Museum Fujiko F. Fujio

Museum tampak belakang
Museum tampak belakang

Profesor Fujiko F. Fujio adalah mangaka dan animator senior yang menelurkan banyak karya yang dikenal hampir di seluruh dunia. Pastinya kenal dengan serial Doraemon, P-Man, dan Kiteretsu Daihyakka kan? Nah, Profesor Fujiko inilah pembuatnya.

Tiket masuk ke Museum Fujiko F. Fujio hanya bisa dibeli melalui mesin yang tersedia di beragam toko Lawson di Tokyo. Sayangnya tak ada pilihan bahasa Inggris di mesin ini. Jadi akan butuh bantuan seseorang yang bisa membaca huruf kanji yang bisa memesankannya. Tinggal tentukan tanggal dan jam kedatangan ke museum. Mesin tersebut akan memberi tahu apakah pada tanggal dan jam tersebut kuota masih tersedia. Harga per tiketnya 1.000 Yen, yang bisa langsung dibayarkan di kasir Lawson. Selain untuk membeli tiket masuk Museum Fujiko F. Fujio, melalui mesin ini pula, kita bisa memesan tiket masuk ke Museum Ghibli, juga dengan harga sama, 1.000 Yen.

Tiket ke museum, dibeli di Lawson
Tiket ke museum, dibeli di Lawson

Setiba di stasiun Noborito carilah bus mini berwarna biru dengan gambar karakter Doraemon di sisinya. Bus mini ini akan mengantar langsung ke tujuan.  Museum Fujiko F. Fujio berlokasi tak jauh dari stasiun, di tepian kota Tokyo, dengan biaya 200 Yen. Di depan museum sudah menunggu beberapa petugas perempuan dengan seragam yang lucu sekali. Ipi bilang kalau seragamnya mengingatkan akan seragam yang dikenakan oleh salah satu karakter di serial Doraemon.

Bus mini ke museum
Bus mini ke museum

Kami pun antri masuk dan menunjukkan tiket. Di dalam tiket ini akan ditukar dengan sebuah alat dengan keypad  dan layar kecil. Alat yang mereka sebut dengan Ohanashi Denwa ini akan menjadi pemandu setiap pengunjung museum.  Tersedia dalam bahasa Jepang, Inggris, Korea, dan China. Saya memilih bahasa Inggris karena jelas saya tidak paham bahasa lainnya.

Ketika saya menemukan nomor yang menempel di dekat sebuah karya, saya cukup mengetikkan nomor tersebut di Ohanashi Denwa. Tempelkan Ohanashi Denwa di dekat telinga seperti saat mendengarkan telpon, maka akan terdengar suara pemandu yang menjelaskan tentang karya tersebut.

Kelebihan Ohanashi Denwa tidak hanya itu. Ada beberapa video dipamerkan di museum. Saat saya mengetikkan angka sesuai yang tertera di dekat layar video, maka Ohanashi Denwa akan melakukan sinkronisasi waktu sehingga suara yang terdengar pun mengikuti video yang diputar. Menarik sekali konsep Ohanashi Denwa ini. Pengunjung bisa mendengarkan dengan privat dan jelas setiap informasi, tanpa perlu mengganggu kenikmatan pengunjung lain.

Ohanashi Denwa
Ohanashi Denwa

Tidak diizinkan untuk memotret karya-karya yang dipajang di dalam museum. Kebetulan pula, saat ini museum masih merayakan ulang tahun yang ke-2. Beberapa karya yang biasanya dipajang merupakan hasil reproduksi, namun tidak kali ini. Khusus selama masa perayaan ulang tahun, hampir semua yang dipajang adalah karya asli Profesor Fujiko.

Museum menampilkan banyak lembaran kertas artwork asli Profesor Fujiko. Manga yang dibuat benar-benar manual. Dengan pensil, tinta, tone, dan pena putih. Untuk teks masih ditempel di atas balon yang digambar manual. Pewarnaan sampul manga masih dikerjakan dengan menggunakan cat air.

Ada salah satu bagian museum yang menceritakan tentang proses pengerjaan manga. Uniknya, lembaran kertas dengan coretan manga ini dikombinasikan dengan tembakan proyektor karakter Doraemon dan Nobita. Mereka berdua seakan-akan menjadi narator proses penggambaran manga. Elemen digital dikombinasikan dengan analog untuk membantu penceritaan.

Museum juga menampilkan beragam benda yang menjadi inspirasi Profesor Fujiko, sejarah manga yang dikerjakan olehnya, hingga kehidupan keluarganya. Salah satu yang sempat menarik perhatian adalah, Profesor Fujiko bersama seorang rekan pernah membuat manga indie saat beliau masih di SMA. Digambar manual, dijadikan buku, dan diedarkan untuk dibaca oleh teman-temannya. Manga ini yang katanya sempat ditunjukkan ke mangaka senior, Osamu Tezuka, yang langsung kagum melihat karya yang sudah terlihat matang untuk ukuran seorang pelajar. Osamu Tezuka ini pula yang menjadi inspirasi bagi Profesor Fujiko untuk terus berkarya hingga akhir hayat.

Museum bukan sekedar tempat menikmati karya. Museum yang menarik adalah bisa mengajak pengunjung untuk terlibat lebih aktif lagi. Taman bacaan manga, tempat bermain dan berinteraksi anak, taman terbuka dengan ikon-ikon Doraemon, hingga kafe dan toko yang menjadi pelengkap aktivitas. Museum Fujiko F. Fujio juga menyajikan pemutaran anime yang khusus disajikan hanya di tempat ini. Ceritanya apalagi kalau bukan seputar Doraemon dan Nobita, yang masuk ke dalam televisi dan berpetualang bersama dengan P-Man dan teman-temannya.

Taman bacaan
Taman bacaan
Interaktivitas untuk anak
Interaktivitas untuk anak

Saya bisa belajar banyak dari Museum Fujiko F. Fujio ini. Memamerkan karya manga yang berbasis kertas pun bisa disajikan dengan cara modern. Setiap pengunjung bisa menikmati penjelasan audio yang privat sesuai keinginannya masing-masing. Yang tak kalah penting adalah, museum tidak diciptakan untuk membosankan. Aktivitas pelengkap menjadi penting. Bahkan museum bisa mendapatkan keuntungannya sendiri melalui penjualan di kafe dan merchandise khas museum. Jumlah pengunjung yang bisa masuk ke museum dalam suatu periode pun dibatasi, sehingga saya tetap merasa nyaman di dalamnya.

Pintu ke mana saja
Pintu ke mana saja
Taman di luar museum
Taman di luar museum

 

Doraemon
Doraemon

(Tulisan ini merupakan potongan dari ebook perjalanan ke Jepang, yang kini masih dalam proses penyusunan. Tunggu tanggal rilisnya ya!)

3 thoughts on “Museum Fujiko F. Fujio”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge