Pengguna Grab Taxi

Sudah dua kali naik taksi Express gw melihat pak supir ternyata pengguna aplikasi Grab Taxi. Gw sendiri belum pernah pakai, meski pernah dengar mekanismenya app-nya sebelumnya. Kesempatan ini nggak gw lewatkan dong untuk ngobrol-ngobrol dengan si pak supir, untuk dapet insight dari sudut pandang mereka.

Pada kesempatan pertama dulu, gw sempat dapet cerita dari pak supir mengenai mekanisme ordernya. Gw pesan melalui aplikasi Grab Taxi. Lalu nanti taksi terdekat yang berada di posisi gw akan merespon. Si supir akan memencet tombol terima order. Bila ada banyak supir yang mencet bersamaan, maka akan dipilih taksi yang paling dekat dengan posisi gw. Si supir yang dapet order ini nanti akan dapat bonus Rp.20.000 dari Grab Taxi, sementara supir-supir lain yang masih di area dekat dan ikut memencet tombol terima order, namun gagal dapet, masih menerima bonus Rp.5.000. Hmmm, lumayan banget kan?

Lalu gw juga tanya ke si pak supir, ikutan program Grab Taxi sesulit apa? Katanya nggak susah. Tinggal apply ke kantor Grab Taxi, periksa dokumen, foto, maka akan langsung jadi partner Grab Taxi. Kalau si pak supir nggak punya hape android, maka ia bisa menyicil ke Grab Taxi android Acer seharga 1 juta rupiah. Si pak supir harus bayar Rp.100.000 di awal, lalu di bulan kedua, setiap harinya akan dipotong Rp.10.000 dari komisi selama 3 bulan. Kalau sudah punya hape android sih, tinggal minta diinstalkan aplikasinya saja.

Si pak supir juga cerita tentang Easy Taxi, yang saat ini bisa dibilang kompetitornya Grab Taxi. Model bisnisnya serupa, tapi bonus yang diberikan Easy Taxi berupa sembako di akhir bulan bila mencapai target rupiah tertentu.

Yang saya bingung adalah, kalau Grab Taxi memberikan kemudahan untuk konsumen, dan juga untuk supir taksi, lalu dari mana aplikasi ini mendapatkan revenue? Supir taksi yang menjadi pengguna aplikasi Grab Taxi tidak ada kewajiban menyetor apapun (kecuali kalau beli hape android di atas ya). Mereka malah dapet bonus.

Si pak supir sepertinya juga memikirkan hal yang sama. Saat ia menanyakan ini ke pihak Grab Taxi, jawaban yang ia terima adalah klise. “Bapak nggak usah memikirkan Grab Taxi dapet profit dari mana. Bapak juga nggak pusing bertanya dari mana Facebook dapet uang kan?”

Pengalaman bertemu kedua kalinya dengan supir taksi pengguna Grab Taxi adalah pagi tadi. Saat saat masuk, si pak supir langsung memberikan kartu dengan nomor kode unik Grab Taxi. Si pak supir nanya apakah gw sudah menginstall aplikasi ini belum. Gw jawab belum, tapi bolehlah gw install sambil jalan.

Namun karena ukuran file yang cukup besar (hampir 10 MB), ternyata hape android ini nggak mengizinkan gw untuk mengunduhnya melalui jaringan 3G. Harus di wi-fi. Tanpa gw duga, si pak supir malah menawarkan, “Pak, pake wi-fi saya aja nih untuk download-nya.” Lalu dia menyalakan modem Bolt-nya.

“Eh buset, niat amat sih ni supir taksi,” pikir gw. Lalu gw pun men-download app-nya. Si pak supir lalu terus memandu pengisian, termasuk di mana harus mengisi kode voucher yang tadi ia berikan ke gw saat masuk.

Lalu ia meminta gw untuk mensimulasikan order taksi. Ia pun meminggirkan taksinya dulu supaya gw bisa mendapatkan posisi GPS yang tetap. Setelah 3 kali mencoba, akhirnya yang keluar adalah taksi dengan kode yang gw tumpangi. Setelah saya approve dan booking (ceritanya booking, padahal sih sudah di dalam taksi), baru saya tanya lagi ke pak supir.

“Pak, emang dapet bonus apa sih? Kok kayaknya niat banget minta saya registrasi?”

“Buat penumpang kan bonus Rp.15.000 dari voucher. Nah, buat saya dapet bonus Rp.20.000,” katanya.

Owalah, pantesan aja. Sambil jalan dia juga cerita kalau ada temannya yang bahkan punya tabungan komisi di Grab Taxi sampai 9 juta rupiah. Edun, bisa jadi bonus tambahan ini sih. Pantesan banyak supir taksi yang pengin ikutan.

Gw tanya, selain Express, supir taksi mana lagi yang ikutan program Grab Taxi? Dia jawab, yang paling banyak sih memang Express dan Gamya. Supir Blue Bird juga ada sih, tapi ngumpet-ngumpet. Mereka nggak boleh pakai karena kan Blue Bird sudah punya sistem order digitalnya sendiri.

Si pak supir taksi yang ini juga merasakan kebingungan serupa dengan pak supir taksi yang dulu gw temui. Dari mana Grab Taxi dapat keuntungannya ya kalau setiap saat selalu ngasih bonus ke konsumen dan supir taksi? Ya gw cuma bisa jawab, paling ya selama ini dari investornya dulu. Nggak tau deh tapi bisa sampai kapan ya bertahan. Oh iya, si pak supir juga cerita kalau Easy Taxi ternyata sudah nggak ada lagi. Jadi pilihannya sekarang tinggal Grab Taxi (atau Uber Taxi, tapi ini sih beda kategori ya).

Kalian pernah punya pengalaman dengan Grab Taxi juga?

Tulisan ini juga bisa ditemukan di Google Plus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge