Menggunakan Gojek di Jogja

​Sebagai pengguna aktif Gojek di Jakarta, senang juga saya saat melihat ada Gojek pula di Jogja. Meski sepemandangan mata tidak sebanyak Jakarta, tapi keberadaannya dibutuhkan.

Transportasi umum di Jogja memang ada, tapi masih belum terasa praktis. Bus Trans Jogja kini sudah diganti baru, persis sama dengan bus mini Trans Jakarta yang menggantikan Kopaja AC. Jalan di Jogja banyak yang satu arah, sehingga apa yang dilewati bus saat berangkat, maka saat pulang, jalan itu tidak lagi dilewati bus yang sama.

Pilihan alternatif andalan adalah becak, namun saya termasuk orang yang agak malas kalau urusan tawar-menawar, karena saya kurang tahu harga standar per jarak tertentunya berapa.

IMG_20160703_171534

Saya pun akhirnya mencoba Gojek di Jogja. Syukurlah rate harga berdasarkan jaraknya masih masuk akal. Malah bisa lebih murah daripada becak. Lebih cepat pula. Saya coba berangkat jam 5 pagi, dan ternyata tidak perlu menunggu lama, langsung ada Gojek yang datang menjemput. Dari rumah saya di sekitar Mangkubumi hingga Kilometer Nol, saya membayar Rp.15.000,00.

Ngobrol-ngobrol dengan salah seorang pengemudi, ia bercerita kalau hingga kini ada 1.400 pengemudi Gojek tersebar di Jogja, dan akan bertambah 300 pengemudi lagi.

Meski pengemudinya tersebar tidak hanya di tengah kota, tapi konsumen penggunanya masih lebih banyak di kota. Akhirnya para pengemudi Gojek itu pun lebih banyak mengambil order di kota. Si pengemudi Gojek berpesan, tapi ia tetap bisa mengantar sampai Bantul atau Kulon Progo. Seperti aturan di Jakarta, batas maksimal pengantaran adalah 25 km.

IMG_20160705_060629

Pengemudi Gojek lain cerita ke saya kalau di Jogja masih sering terjadi konflik antara Gojek dan ojek tradisional, terutama di tempat-tempat umum seperti bandara. Hmm, saya jadi bertanya-tanya, kayaknya saya sudah nggak pernah mendengar konflik semacam ini di Jakarta ya?

Saat saya turun dari Gojek, si pengemudi mengingatkan saya untuk memberi rating. Katanya, rating ini berperan penting demi kelangsungan pekerjaannya. Pengemudi yang mendapat rating rata-rata 4,2 akan dipermasalahkan oleh manajemen. Jadi saran saya, kalau teman-teman memang puas dengan layanan pengemudi Gojek, jangan pelit untuk memberikan bintang 5 ya.

4 thoughts on “Menggunakan Gojek di Jogja”

  1. Kalo blusukan, memang mending gojek… tp, kalo jalan2 utama yg dilewati trans jogja, mending trans jogja…
    Gojek jogja yg saya pakai (3-4x) rata2 lbh ramah dibanding gojek sby misalnya…
    Harusnya ojek konvensional ga usah meri sm gojek, sm2 cari rejeki kok…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge