Adaptasi Karakter Komik, Haruskah Sama?

Sekarang kan makin banyak film dan serial televisi yang diadaptasi dari komik Marvel dan DC. Di Netflix ada Daredevil dan Jessica Jones. Di CW ada Arrow, Flash, dan Legends of Tomorrow. Belum lagi Batman v Superman yang baru rilis belakangan ini di bioskop.

Ada teman saya yang suka bertanya, sejauh mana adaptasi ini sesuai dengan cerita di komik aslinya. Komik US beda dengan manga Jepang. Biasanya cerita anime sebagian besar diambil dari versi manganya. Umumnya hanya ada satu kronologi cerita dari suatu manga, yang kemudian diadaptasi ke format anime atau layar lebar.

Sementara, karakter-karakter komik superhero Marvel dan DC punya banyak versi. Setiap generasi pembaca baru, biasanya akan ada perubahan asal-usulnya. Tim kreatifnya pun terus berganti. Jadi, agak sulit kalau ditanya, “Apakah suatu adaptasi film dan serial televisi itu sesuai dengan versi komiknya?” Biasanya akan saya lempar balik dengan jawaban, “Versi yang mana dulu nih?”

batman_v_superman_dawn_of_justice_2016-1280x800

Saya mengenal komik US sejak tahun 1980-an. Sejak saat itu sudah entah berapa banyak versi Superman, Batman, Justice League, Spider-Man, Avengers, dan tokoh superhero lainnya yang saya kenal. Setiap 5-10 tahun sekali, kisah asal-usul mereka diubah untuk menyesuaikan dengan kondisi zaman saat itu. Belum lagi membahas dunia multiverse di setiap penerbitan, di mana satu universe punya satu versi Superman atau Spider-Man yang berbeda. Terlalu banyak versi sehingga agak sulit bila mereferensikan cerita suatu film dengan komiknya.

Terlepas dari versi cerita yang beragam, setiap tokoh superhero itu tetap punya panduan yang menjaga supaya tetap “stay in character.” Mereka punya prinsip yang konsisten. Pembaca akan langsung tahu ketika perilaku yang dilakukan superhero itu tidak sesuai dengan yang ia kenali saat membaca komiknya.

batmanevolution Source: asimplepencil.blogspot.co.id

Batman misalnya. Ia bisa saja kejam, memukuli penjahat yang ia temui, namun ia tidak akan membunuh. Yang ia lakukan adalah menanam rasa takut di benak para penjahat. Batman juga sangat anti dengan senjata api. Kalaupun ia akhirnya menggunakannya, yang ia pakai adalah gagangnya, bukan peluru di dalamnya. Batman juga seorang detektif. Ia melakukan deduksi akan suatu kejadian. Harus ada alasan logis kenapa ia melakukan tindakan tertentu.

Sebagai tokoh komik, Superman pun punya prinsip yang sudah tertanam di pembacanya. Tujuan ia menjadi superhero adalah supaya bisa menjadi inspirasi bagi warga bumi. Supaya mereka tergerak untuk berbuat kebaikan. Ia selalu mencoba melihat sisi baik dari semua orang, karena percaya mereka bisa menjadi orang yang lebih baik bagi sekitarnya.

Karakter Batman dan Superman inilah yang tertanam di benak saya. Hal ini jugalah yang mengganggu pikiran saat saya menonton Batman v Superman minggu lalu. Selain beberapa plot cerita yang bolong, ada tindakan dari Batman yang keluar dari karakter aslinya.

superman_75_short_line_up_dusty_abell Source: www.supermag.org

Bahasan berikut ini spoiler ya. Jadi jangan lanjut membaca kalau belum menonton filmnya. Di film ditunjukkan adegan Batman menggunakan pistol dan menembak lawan musuhnya. Meski kejadian itu sepertinya “dibenarkan” karena dalam mimpi, namun tetap berlawanan dengan karakter Batman yang anti senjata api.

Di akhir film, Wonder Woman bertanya kenapa Batman mengajaknya mengumpulkan para superhero lainnya. Batman lalu menjawab hanya karena firasatnya mengatakan itu. Ada yang mengganjal di sini. Batman berniat melakukan suatu tindakan karena sebelumnya ia bermimpi melihat bumi dikuasai parademon dari Apokolips (mirip seperti itu sih). Tidak ada nalar logis yang membuat Batman melakukan hal itu. Lebih masuk akal bila mimpi ini digantikan oleh sebuah petunjuk fisik di dunia nyata. Sesuatu yang bisa diterima oleh pemikiran logis Batman.

Di film ini Superman juga semakin dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan. Nuansa positif yang bisa membangun inspirasi dan harapan tidak terlihat sama sekali. Sesuatu yang bukan Superman banget. Itu saya baru bahas Batman dan Superman. Bisa panjang kalau sampai saya bahas Lois Lane dan Lex Luthor yang juga punya masalah serupa.

Cerita boleh berbeda dengan komik (bahkan saya sangat mengharapkan beda), meski beberapa elemen saya perhatikan terinsipirasi dari mini seri Returns of Dark Knight karya Frank Miller. Namun plot yang bolong di sana sini, plus karakterisasi yang kurang sesuai, membuat saya kurang menyukai film Batman v Superman.

Terlepas dari kekurangannya, saya tetap berharap film ini meraih keuntungan besar. Saya masih berharap film Justice League yang direncanakan tayang tahun 2018 tetap bisa diproduksi. Keuntungan besar bagi studio tentu akan memberikan kepastian lebih besar diproduksinya kelanjutan dari film ini.

Kalau menurut kalian, para penggemar komik DC, apa impresi kalian terhadap film Batman v Superman?

2 thoughts on “Adaptasi Karakter Komik, Haruskah Sama?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge