kemungkinan lumut. Beberapa batu lainnya banyak tertutup salju, sehingga merahnya batu banyak yang tak terlihat. Mungkin kalau musim panas, nuansa kemerahan di batu-batu ini akan jelas terlihat.

Tempat wisata lainnya di lokasi Hailuogou adalah pemandian air belerang. Siapa tahu ada yang tertarik? Kalau kami sih tidak. Kami hanya makan siang di tempat yang tak jauh dari sana. Lokasi makan dan pemandian air belerang ini dikelilingi oleh hutan dengan banyak monyet. Namun tenang saja, monyetnya tidak jail kok.

Ketika kembali, kami harus menggunakan kereta gantung yang sama, lalu menggunakan bus internal yang akan mengantar kami kembali ke tempat parkir, selama setengah jam. Kali ini kami dapat bonus. Bus yang kami tumpangi tiba-tiba bermasalah di persnelingnya, sehingga kami harus menunggu bus jemputan pengganti di tengah perjalanan.

Sekitar 30 km dari Hailuogou terdapat sungai dengan bebatuan merah yang jauh lebih banyak daripada di Hailuogou sendiri. Tempatnya jauh lebih menarik, tidak perlu bayar pula. Nuansa merah bebatuan di lokasi ini sangat jauh terasa. Apalagi dengan latar belakang pegunungan, membuatnya semakin terihat cantik.

Kuanzhai Lane, Chengdu, 19 November.

Daerah ini merupakan salah satu sudut kota lama Chengdu yang telah direnovasi. Tempatnya nggak terlalu luas, dibentuk oleh gang selebar 5 meter yang berkeliling membentuk segi empat. Beberapa bangunan memang terlihat bangunan lama, namun direnovasi ulang. Beberapa lainnya terlihat bangunan baru, namun tampilannya menyesuaikan dengan konteks sekitarnya.

Bangunan di sini kini berfungsi sebagai toko suvenir, makanan, buku, kafe, dan restoran. Ada beberapa lapak pedagang yang disiapkan khusus di tepi jalan. Banyak bangku dan meja di luar, pengunjung bisa menikmati suasana jalan sambil mengemil dan minum kopi. Bahkan ada pula Starbucks di sini, dengan desain logo dan suasana ruangan yang tetap menghormati konteks heritage lokasi ini.

Kuanzhai Lane ini memang dikelola khusus oleh departemen turisme China. Pengunjung bebas masuk ke dalamnya, meski bisa pula membayar guide yang akan bercerita lebih dalam tentang sejarah daerah ini. Idenya menarik sih. Andaikan saja satu kompleks Glodok atau Pasar Baru Jakarta bisa didesain apik seperti ini.

(Untuk melihat koleksi foto perjalanan ke China, silakan cek galeri 500px).

One thought on “Hunting Foto 12 Hari di China – Bagian 4”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge