#WonderfulEclipse: Mengamati Gerhana Matahari Sebagian di Jakarta

Saya masih kecil waktu gerhana matahari tahun 1983 dulu banget. Namun masih membekas di ingatan betapa pemerintah saat itu memberi peringatan keras supaya kita tidak melihat gerhana matahari langsung. Alasan kesehatan mata tentunya. Akhirnya lebih banyak yang mengamati melalui TVRI saja. Saya salah satunya. Akibat larangan itu, saya pun dilarang untuk keluar rumah.

Tahun 2016 tentu berbeda. Sekarang malah pemerintah gencar mempromosikan gerhana matahari supaya turis berdatangan ke propinsi-propinsi yang mengalami gerhana matahari total. Banyak teman dan saudara saya yang terbang ke Palembang dan Bangka Belitung demi bisa menyaksikannya langsung.

sekuens//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Saya yang berada di Jakarta nggak mau ketinggalan fenomena ini. Nggak mungkin dong saya menunggu 300 tahun lagi untuk mendapatkan kesempatan sama. Makanya saya meniatkan diri untuk bangun pagi dan mendokumentasikannya.

Memotret gerhana matahari tidak bisa langsung. Cahaya yang terlalu silau tidak bisa direkam jelas oleh sensor kamera. Malah bisa-bisa sensor ikut rusak karena terhujam sinar panas terus-menerus. Untuk mengurangi intensitas cahaya, perlu ada filter ND. Sayangnya semakin pekat filter ND, semakin mahal harganya.

Alternatif murah yang saya pakai adalah dengan menggunakan kaca film untuk mobil. Beli saja yang intensitas 80% sepanjang 1 meter. Harganya Rp.60.000,00. Lalu saya potong-potong supaya  bisa muat ditaruh di depan lensa saya. Saya siapkan beberapa tipe. Yang saya tumpuk 2 lapis, 3 lapis, dan 4 lapis. Yang penting ada dulu, mana yang nanti dipakai, baru bisa ketahuan nanti di lapangan.

DSCF4524//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Pagi hari 8 Maret 2016 pukul 6 pagi saya sudah berada di rooftop apartemen saya. Enak di sini, bebas ke rooftop. Saya sendirian saja saat itu, menyiapkan tripod, memasang kamera Canon 6D dan lensa 300 mm.

DSCF4519//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Saya coba pasang kaca film yang 2 lapis. Ternyata masih terlalu terang, cahaya mataharinya masih terlihat berpendar, sehingga bentuknya tidak jelas terlihat. Saya coba yang 4 lapis, ternyata terlalu gelap. Warna mataharinya sampai berubah jadi merah. Akhirnya saya pakai yang 3 lapis saja. Untuk diafragma saya set di 5.6 dan speed di 1/500. Ini sih sebetulnya coba-coba saja, mana yang tampilannya terlihat jelas di viewfinder.

DSCF4517//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

DSCF4518//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

DSCF4520//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

DSCF4521//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Mulai pukul 6:21 hingga 8:31 saya duduk diam memotret setiap tahapannya. Mengalami melihat sendiri proses pergerakan bulan yang menutupi pandangan ke matahari sungguh membuat saya kagum. Senang bisa melihat ini secara langsung. Dua jam menatap proses ini tidak membuat saya bosan (meski tetap kelaparan karena belum sarapan).

Berdasarkan informasi BMKG, puncak gerhana matahari akan terjadi pada pukul 7:21. Sungguh seru menyaksikan pergerakannya menit demi menit. Saya sempat melakukan live update juga di Twitter, ikut berbagi keseruan yang saya rasakan dengan orang lain. Karena Jakarta hanya mengalami gerhana matahari sebagian, langit di kota ini pun tidak terlihat menggelap saat puncak gerhana.

<img src="https://farm2.staticflickr.com/1682/25345488880_016e816601_z acheter du viagra naturel.jpg” width=”640″ height=”640″ alt=”0634″>//embedr.flickr.com/assets/client-code.js
06:34

0658//embedr.flickr.com/assets/client-code.js
06:58

0711//embedr.flickr.com/assets/client-code.js
07:11

0721//embedr.flickr.com/assets/client-code.js
07:21

0731//embedr.flickr.com/assets/client-code.js
07:31

0803//embedr.flickr.com/assets/client-code.js
08:03

0823//embedr.flickr.com/assets/client-code.js
08:23

Sepanjang proses gerhana, saya tidak melihat langsung matahari. Terlalu silau, dan memang berbahaya untuk mata. Saya melihatnya melalui viewfinder kamera yang sudah terlapisi oleh kaca film. Terkadang saya juga mengamati secara remote melalui ponsel kamera.

Sepanjang saya menunggu di rooftop, dua kali warga apartemen datang ikut melihat. Mereka saya pinjamkan potongan kaca film yang tidak terpakai, supaya mereka bisa ikut melihat proses terjadinya gerhana.

Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan menyaksikan langsung peristiwa langka ini. Saya senang melihat dan mengabadikannya. Semoga saja tulisan, foto, dan video yang saya dokumentasikan hari ini bisa menjadi cerita untuk generasi berikutnya kelak.

Untuk videonya, klik tombol play di post Instagram saya di bawah ini ya.

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Kalau mau lihat foto-foto asli sebelum digabungkan menjadi video, silakan kunjungi album Flickr saya. 🙂

4 thoughts on “#WonderfulEclipse: Mengamati Gerhana Matahari Sebagian di Jakarta”

  1. Kereeenn!!! Gw agak nyesel ga persiapan buat nonton gerhana & ga cari tau cara motretnya, tapi gapapa karena yakin banyak yg ngepost foto2 yg keren.. Yg penting udah ngalamin liat gerhana, hehe.. Foto & pengalamannya priceless bgt.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge