Kehidupan Kota Chengdu

Chengdu (dibaca Chengtu) adalah salah satu kota terbesar di China yang sudah pernah saya datangi setelah tahun lalu mampir ke Shenzhen. Chengdu memiliki bandar udara internasional yang menjadi gerbang turis domestik dan internasional ke daerah China utara.

Secara sepintas sih pengaturan kota Chengdu tak berbeda dengan Shenzhen. Pengalaman ruang saat saya berada di jalan tak berbeda antara Chengdu dan Shenzhen. Berlawanan dengan Indonesia, di China menyetir di sisi kanan jalan. Jalan rayanya lebar-lebar, bisa sampai tiga lajur. Jalur paling kanan selalu dipakai oleh bus umum. Masih ada pula jalur lambat untuk sepeda dan motor. Lalu masih ada lagi trotoar yang lebar dan nyaman. Kalau sepintas sih, ruang yang tercipta oleh jalan ini, di antara bangunan yang berseberangan, bisa mencapai 25-40 meter.

Kualitas bus umum yang saya lihat di Chengdu tak beda dengan Senzhen. Sama bagusnya. Nomor bus ditampilkan dalam LED, terlihat jelas di depan dan belakang bus. Jumlahnya lumayan banyak, karena saya sangat jarang melihat bus terlihat penuh. Bisa juga karena ada MRT yang menghubungkan setiap daerah di kota, sehingga orang tetap nyaman saat menggunakan transportasi umum bus atau MRT.

Kalau punya kelebihan uang, bisa pakai taksi yang juga sangat banyak. Semua taksi di Chengdu berwarna hijau. Ada argo yang dimulai dari ¥ 8 dan ada juga yang ¥ 9 (¥ 1 kurang lebih sekitar Rp.1.550,00). Kelipatan naiknya per ¥ 1. Memang lebih mahal daripada Jakarta. Wajar sih, karena harga bensin di sana pun lebih mahal daripada Jakarta. Yang termurah sekitar ¥ 9 per liter. Kalau melihat harganya, sepertinya bensin tidak mendapat subsidi dari pemerintah.

Mobil sebagai kendaraan pribadi terlihat banyak pula di Chengdu. Saya sempat merasakan macet saat berangkat dari pusat kota menuju bandara. Namun tentu skala macetnya di kota ini nggak bikin saya stres melihatnya, berbeda kalau saya terjebak di kemacetan Jakarta.

Alternatif kendaaan lain yang banyak digunakan adalah sepeda dan motor. Motor yang digunakan di pusat kota di China berbeda dengan yang biasa saya lihat di Jakarta. Bentuknya mungkin nggak beda dengan skuter matik yang sering ditemui di Jakarta. Yang berbeda adalah mesinnya. Motor-motor ini menggunakan batere, bukan bensin, yang harus diisi ulang setiap malam. Karena batere, maka motor-motor ini tidak bisa dipakai untuk jarak yang jauh. Penggunaan motor batere ini juga bisa ikut mengurangi polusi di China.

Sayangnya kelakuan pengemudinya nggak beda jauh dengan di Jakarta. Beberapa kali saya lihat motor yang naik ke trotoar, lalu ke jembatan penyeberangan, atau bergerak berlawanan arah. Yang saya bingung, sepertinya motor ini lebih diperlakukan sebagai sepeda daripada kendaraan bermotor. Jadi saat mereka naik trotoar, atau ikut menyeberang di zebra cross, atau nggak pakai helm, seperti sudah menjadi hal yang lumrah.

Saya sempat merasakan jalan-jalan di trotoar tengah kota. Yang bikin suka kaget di sini adalah suka tiba-tibanya motor muncul melewati saya di trotoar. Karena menggunakan batere, motor-motor ini tidak terdengar bunyi mesinnya. Mendadak lewat menyelonong saja.

Menyeberang jalan di zebra cross yang sudah memberi kita lampu hijau, tidak berarti kita aman saat menyeberang. Saya tetap harus melihat ke kiri dan ke kanan, karena suka tiba-tiba muncul motor yang berbelok dari arah tujuan lain, melewati zebra cross. Kalau nggak terbiasa mungkin akan cepat stress. Namun tetap sih nggak akan bisa membuat saya stress seperti yang saya alami setiap hari di Jakarta.

Kalau untuk urusan trotoar sih, Chengdu nggak kalah dengan kota lainnya. Lebar, nyaman, enak dipakai berjalan sambil membawa benda beroda seperti koper atau troli. Taman juga mudah ditemukan, dengan banyak tempat duduk, tempat bermain anak, dan tempat sosialisasi warga. Taman di sudut blok yang saya lewati bahkan menyediakan dua meja tenis, dengan warga yang asyik bergantian bermain.

Trotoar ini sebenarnya tak hanya ditemukan di kota besar. Kota-kota kecil yang sempat saya lewati di China utara juga punya trotoar yang nyaman. Taman kecil dengan tempat duduk juga mudah ditemukan di kota kecil. Warga memanfaatkan taman dan trotoar sebagai tempat berinteraksi. Bahkan saya melihat beberapa meja makan sengaja ada yang ditaruh di trotoar, untuk mereka makan bersama-sama.

Chengdu memang kota modern yang didesain benar untuk kebutuhan warganya. Sungguh iri rasanya punya kota dengan desain seperti ini. Jakarta memang sudah terlalu parah dan salah sejak awal. Kadang saya suka berpikir, mending Jakarta dihancurkan, dan buat kota baru di tempat lain saja dengan desain perencanaan yang jauh lebih benar. Siapa tahu malah dengan cara itu, kehidupan warganya bisa jadi jauh lebih manusiawi. Siapa tahu loh…

(Untuk melihat koleksi foto perjalanan ke China, silakan cek galeri 500px).

10 thoughts on “Kehidupan Kota Chengdu”

    1. @oomyahya:
      Bersebelas om + 3 guide, pake custom tour gitu. Itinerary ada di postingan bagian pertama.
      Kalau petunjuk sih banyak yang pakai bahasa Inggris. Di jalan-jalan utama kebanyakan selalu dua bahasa (Mandarin dan Inggris). Susahnya orang2 yang ditemui ini, nggak ada yang bisa bahasa Inggris. Kayaknya agak repot kalau nggak ditemenin dengan yang bisa bahasa Mandarin.

  1. wah mas, saya pun pertengahan bulan mei 2013 ini akan berangkat ke Chengdu untuk belajar di Chengdu University dalam rangka pertukaran mahasiswa.

    akhirnya sedikit dapat gambaran tentang kota ini.. 🙂

    saya mau tanya mas, di sana konsulat Indonesia udah ada apa belum ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge