Workflow Editing Foto

Setiap orang mungkin punya pengalamannya sendiri-sendiri dalam melakukan proses paska produksi pemotretan. Tergantung kebiasaannya masing-masing. Nah, kali ini saya akan cerita workflow versi saya.

Umumnya setiap proyek pemotretan saya buatkan folder dengan format [tahun][bulan][hari][nama event foto], misalnya: 2015.08.30 – Indonesian Jazz Festival. Saat nanti saya punya banyak proyek foto, maka saya akan bisa melihat urutannya berdasarkan tanggal.

image

Di dalam folder tersebut, saya membuat 3 folder baru, yaitu:

  • original: berisikan semua file RAW dan JPG yang murni hasil pemotretan. Ini yang saya copy langsung dari memory card kamera.
  • final: berisikan file final resolusi tinggi yang sudah mengalami proses editing di aplikasi Lightroom dan Photoshop. File ini saya siapkan seandainya sewaktu-waktu saya mau cetak atau kebutuhan lainnya. Semua file di folder ini tanpa watermark.
  • thumb: berisikan file resolusi web dari versi final. File ini sudah cukup jelas untuk dilihat di online namun kualitasnya tidak terlalu bagus kalau dicetak. Semua file di folder ini mencantumkan watermark.

Proses editing pun dimulai dengan menggunakan aplikasi Lightroom. Saya buka semua file di folder original, lalu saya pun mulai mengedit tone dan cropping foto. Saya sendiri sudah memiliki preset tone favorit dengan beberapa kondisi pencahayaan pemotretan. Penggunaan preset ini mempercepat proses editing, dan sangat bermanfaat saat menghadapi proyek yang memiliki ratusan foto dalam suatu kondisi pencahayaan serupa. Biasanya saya tinggal apply preset, lalu melakukan adjustment sedikit saja.

Hehe itu teorinya ya. Kenyataan di lapangan berbeda. Sangat jarang saya mendapatkan kondisi pencahayaan yang sama, terutama kalau yang menjadi subjek pemotretan adalah aksi di stage. Terkadang saya juga ingin bereksperimen menampilkan tone foto yang berbeda. Makanya tidak pernah ada rumusan tone yang pasti. Preset tone saya di Lightroom pun akhirnya makin lama makin banyak.

Saya juga bukan orang yang sangat perfeksionis bahwa hasil editing akhir foto memiliki komposisi yang tidak jauh berbeda dengan saat saya menjepretkannya. Foto yang saya jepretkan landscape, saat editing akhir bisa saja saya crop menjadi portrait. Komposisi subjek yang di kanan, bisa saja menjadi di tengah setelah saya crop banyak sisi kirinya. Hanya saya perlu ingat konsekuensinya, ukuran foto akhir akan menjadi lebih kecil daripada sebelumnya.

Semua foto yang sudah saya edit tone dan cropping di Lightroom saya ekspor ke JPG resolusi tinggi 300 dpi. Saya simpan di folder final. Selanjutnya saya buka Photoshop untuk melakukan editing tambahan. Saat saya memotret seorang member JKT48 di stage saat mereka bergerak, terkadang setelah saya crop fotonya, masih menyisakan potongan tangan/jari/kaki/badan nongol di tepi foto. Kalau memang memungkinkan, potongan yang nongol ini saya hilangkan di Photoshop. Kadang saya juga masih suka melakukan adjustment tone tambahan di Photoshop bila ternyata hasil ekspor dari Lightroom kurang memuaskan.

IMG_6188

Versi asli foto Ghaida dan Dhike di atas ada potongan badan member lainnya di sebelah kanan. Di Photoshop saya sengaja hapus supaya Ghaida dan Dhike terlihat menonjol.

Untuk editing di Photoshop yang sangat kompleks, saya akan menyimpan foto dalam versi PSD yang masih ber-layer. Namun kalau editing yang saya lakukan itu mudah, biasanya langsung saya save dalam format JPG 12 300 dpi, menimpa file JPG final hasil ekspor dari Lightroom.

File ukuran web dengan watermark juga saya buat di Photoshop. File ukuran web yang saya buat adalah 1200 pixel untuk sisi terpanjang, dengan resolusi 72 dpi. Setelah itu baru saya tambahkan watermark. Ada dua macam watermark yang saya pakai. Yang sederhana, cukup dengan nama saya di pojok kanan bawah. Ada pula watermark yang menampilkan versi lengkap dengan nama event dan tanggal. Selanjutnya saya save foto ini di folder thumb.

Semua file foto ini saya backup di hard disk eksternal khusus untuk foto. Tidak saya campur dengan file lainnya. Untuk menjaga keamanan data, hard disk eksternal ini hampir tidak pernah saya angkat dan pindah-pindah. Saya juga melakukan backup data JPG versi final dan thumb di Flickr. Yang versi thumb ini yang bisa kalian lihat secara terbuka di Flickr saya, sementara versi finalnya saya private, hanya saya yang bisa mengaksesnya.

Pastinya semua orang memiliki workflow berbeda dalam melakukan proses editing foto, karena kebutuhannya pun pasti berbeda. Nah kalau workflow versi kalian seperti apa?

IMG_6406

3 thoughts on “Workflow Editing Foto”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge