Kisah Toilet di China

Yang paling melegenda memang masalah kebersihan toilet. Saya sudah pernah dua kali ke China. Pertama kali dulu ke Shenzhen, salah satu kota terbesar di China. Makan di restoran yang bagus bukan berarti toiletnya bersih. Namun hal itu masih jauh lebih mendingan daripada yang saya alami saat kunjungan saya ke China yang kedua, mengelilingi propinsi Sichuan.

Bersama rombongan fotografer, saya mengunjungi banyak tempat wisata menarik. Dalam perjalanan, di tengah kebelet ingin pipisnya karena udara yang dingin, kami pun mampir ke beragam jenis toilet, baik itu di tempat wisata, tempat makan, perhentian pom bensin, hingga toilet umum tepi jalan.

Hasilnya? Memang nggak bisa disamaratakan sih. Saya bisa menemukan toilet yang sangat bersih dengan air yang mengalir. Namun saya bisa hampir muntah melihat bekas onggokan pup tertumpuk di atas toilet, entah dari kapan, tanpa ada air untuk menyiram.

Umumnya, tempat makan memiliki toilet yang cukup bersih. Tempat makan di tepi jalan yang di depannya banyak pedagang berjualan, umumnya memiliki toilet umum. Di tempat ini, biasanya banyak bus wisata parkir. Cek saja apakah ada bus wisata yang sedang dicuci di situ. Kalau ada, berarti tempat makan itu punya air berlimpah. Biasanya untuk ke toilet akan dikutip ¥ 1 (1 Yuan adalah sekitar Rp.1.500,00). Tiga kali saya mampir ke toilet seperti ini, dan umumnya bersih.

Kalau kita di Indonesia, kita pasti mencari pom bensin, karena umumnya toilet di dalamnya bersih. Jangan berpikir seperti ini di China. Bisa jadi toilet di pom bensin adalah toilet terjorok yang pernah ada. Sichuan di bulan November sangatlah dingin. Mungkin karena dingin, banyak penduduk yang malas bersentuhan dengan air. Akibatnya, jarang ada yang menyiram sisa pipis dan pupnya. Herannya, setiap pom bensin ada yang jaga loh. Entah kenapa tidak ada sistem yang mengatur kebersihannya.

Cukup sering saya menemukan toilet kotor seperti ini. Untuk pria masih mending sih, bisa menggunakan urinoir untuk pipis. Saya nggak kebayang apa yang harus dilakukan perempuan bila ada yang kebelet pipis di toilet seperti ini.

Tidak semua tempat wisata memiliki toilet bersih. Jiuzhaigou memiliki toilet yang tersebar di setiap titik wisatanya yang banyak. Umumnya toilet di sini cukup bersih. Mereka membuat toilet yang ramah lingkungan. Air wastafel pun masih menyala.

Di HuangLong tidak sebaik Jiuzhagou. Meski memiliki sistem toilet serupa, namun banyak toilet yang tak memiliki air. Saya sempat berada di toilet menjelang pukul 17:00 saat tempat wisata ini mulai ditutup. Tiba-tiba saja semua lampu mati, exhaust-pun mati. Tentunya, setelah saya keluar, masih akan ada orang yang datang menggunakan toilet. Nggak kebayang, baunya toilet esok pagi saat tempat wisata ini kembali dibuka.

Di Siguniang saya merasakan pengalaman luar biasa. Toilet di gerbang masuk sangat-sangatlah bersih. Mungkin karena memang jarang dipakai. Namun saat saya berjalan di dalam hutannya, saya hanya menemukan satu buah toilet. Toilet di sini lebih mirip kandang. Kenyataannya, memang di bawah toilet ini adalah kandang sapi. Baunya luar biasa. Di toilet ini pun tidak ada kakus atau urinoir. Hanya ada lubang terbuka dengan, sehingga kotoran akan jatuh ke kandang sapi di bawahnya. Lain kali, kalau ke sini lagi dan kebelet, lebih baik pipis langsung di hutannya saja deh.

Tempat wisata Hailuogou nggak kalah menariknya. Toilet umum yang berada tak jauh dari stasiun keberangkatan kereta gantung luar biasa jorok. Terdapat satu deretan toilet, ada yang hanya berisi urinoir khusus laki-laki, dan ada yang berisi kakus yang bisa digunakan untuk laki-laki dan perempuan. Saat saya melewati yang berisi kakus, terlihat onggokan pup memenuhi toilet. Untungnya di toilet yang berisi urinoir, meski tidak terlalu bersih, masih bisa dipakai. Yang saya heran, saya melihat perempuan lokal yang masuk ke toilet yang penuh pup di kakusnya itu. Saya nggak kebayang bagaimana ya caranya dia bisa bertahan menggunakannya?

Oh iya, di beberapa toilet umum, terutama di pom bensin, saya menemukan sesuatu yang lucu. Di toilet pria, semua ruang kecil yang berisi kakus tidak ada yang memiliki pintu. Jadi nih, kalau misalnya saya pipis di urinoir di hadapannya, saat saya membalikkan kepala, saya bisa melihat orang-orang yang lagi berpose pup. Huuh, untung saja pemandangan itu tidak terjadi. Lalu saya melirik mampir ke toilet perempuan. Ternyata juga serupa. Setiap kakusnya tidak ada yang memiliki pintu. Jadi kalau ada perempuan yang mau pipis, bisa dilihat oleh perempuan-perempuan lainnya yang masuk ke toilet. Asyik gak?

Berhadapan dengan kondisi di atas, lalu antisipasi apa yang sebaiknya dilakukan?

  1. Siapkan tissue basah sendiri. Kalau nggak ada air, setidaknya bisa menggunakan tissue yang kita bawa sendiri.
  2. Selalu pup di pagi hari. Bahaya kalau sampai kebelet di tengah jalan.
  3. Kalau udara dingin seperti sekarang, nggak mungkin dong menahan pipis seharian. Jadi tetaplah gunakan toilet, sambil berdoa semoga tidak ada pemandangan indah menumpuk di kakusnya.

Setelah membaca kisah toilet ini, apakah kalian masih tertarik jalan-jalan ke China?

(Untuk melihat koleksi foto perjalanan ke China, silakan cek galeri 500px).

6 thoughts on “Kisah Toilet di China”

    1. Kalo di kota sih gak banyak masalah, tapi kalo ke daerah rural dan tempat wisata, hampir semua toilet sama saja kok. Jadi nggak akan beda mau pake tur manapun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge