Mengontrol Noise untuk Pemotretan Stage

Kemarin di Twitter kak Goenrock sempat bercerita tentang mengontrol noise secara umum dalam pemotretan. Rangkumannya bisa dicek di tautan ini. Silakan baca dulu yaa…

Seperti kalian mungkin juga sudah tahu, kalau saya lebih banyak memotret stage. Tantangan di stage adalah, cahaya yang ada umumnya terbatas (kecuali di konser-konser besar ya), dan kita dihadapkan pada tantangan untuk memotret subjek dengan kecepatan tinggi (apalagi motret grup idol yang geraknya cepat). Jadi saya mau berbagi cerita tentang mengontrol noise, khususnya untuk aksi di stage. Karena saya nggak bakat cerita panjang di Twitter, mending saya ceritain dalam satu postingan blog saja.

Pertama kali yang harus disiapkan adalah, memotretlah dengan file RAW. Jangan hanya JPG, karena RAW memiliki lebih banyak data yang disimpan yang akan sangat jauh memudahkan kalian saat mengedit fotonya nanti. Memang menggunakan file RAW akan memakan space besar. Beli memory card yang banyak, jangan pelit ya.

Untuk pemotretan di stage, yang jadi prioritas adalah speed. Kalau untuk memotret JKT48 minimal harus pakai 1/500 kalau mau bisa nge-freeze gerakan mereka. Kalau terpaksa, speed 1/250 sudah paling minimum. Dengan pencahayaan yang terbatas, tentunya ini berkonsekuensi pada bukaan (aperture) yang besar dan ISO yang tinggi.

Aperture bergantung pada jenis lensa yang dipakai. Carilah lensa yang memiliki bukaan f/2.8, atau f/4 paling minimum. Untuk pemotretan stage umumnya banyak yang menggunakan lensa tele 70-200 mm, karena jarak pengambilan gambar ke subjek yang cukup jauh. Kalau untuk pengguna Canon, ada lensa 70-200 f/2.8 dan f/4, yang masing-masing memilki harga yang lumayan mengurangi cukup banyak uang tabungan di bank. Saya sendiri pengguna lensa f/4, karena selain harganya lebih miring daripada f/2.8, bobotnya pun lebih ringan.

Speed sudah bisa kita tentukan. Aperture juga sudah bisa. Sekarang tinggal ISO yang kita suruh kamera untuk menyesuaikan. Kalau kamera kalian punya Auto ISO, gunakan itu. Kalau nggak punya, atur manual ISO dan tes dulu untuk mengecek apakah hasilnya over atau under. Perlu kalian ingat, semakin tinggi ISO makan akan semakin besar noise akan terlihat. Biasanya noise akan jelas terlihat di ISO 3200 ke atas, meski kini sudah banyak kamera profesional baru yang sanggup memotret hingga ISO 12800 tanpa noise terlihat parah. Saya pengguna Canon 5D Mark II. Untuk kamera ini ISO 6400 masih bisa ditolerir, dan masih bisa diedit di pasca produksi. Meskipun demikian ISO 6400 hanya saya gunakan bila terpaksa saja. Lebih rendah lebih baik pokoknya.

Bila kondisi lighting stage parah, sementara kita tetap tidak boleh menggunakan flash karena bisa mengganggu, mungkin ada baiknya kita berdoa saja. Hahahaa…:) Kalau ini kejadiannya, saya akan coba tetap motret sih, sampai dengan kondisi terparah sebagai berikut: hasil terpaksa banyak noise (karena pakai ISO tinggi), lalu ditambah under (sampai maksimal 2 stop). Saya hanya berharap semoga hasilnya masih bisa dikoreksi di pasca produksi. Ya daripada bengong di lokasi kan?

Di pasca produksi, saya lebih suka menggunakan Lightroom untuk mengontrol noise dan mengubah tone. Fitur noise reduction di Lightroom sudah cukup membantu saya selama ini. Silakan geser slider Luminance ke kanan untuk mengurangi noise yang muncul di foto. Geser juga Color dan Smoothness ke kanan untuk memperhalus noise. Awas, jangan geser berlebihan, karena nanti akan membuat kulit manusia di dalam foto menjadi kelihatan seperti plastik. Semestinya kulit manusia tetap punya grain. Kalau kalian geser Luminance terlalu tinggi, kulit akan semakin terlihat seperti boneka manekin.

photo_noise_01

Sebagai penyeimbang Luminance, biasanya saya geser sedikit ke kanan juga slider Clarity. Lalu untuk kondisi foto yang memang gelap, daripada berusaha membuat foto lebih terang, saya cenderung membuat bagian yang gelap jadi lebih pekat. Dengan cara ini, noise pun akan ikut hilang. Caranya, tinggal geser slider Shadows dan Blacks ke arah kiri.

photo_noise_02

Setiap foto yang dihasilkan muncul dari kondisi lighting yang berbeda. Nggak ada rumusan pasti untuk mengedit foto di pasca produksi. Namun semoga sedikit tips di atas bisa memberi pencerahan awal. Sisanya ya, kalian mesti coba dan eksperimen sendiri.

Contoh kasus:

<a data-flickr-embed="true" href="https://www traitement de viagra.flickr.com/photos/anakcerdas/24193656946/in/album-72157662742600101/” title=”IMG_8572″>IMG_8572//embedr.flickr.com/assets/client-code.js
Fisik foto: f/4, 1/60, ISO 6400
Lightroom setting: Exposure +0.95, Contrast +10, Highlights +5, Shadows -31, Whites +10, Blacks -36, Clarity +24, Vibrance +43, Saturation +7, Highlights -24, Lights +18, Darks -5, Shadows +11, Luminance 68, Color 63, Smoothness 68

IMG_8614//embedr.flickr.com/assets/client-code.js
Fisik foto: f/4, 1/200, ISO 6400
Lightroom setting: Exposure +1.55, Contrast +12, Highlights -2, Shadows -31, Whites 0, Blacks -26, Clarity +14, Vibrance +12, Saturation +7, Highlights 0, Lights -10, Darks 0, Shadows +18, Luminance 44, Color 25, Smoothness 50

IMG_7463//embedr.flickr.com/assets/client-code.js
Fisik foto: f/4, 1/500, ISO 6400
Lightroom setting: Exposure -0.24, Contrast -29, Highlights -19, Shadows -12, Whites +19, Blacks -24, Clarity +19, Vibrance +19, Saturation +2, Highlights 0, Lights -11, Darks +18, Shadows -24, Luminance 63, Color 61, Smoothness 83

IMG_7566//embedr.flickr.com/assets/client-code.js
Fisik foto: f/4, 1/320, ISO 4000
Lightroom setting: Exposure +0.12, Contrast -10, Highlights -19, Shadows -12, Whites +19, Blacks -24, Clarity +19, Vibrance +19, Saturation +2, Highlights 0, Lights -11, Darks +18, Shadows -24, Luminance 63, Color 61, Smoothness 83

One thought on “Mengontrol Noise untuk Pemotretan Stage”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge