Need – Want, Create – Collect

Tadi pagi menjelang subuh, saya menulis tweet di atas. Mencoba mengingatkan diri untuk tidak memulai mengoleksi sesuatu lagi. Dua pesan yang biasanya saya selalu ingat-ingat saat saya mulai tertarik akan suatu hobi koleksi tertentu.

Saya termasuk orang yang mudah tertarik untuk mengoleksi sesuatu sebagai hobi. Namun saat saya mulai, saya bisa tidak berhenti, meski itu ujung-ujungnya menguras dompet. Sesuatu yang sudah pernah saya alami dulu, dan tidak ingin saya ulangi lagi.

Dahulu saya termasuk yang gila mengoleksi komik US. Saya membeli banyak komik setiap bulannya. Boros banget, apalagi untuk hitungan saya saat itu sebagai seorang mahasiswa. Saya merasa kurang kalau tidak belanja komik dan membaca ceritanya lebih lanjut setiap bulannya. Bahkan saat seri itu tidak menarik lagi, saya masih membelinya demi saya memiliki lengkap semua nomor seri komik tersebut.

Hal yang menjadi justifikasi saya melakukan itu selalu sama. Komik ini menarik, dan punya nilai lebih. Bila membeli komik yang tepat dan menjadi hits (entah karena cerita, ilustratornya, dll) nilai komik itu kan menjadi tinggi, karena semakin dicari orang untuk koleksi. Pemikiran ini selalu menjadi pembenaran bagi saya untuk membeli dan terus membeli. Padahal, tidak ada satupun komik itu yang akhirnya saya jual sampai sekarang, meski kenyataannya ada yang benar harganya melambung tinggi kalau dijual ke pasar luar.

Akhirnya saya berhasil menghentikan kebiasaan mengoleksi itu karena nilai dolar yang waktu itu tiba-tiba melambung tinggi. Sudah di luar kemampuan saya untuk membelinya. Saat saya berhenti, langsung saat itu saya coba berhenti total. Tidak membeli sama sekali. Dorongan untuk membeli terus ada, namun nalar dan dompet menghalangi dorongan itu untuk muncul.

Waktu berselang dan keinginan untuk mengoleksi sesuatu selalu saja muncul. Mungkin bukan lagi komik, tapi hal lain yang menjadi ketertarikan saya selanjutnya. Melihat action figure, Lego, DVD, atau apapun memunculkan dorongan mengoleksi sesuatu kembali. Pengalaman dengan komik dahulu menjadi pengingat supaya saya tidak lagi mengulangnya. Lebih baik saya tidak mulai sama sekali daripada saya tidak bisa berhenti lagi. Saya jadi punya semacam “mind block” untuk menutup dorongan itu.

Biasanya orang yang tertarik dengan shopping, saat melihat barang diskon, akan mudah tertarik untuk membelinya, padahal belum tentu barang itu dibutuhkan. Jangan salah, kalau saya belum pernah punya pengalaman di atas, mungkin saya akan melakukannya pula. Sekarang setiap kali melihat suatu barang menarik, “mind block” saya mencoba menghalanginya. Saya selalu berpikir, barang itu nggak akan terpakai, barang itu nggak akan saya gunakan. Saya nggak butuh banget barang itu. Susah? Awalnya memang seperti itu. Namun percayalah, begitu akhirnya saya sudah pulang ke rumah, berpikir tenang, saya lalu bersyukur karena saya tidak membeli barang tersebut.

Kalau sesampainya di rumah, ternyata saya masih memikirkannya, saya akan mencoba merasionalisasikannya. Apakah benar barang itu akan dibutuhkan? Bila memang benar-benar dibutuhkan, baru saya akan kembali esok harinya ke toko tersebut untuk membelinya.

“Mind block” ini yang akhirnya pun bisa menghalangi saya untuk membeli barang hanya karena diskon. Saya tidak pernah lagi peduli dengan diskon sekarang. Lebih baik saya membeli suatu barang karena benar-benar dibutuhkan, meski saat itu tidak diskon, daripada saya membeli barang setiap kali terjadi diskon. Seharusnya, biaya yang saya keluarkan akan tetap lebih murah.

Kembali ke urusan koleksi-mengoleksi, dorongan ini masih saya rasakan hingga sekarang. Contoh terakhirnya adalah kemarin. Saat kumpul dengan teman-teman fans JKT48, seseorang membawa koleksi photo pack-nya di album. Saya buka satu demi satu, dan menemukan sesuatu yang luar biasa di sini. Ada edisi terbatas. Ada beberapa foto yang punya nilai lebih daripada yang lain. Bahkan ada seseorang yang punya koleksi seri lengkap dan menjualnya dengan harga tinggi. Sekarang untuk foto tertentu, nilainya bisa berlipat-lipat jauh dari harga pembeliannya. Sama persis konsepnya dengan saat saya mengoleksi komik dahulu.

Saya pun sadar, kalau saya memulai ini, saya tidak akan bisa menghentikannya lagi. Saya akan mengulang kebiasaan yang sudah lama saya coba tekan dan hilangkan. Saya pun mencoba menulis 2 tweet tersebut tadi pagi. Mencoba mengingatkan diri supaya tidak terjerumus ke kebiasaan lama.

Saya harus ingat kalau ini hanya “want” bukan “need.”

Saya juga harus ingat kalau saya lebih suka “create” daripada “collect.”

Lebih baik saya kembali menciptakan sesuatu yang menarik yang berhubungan dengan fandom JKT48 daripada saya mengumpulkan sesuatu kembali. Saya waktu itu sudah membuat survei tentang fans. Sesuatu yang akhirnya dibaca banyak orang, dan saya senang karenanya. Ini yang sejak pagi saya terus ingat-ingat di benak, membangun “mind block” supaya tidak tertarik lebih dalam untuk mengoleksi photo pack.

Syukurlah, seiring dengan penulisan blog ini, dorongan untuk itu mulai berkurang. Sekarang, saya harus mencoba mengalihkan pemikiran untuk membuat sesuatu yang menarik lagi selain survei yang sudah pernah saya buat dulu. Namun apa ya…?

12 thoughts on “Need – Want, Create – Collect”

  1. hahaa.. nice post! ini nyindir banget deh mana yg termasuk want vs need. seringan sih “want” menang :p
    tp kadang yang lebih bahaya merasionalisasikan want menjadi need. kalo harus ada proses merasionalisasikan berarti sebelumnya memang gak rasional lalu dipaksa :p

    1. Red, Kayaknya sih kalau semakin sering koleksi photo pack elo, dorongan gw untuk mengoleksi semakin sedikit.
      Setiap kali pengen lihat, tinggal cari elo lalu buka album photo-nya. 😀

  2. Hmm…. klo baca penggalan kalimat ini :
    “Akhirnya saya berhasil menghentikan kebiasaan mengoleksi itu karena nilai dolar yang waktu itu tiba-tiba melambung tinggi.”
    Jadi yg bikin berhenti adalah I can afford or I can’t afford

    1. Joko, buat gw itu trigger-nya. Mungkin buat yang lain, harus punya trigger serupa.

      Buat gw sekarang, mau mengoleksi photo pack (misalnya), nggak ada masalah, karena gw sangat “afford” melakukannya. Namun kembali lagi ke pertanyaan: itu want atau need?

      1. Nah klo kasus photo pack jangan2 sebenernya masih tetep “want”, tp “want” yg lebih dari photo 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge