Jalan-jalan Menyusuri Cikini

1452833876284

Hari minggu kemarin saya ikutan event jalan-jalan yang diselenggarakan oleh @JKTGoodGuide. Rute jalan-jalan (dengan kaki ya) ini menyusuri Cikini. Event ini gratis, meski diharapkan kalau kalian puas dengan guide yang diberikan, kalian bisa memberinya tips.

Selain rute Cikini, ternyata @JKTGoodGuide sebelumnya juga sudah pernah mengadakan event serupa dengan rute pusat kota Jakarta, kota tua, Pecinan Glodok, dan Menteng. Semuanya kawasan historis yang punya cerita. Para guide ini mengaku kalau mereka bukan historian. Jadi mereka tidak paham dengan detil cerita yang terjadi di suatu situs. Namun setelah mendengar mereka bercerita, jelas mereka lebih banyak tahu daripada saya hahaha..

IMG_9750

IMG_9753

Rute Cikini dimulai dari Gedung Joang 45 di jalan Menteng Raya. Peserta yang datang lumayan banyak, sehingga kami dipisah menjadi beberapa kloter. Setiap kloter dipandu oleh satu guide. Saya sengaja ikut dalam kloter yang banyak bulenya, biar bisa mendengarkan penjelasannya dalam bahasa Inggris. Guide kloter kami adalah @FaridArdian. Sebelum mulai, kami saling mengenalkan diri terlebih dahulu. Biar lebih akrab katanya.

Saya dulu sekolah di Kanisius yang lokasinya persis di seberang Gedung Joang 45, namun bari kali ini saya masuk gedung ini. Kebangetan banget ya? Tiket masuknya murah, hanya Rp. 5.000,00. Gedung yang kini sudah berubah menjadi museum ini menyajikan banyak foto dan barang peninggalan di era kemerdekaan.

IMG_9755

IMG_9764

IMG_9765

Di belakang gedung ini terdapat 3 mobil tua, yang semuanya pernah dipakai oleh presiden pertama dan wakil presiden pertama. Kata si guide, mobil yang pernah dipakai presiden pertama Indonesia ini colongan dari Jepang. Lalu mobil yang pernah dipakai wakil presiden sempat berubah jadi oplet, sebelum akhirnya ditelusuri dan dibeli kembali.

Dari Gedung Joang 45, kami mulai berjalan menyusuri Cikini. Kami melewati kantor pos tua yang pernah dipakai untuk museum filateli. Lalu berjalan lagi terus melewati Kafe Cikini. Lokasi ini dulu pernah saya pakai untuk memotret Kei Andinta. Sekarang trotoarnya sudah berubah, dari dulu hanya polos standar biasa, kini dicat mural, hasil karya kerja sama IKJ dan mahasiswa Korea. Lucu-lucu muralnya, ada yang berbentuk ular tangga, ada yang berbentuk kolam ikan. Macam-macam.

IMG_9768

IMG_9772

IMG_9773

Kami lalu berlanjut melewati toko yang dulu adalah pabrik toko kue terkenal, Tan Ek Tjoan. Toko roti ini pernah berjaya sejak didirikan tahun 1921. Sekarang toko ini sudah tutup. Pabriknya kini pindah ke Ciputat. Setiap jam 11 malam, dari Ciputat, roti-roti ini diantar ke Cikini, untuk dijual dengan gerobak dorong keesokan harinya.

Di depan toko terlihat seorang bapak dengan gerobak roti dorongnya. Beliau sudah tinggal di Cikini sejak 1970. Matanya terlihat senang ketika bercerita tentang toko roti ini. Apalagi ketika banyak dari kami yang ikut membeli rotinya untuk sarapan.

IMG_9777

IMG_9779

Kami terus berjalan melewati Taman Ismail Marzuki (TIM). Kata si guide dulu tanah TIM terus ke arah kanan adalah milik Raden Saleh. TIM sempat menjadi kebun binatang, sebelum akhirnya dipindahkan ke Ragunan. Di dalam TIM kini sudah ada gedung baru, perpusatakaan pusat Jakarta. Lumayan ngadem sebentar sebelum lanjut jalan lagi.

IMG_9788

Di sisi kanan jalan Cikini ternyata ada es krim legendaris. Sudah ada sejak 1951. Namanya Tjanang. Dulu sih di tempat ini spesialis khusus es krim, dan bisa dimakan di tempat. Sekarang hanya dijual kemasan untuk dibawa pulang. Harga per cup Rp.12.000. Ada beberapa rasa. Kalau mau bisa cobain yang multi rasa, dengan harga sama. Enak juga es krim industri rumahan seperti ini. Sayang sekarang tidak populer lagi. Katanya pembelinya kini kebanyakan orang tua yang ingin nostalgia masa lalu.

IMG_9795

IMG_9798

Melewati sekolah Perguruan Cikini, si guide bercerita kalau dulu anak-anak presiden pertama Indonesia bersekolah di sini. Katanya dulu tempat ini pernah dilempari granat, namun ternyata tidak meledak.

Saya berjalan sambil melanjutkan makan es krim Tjanang rasa alpukat. Hingga tanpa terasa kami pun sampai di jalan Surabaya. Lokasi ini sejak dulu dipakai untuk berjualan barang antik. Dulu berantakan, sampai akhirnya difasilitasi Pemda dengan membangun kios-kios supaya terlihat rapih. Kalau kalian tertarik dengan barang yang dijual di sini kalian harus pintar menawar ya.

IMG_9806

IMG_9813

Jalan Surabaya merupakan akhir perjalanan kami. Seperti orang Indonesia lainnya, nggak afdol kalau nggak ada foto bareng dong. Dengan berakhirnya acara, kloter kami pun membubarkan diri.

Jika kalian tertarik, di bulan Februari nanti @JKTGoodGuide akan bikin acara jalan-jalan di Pecinan Glodok. Katanya akan dibarengin dengan Tahun Baru Imlek. Jadi pastinya akan banyak acara di lokasi. Silakan colek langsung Twitter-nya ya kalau mau tanya-tanya.

Foto-foto lainnya bisa dicek di galeri Flickr ini.
Silakan juga cek jepretan @pinonyuu di Google Drive ini.

3 thoughts on “Jalan-jalan Menyusuri Cikini”

  1. Kalo foto” outdoor gini mas pit masih pake mode manual atau yg lain mas? Tonal nya bisa konsisten banget gitu, padahal settingannya pada beda dan pastinya cahaya matahari pun berbeda-beda, ada tips biar bisa konsisten mungkin mas? Soalnya pas liburan kmrn, motret” outdoor susah, ada yg keterangan, ada yg kegelapan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge