Bermula dari Nol

Saya lahir belum bisa apa-apa. Saya belajar dari awal. Awalnya dipilihkan oleh orang tua saya, apa yang harus saya pelajari, hingga akhirnya bisa memilih sendiri. Saya yakin teman-teman saya pun seperti itu. Yang mempengaruhi mungkin bisa berbeda-beda. Bisa keluarga, sekolah, lingkungan pergaulan, televisi, internet, ata apapun. Semua selalu mulai dari tak bisa apa-apa, lalu melalui proses belajar, menjadi sesuatu yang lebih baik.

Saat saya bergabung dalam suatu lingkungan, misalnya sekolah atau kuliah, saya berkenalan dengan orang yang berbeda, yang mendapatkan pengalaman belajar berbeda-beda pula. Tak ada yang lebih baik, tak ada yang lebih buruk. Landasan yang mempengaruhi kita selama perjalanan hidup sudah pasti berbeda, tak ada yang bisa memaksakan itu.

Di lingkungan yang sama itu pastinya kita mencoba kenal satu dengan lain. Apalagi saat kuliah saat saya semakin banyak kenal dengan teman-teman dari luar daerah, termasuk dari luar Pulau Jawa. Saya belajar untuk mengenal mereka. Mengenal perbedaan dan mencoba bertoleransi. Ada yang menyenangkan memang, meski ada juga yang menyebalkan.

Seperti biasanya masuk dalam suatu lingkungan, saya hanya berkumpul dengan teman-teman yang saya kenal di awal. Beberapa teman yang dari luar daerah pun cenderung berkumpul dengan teman lainnya dari daerah asal sama. Setiap orang mencoba mencari teman melalui kesamaan akan suatu hal. Nggak ada yang salah dengan itu.

Berbulan-bulan berlalu, sampai akhirnya beberapa dari kami menyadari kalau kami ingin lebih kompak dan kenal lebih dekat satu sama lain, kami semua harus bikin acara ke luar kota bareng. Camping. Bikin kegiatan bareng di luar kampus. Bikin kegiatan yang memaksa kami untuk bisa saling membantu satu sama lain, dan akhirnya semakin kenal dengan yang lain. Bikin kegiatan yang membantu kami mengenal keahlian dan kelebihan teman-teman kami masing-masing.

Acara 3 hari camping di Ranca Upas ini yang mulai mengubah kebiasaan kami. Pertemanan mulai melebar, tidak hanya kumpul dengan kelompok tertentu. Sesuatu yang rasanya canggung di awal, kini sudah tidak terlalu terasa lagi. Kelompok-kelompok pertemanan kecil yang dulu muncul semakin lama terkikis menjadi kelompok yang lebih besar yang saling beririsan satu dengan lainnya.

Apakah kami bersaing satu sama lain? Tentu saja. Saya sendiri pernah merasa iri dengan teman yang nilai tugasnya lebih baik. Saya juga pernah kesal dengan seorang teman tidak melakukan apa-apa saat kerja dalam grup. Iri dan kesal tidak lalu membuat saya menjatuhkan mereka. Justru sebaliknya, saya tetap terbuka dan mau membantu kalau mereka, atau teman lainnya butuh bantuan. Persaingan boleh terjadi, namun tidak berarti harus menjatuhkan teman lainnya. Justru kalau bisa saling berbagi ilmu, bukankah akhirnya kita punya landasan pengetahuan yang sama untuk bersaing dengan tantangan lebih hebat?

Hingga sekarang persaingan selalu ada. Bedanya malah lebih besar, konteksnya industri. Kantor saya bersaing dengan kantor lainnya demi mendapatkan sebuah proyek adalah hal yang biasa. Namun saya mencoba sebisa saya untuk berbagi lebih, atau setidaknya menyediakan sarana untuk berbagi. Tujuannya? Supaya semua yang berada di industri yang saya geluti ini mendapatkan pandangan dan pengetahuan yang selalu baru. Semua bisa belajar dari yang lain, meski kami tetap bersaing satu sama lain.

Saya mulai dari nol. Kamu pasti juga mulai dari nol. Mereka semua juga mulai dari nol. Yang membedakan saya, kamu, dan mereka adalah kesempatan. Bisa jadi saya dapat kesempatan lebih dahulu. Bisa jadi untuk suatu hal, saya malah belum mendapat kesempatan sama sekali. Saling berbagi dan belajarlah satu dengan lainnya. Tidak sombong. Tidak tinggi hati. Selalu ingat bahwa setiap orang lahir dengan pengalaman dan kesempatan yang berbeda. Selalu ingat kalau saya, kamu, dan mereka adalah teman juga, yang harus saling membantu satu sama lain, bukan menjatuhkan.

Baca juga tulisan Mas Bukik di tautan ini.

3 thoughts on “Bermula dari Nol”

  1. pernah berada di titik insecurity yang tinggi dan selalu merasa iri dengan apapun yang dimiliki orang lain sampai seorang sahabat mengingatkan,”hei kamu punya apa yang orang lain gak punya. don’t be stupid. are you even trying, or you’re just whining?”
    thanks for the reminder ya pit

  2. “Bisa jadi untuk suatu hal, saya malah belum mendapat kesempatan sama sekali.”

    Mungkin dengan menyadari akan hal itu, saya sepatutnya bersyukur dengan kesempatan yang saya miliki sekarang.

    Beruntung bisa membaca tulisan ini, jadi mengingatkan bahwa kita harus selalu bersyukur ;))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge